back
Serambi MADURA https://zkarnain.tripod.com/
Internet Based Virtual Life-long Learning Environment
for Maintaining Professional Vitality

UTAMA
Rabu, 26 Januari 2000
Surabaya Post


Setahun Pengungsi Sambas di Madura

Beras Zakat Tiga Kg Menjadi Begitu Berarti

Para pengungsi Sambas yang berada di Kab. Bangkalan dan Sampang, kini sudah hampir satu tahun tinggal di penampungan. Bagaimana kehidupan mereka? Wartawan Surabaya Post, Kasiono, melaporkan dalam dua tulisan.

DARI sekitar 23 ribu pengungsi kerusuhan di Kalbar, hingga kini sebagian besar masih bertahan di tempat-tempat penampungan di Bangkalan dan Sampang. Baru sebagian kecil yang sudah meninggalkan Madura. Ada yang diajak bekerja saudaranya di Jakarta, Surabaya, Malaysia, Sumatera, Sulawesi, bahkan ada yang sudah berani kembali ke Kalbar.
Selama beberapa bulan hingga sekarang, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari mereka masih menggantungkan bantuan. Bantuan dari Pemerintah (Depsos, saat itu) selama 70 hari sudah berakhir menjelang puasa atau awal Desember 1999.
Bantuan Pemerintah Pusat itu berupa beras 400 gram/hari per jiwa, uang lauk-pauk Rp 1.500/hari per jiwa (walau kenyataan di lapangan distribusi jatah itu tidak merata). Bantuan itu diserahkan sebulan sekali. Ada di satu desa pengungsi cuma dapat uang Rp 20 ribu/jiwa, beras 5 kg. Padahal mereka seharusnya mendapatkan utuh, beras 12 kg/jiwa per bulan, uang Rp 45 ribu/jiwa per bulan.
Pemberian jatah bagi pengungsi tidak sebesar hitungan pemerintah bisa dimaklumi. Karena dana bantuan dibuat berdasarkan data lama, sedang saat dana mencair jumlah pengungsi sudah membengkak. Jika besar uang dan beras yang diterima pengungsi berkurang sedikit, tak masalah, namun kalau dipotong hingga separo itu agaknya kurang wajar. Sehingga di antara mereka ada yang mengadu ke DPRD Bangkalan, namun tidak ada tindak lanjut di lapangan.
Pengungsi sebenarnya tidak terlalu memusingkan, apakah bantuan yang diterima sudah sesuai dengan yang ditetapkan pemerintah atau tidak. Karena mereka sudah makfum, yang namanya bantuan dari pusat, setelah sampai pada yang berhak ada kebocoran, itu sering dijumpai di mana-mana.
"Bagi pengungsi yang penting setiap hari ada yang dimakan, walau cuma sekali saja, tidak harus tiga kali. Biarlah soal bantuan tidak utuh yang kami terima, itu sudah berlalu. Yang kami pikirkan sekarang, bantuan dari pemerintah pusat (Depsos) sudah habis, terakhir seminggu sebelum puasa," kata Siri (80), salah satu pengungsi yang ditampung di barak bantuan Pemda Bangkalan, Desa Katol Barat, Kec. Geger.
Siri bersama istri dan lima anaknya, kini sudah kehabisan bekal makanan. Hal semacam ini juga dialami pengungsi Sambas lainnya terutama di sederetan barak berisi 10 unit dengan ukuran masing-masing 3 x 3 meter ini.
Sudah sebulan lebih belum ada bantuan lagi baik dari Pemda maupun para dermawan. Selain itu tempat penampungan yang menempati lahan percaton Desa Katol Timur ini, lokasinya memang jauh dari permukiman penduduk.

Menantu Tewas

Lebih-lebih yang dialami Jahari (67), tetangga Siri di penampungan barak ini. Karena di samping membawa istri, dia dibebani enam cucu yang sudah yatim dari dua putranya dan menantunya yang tewas dalam kerusuhan di Sambas. Yang tertua umur 11 tahun, lainnya kecil-kecil lima tahunan.
"Saya menangis bersama istri dan cucu saya, pada waktu menjelang Lebaran lalu, karena memang tidak tahan. Sudah susah kehilangan anak, mengasuh banyak cucu, lebih-lebih tidak ada yang dimakan. Masih untung ada Pak kepala desa (Kades) dan warganya memberikan beras zakat fitrah masing-masing 3 kg, untuk di makan saat Lebaran," ujar pengungsi yang sejak kecil merantau ke Sambas, sambil mengelus-elus kepala cucunya yang berumur 2 tahun.
Dia bersama cucunya rata-rata sehari makan sekali pada siang hari, setelah bantuan dari Depsos sudah habis. Itu pun bukan makan nasi, tetapi makan ala kadarnya dari jagung dicampur singkong, diberi penduduk setempat yang kehidupannya juga pas-pasan. Makanan tanpa ikan paling kalau ada ikan asin dan sambal cabai, disantap bersama istri, anak, dan cucunya duduk di dalam rumahnya yang kecil itu.
"Mau bekerja apa di sini, tanah tidak punya, kenalan tak ada, jauh dari kota kecamatan. Di daerah ini tidak ada yang dikenal, karena sejak kecil memang merantau. Mau bekerja ke luar sini, kasihan cucu yang kecil-kecil, serba susah memang," katanya menatap kosong ke depan.
Memang sebagian ada yang bekerja seadanya. Seperti membantu penduduk setempat, yang kebetulan bulan-bulan ini ada yang sudah memanen jagung atau singkong. Mereka akan mendapatkan upah barang makannan untuk keluarganya.
Mereka sebenarnya tidak terlalu menggantungkan pada belas kasihan orang. Seperti beberapa waktu lalu selama dua bulan, 100 pengungsi diberi kesempatan membersihkan kali Bangkalan. Dengan imbalan harian Rp 14 ribu bersih ditambah makan dan menginap di kantor transmigrasi.
Setiap dua minggu bergantian antara pengungsi yang berminat. Begitu pekerjaan padat karya dari Dinas Pengairan Tk. I Jatim, selesai, mereka kini menganggur lagi.
Mendapat kenyataan pahit di tempat pengasingan yang merupakan tanah leluhurnya sendiri, mereka lama-lama tidak betah juga. Sebagian besar, kalau tidak dikatakan seluruhnya, pengungsi ingin kembali ke Kalimantan.
Mereka semuanya di perantauan memang orang-orang sukses, memiliki rumah permanen bagus, tanah pertanian berpetak-petak, ternak beberapa ekor, dan kekayaan lainnya. Sedang di pengasingan mereka ditampung di rumah penduduk, di barak yang pengab, asing dengan sekelilingnya.
"Saya tidak kerasan di Madura, ingin kembali ke Sambas. Coba ada jaminan aman, saya langsung balik hari ini juga. Tetapi repot juga tidak punya uang untuk ongkos. Iya kalau dulu, naik kapal laut gratis, karena sebagai pengungsi," kata Jahari yang amat rindu kampung halamannya di Sambas. (bersambung)

top

Stok Pangan Habis, Ya Peluang Merayu Dermawan

TRAGEDI boleh sama tapi rezeki tetap saja berbeda. Bila pengungsi korban kerusuhan Sambas di penampungan Desa Katol Barat, Kec. Geger, Bangkalan, hidupnya begitu terlunta-lunta, pengungsi di barak Desa Katol Barat, Kec. Kokop, tidak begitu mengenaskan.

Desa yang terbanyak pengungsinya (sekitar 4.000 jiwa) itu sering didatangi pejabat pusat dan daerah. Bahkan banyak pula dermawan. Sudah bisa dipastikan setiap ada kunjungan, ada bantuan sembako, malah uang.
Namun karena bantuan itu sifatnya sporadis tetap saja kekurangan makanan. Untuk itu mereka dituntut tetap kreatif dan mau bekerja keras. Seorang pemuda di penampungan, misalnya, berinisiatif memanfaatkan kunjungan setiap tamu ke tempatnya.
"Saya sering meminta bantuan pada dermawan melalui kenalan mahasiswa, dosen, dan lainnya. Makanya jangan heran kalau di penampungan ini sering dikunjungi orang yang bawa bantuan makanan," kata Saweki (25), pemuda itu.
Dia yang menjadi wiraswasta di Sambas secara pribadi tidak terlalu kesulitan mencari makanan sebab setiap ada peluang di Desa Katol Barat, yang ada imbalan uang atau makanan, selalu dia kerjakan. Misalnya dipercaya menjadi pengawas perusahaan BUMN yang membangun rumah semi permanen bantuan Departemen PU melalui Cipta Karya beberapa waktu lalu. Selain itu sering juga dia diminta bantuan menjadi sopir kades setempat.
Juga pernah beternak jangkrik. Namun sayangnya begitu sudah besar-besar, tidak ada yang membelinya sehingga usaha ini dihentikan. Karena itu dia heran dengan para pengungsi yang hanya mengandalkan bantuan dari pemerintah dan dermawan sebab masih banyak yang bisa dikerjakan untuk mendatangkan rezeki.
Meski demikian, dia memaklumi sikap pengungsi yang apatis itu mengingat sulitnya hidup di tempat pengungsian. Yang bisa bekerja paling yang ditampung di rumah-rumah saudaranya. Paling tidak mereka bisa membantu usaha familinya itu. Selebihnya menunggu uluran para dermawan.
"Bahkan ada yang diajak sanak keluarganya bekerja di Jakarta, Surabaya, sampai Malaysia. Tapi inilah kenyataan, kami memang amat butuh uluran tangan orang untuk makan. Apalagi bantuan dari Depsos yang terakhir diterima November 1999 kini sudah tidak ada, ya kelimpungan. Kami berharap bantuan dari pemerintah itu segera turun," katanya berharap.

Bantuan Habis

Keluhan kekurangan pangan juga dialami pengungsi lain. Seperti yang diutarakan Kades Galis Dajah, Kec. Konang, H Abd. Syakur, sudah sebulan lebih warga di penampungan tidak dapat bantuan beras. "Saya kira sama dengan desa lain, pengungsi sudah lama tidak dapat bantuan beras. Apalagi di desa saya ini, yang lokasinya berada di pegunungan, sulit dijangkau dari segala arah," katanya.
Para pengungsi juga tidak tahu bila Pemda Jatim mengalokasikan anggaran sebesar Rp 500 juta untuk kebutuhan pangan hingga akhir Januari 2000 --setelah bantuan Depsos habis. Karena itu mereka berharap agar pemda segera membantunya.
"Kami minta tolong diinformasikan kalau bantuan dari pemerintah sudah tidak ada lagi. Kasihan warga saya, kadang makan, kadang tidak. Habis warga sekitarnya juga sama miskinnya, dari mana bisa membantu," katanya.
Kabag Humas Pemda Bangkalan, Ir Abd. Syakur, mengatakan bantuan dari Pemerintah Pusat bagi pengungsi Sambas belum ada. Sedang dari Pemda Bangkalan sebesar Rp 500 juta telah teralokasikan bagi keperluan pengungsi.
"Kondisi keuangan pemerintah memang sulit. Seharusnya sekarang pengungsi bisa mencari pekerjaan, jangan terlalu menggantungkan pada pemberian orang lain," ujarnya.
Pemda Bangkalan sudah berupaya agar pengungsi Sambas bisa mandiri. Seperti diarahkan bekerja di sebuah perusahaan milik orang Madura di Gorontalo yang membutuhkan ratusan karyawan.
Begitu pula di perusahaan perkebunan milik perusahaan BUMN di Medan. Malah diberi fasilitas gaji yang mencukupi, tempat tinggal bersama keluarga, diangkat menjadi karyawan.
Namun mereka enggan bekerja di tempat itu, bahkan yang sudah berangkat baru dua bulan sudah kembali lagi. "Kalau sudah begini mau diapakan lagi," jelasnya.
Hal senada disampaikan Drs Mustahal, Ketua Komisi E DPRD setempat, yang menangani kesejahteraan masyarakat termasuk pengungsi Sambas. Dia mengatakan sering didatangi pengungsi untuk melaporkan masalah bantuan. Kepada mereka dia mengarahkan agar mau bekerja apa saja sehingga tidak terlalu menggantungkan orang lain. "Tapi walau bagaimana kami tetap akan menanyakan pada Pemda. Agar setiap ada bantuan dari dermawan atau pemerintah supaya segera disampaikan pada pengungsi dan diterima utuh," tegasnya.
Menangani pengungsi memang dilema bagi pemda. Apalagi kini jumlahnya semakin banyak sehingga bantuan pemerintah pusat sulit turun. Sedang memberi pekerjaan padat karya yang sifatnya sporadis hanya jika ada proyek turun.
"Ini memang dilema. Mereka diarahkan bekerja di tempat lain enggan, ingin kembali ke Sambas. Sedang di sisi lain Pemda tidak punya anggaran untuk terus-menerus membantu pengungsi," kata Bupati Bangkalan, Moch. Fatah.
Kurang pangan bagi mereka akan menambah masalah baru. Kurang gizi dan bisa terserang penyakit, terutama bagi balita. Beberapa waktu lalu sudah 10 anak kekurangan gizi bahkan sempat dirawat di rumah sakit. Mereka yang terserang diare, demam, dan gatal-gatal itu sulit cari pengobatan. Padahal Pemda melalui Dinas Kesehatan Bangkalan setiap kunjungan lapangan meminta agar pengungsi memeriksakan kesehatannya ke Puskesmas secara gratis.
"Saya pernah sakit perut beberapa hari, bahkan dua hari mau pingsan. Akan berobat ke Puskesmas tidak bisa, katanya harus mempunyai kartu periksa. Akhirnya berobat tradisional seadanya yang didapat di sekitar penampungan ini," kata Pak Jahari salah satu pengungsi di Kec. Geger. (Kasiono)