back
Serambi MADURA https://zkarnain.tripod.com/
Internet Based Life-long e-Learning Environment
for Maintaining Professional Vitality

Radar Madura
Kamis, 19/10/2000
Jawa Pos


Angin Puyuh, Rumah Warga Berantakan

SUMENEP - Hujan pertama turun di Sumenep meminta korban. Kali ini menimpa penduduk Dusun Lembung Desa Nambakor Kecamatan Saronggi. Sebanyak 7 rumah berantakan diterpa angin puyuh pada Selasa dini hari pukul 01.00 WIB. Dari 7 rumah hanya satu rumah milik Bu Munati yang ludes rata dengan tanah. Enam rumah yang rusak genting milik Zali, Said, Ibrahim, Rahem, Zubahri, dan Sulam.

Hasyim, salah satu warga Dusun Lembung tidak menyangka kejadian naas itu akan menimpa rumah penduduk. Diceritakan tepat pukul pukul 00.30 WIB mendengar suara krubuk dari luar rumahnya layak suara pesawat heli yang akan mendarat. Karuan, warga sekitar terbangun dari tidur lelapnya. Semua keluar rumah berteriak ketakutan sambil mengumandangkan adzan untuk mengusir angin puyuh itu.

Semua perabot rumah seperti peralatan dapur, kursi, lemari semuanya hancur berantakan rata dengan tanah. Nyaris Tidak ada barang berharga yang tersisa akibat angin puuh itu. Hanya puluhan genting yang bisa dipakai dan bahan bangunan lainnya. Munati belum bisa menaksir jumlah kerugian yang dideritanya.

Bencana angin puyuh ini selmat tidak meminta korban. Untungnya kejadian naas itu tidak ada penghuni rumah. Hanya ada ibu Munati, Bu Azizah (55) yang selamat dari pusaran angin puyuh. Bu Azizah cepat keluar rumah menjerit minta tolong menjelang rumah akan roboh.

Kejadian angin puyuh ini baru pertama kali menimpa warga Dusun Lembung yang berdekatan dengan Pinggirpapas yang terletak ditengah ladang pegaraman. Menurut Asy'ari, pada tahun sebelumnya angin puyuh selalu muncul siang hari. Kepercayaan masyarakat setempat, bila palak taon (angin puyuh Red.) warga berhamburan mengejar dan mngusir angin puyuh itu sambil lalu mengumandakangkan adzan. "Sayang kedatangan angin puyuh pada malam hari. Seandainya siang hari, pasti saya usuir," Martawi dan warga lain yang membenarkan.

Rumah Munati dihuni 7 keluarga besar. Munati dan sanak keluarganya itu kebetulan tidak ada di rumah. Ketika itu, Munati sekelurga sedang bekerja di Sampang.

Munati mengaku orang paling susah di desanya. Tidak ada lagi yang bisa dirais dari bencana angin puyuh ini. "Saya paling susah sekarang pak. Piring saja saya tidak punya. Semua barang milik saya ludes," ujar Munati sembari menetes air mata saat menyusui anak keduanya kepada Radar Madura.

Mata pencaharian munati sebagai buruh sewaan PT Garam di pegaraman Sampang. Dia bekerja bersama suaminya Hasan dan lima sanak keluarganya. Rumah itu dihuni tujuhkeluarga besar. Kini Munati dan saudaranya harus menumpang dirumah saudaranya.

Sementara itu, Camat Saronggi Drs Abdurrahman saat diinformasikan kejadian warganya mengaku sangat trenyuh akibat korban angin puyuh yang menimpa Munati. Karena itu, sejak menerima informasi dari Kades Nambakor Jufri, Camat Abdurrahman langsung meinformasikan ke Dinas Sosial Pemkab Sumenep untuk meminta bantuan untuk meringankan beban yang diderita korban angin puyuh. (ham)