back
Serambi MADURA https://zkarnain.tripod.com/
Internet Based Life-long e-Learning Environment
for Maintaining Professional Vitality

Jawa Timur
Selasa, 21 November 2000
KOMPAS


Mengais Rezeki di atas Feri

"Maaf, mas. Saya harus berjualan lagi," ujar Nur Atim (27), penjual kerupuk rambak sapi, di atas kapal penyeberangan Ujung-Kamal. Atim pun dengan sopan mohon diri, agar tidak terus tersita waktunya hanya untuk wawancara, sementara barang dagangannya masih banyak yang belum terjual.

Nur Atim, penjual kerupuk rambak sapi, setiap hari bangun pagi-pagi, karena sudah harus bersiap diri, menjajakan barang dagangannya di atas kapal feri Ujung (Surabaya)-Kamal (Madura).

Sudah setahun ini, Nur Atim, penduduk Desa Bangsal, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, mengais rezeki dengan berjualan kerupuk rambak sapi di atas kapal feri. "Sebenarnya, saya pernah bekerja di pabrik, tetapi upahnya kecil dan tidak mencukupi hidup sehari-hari," ujar Nur Atim yang ditemui Kompas, hari Senin (20/11) dalam penyberangan Ujung-Kamal.

Feri angkutan penyeberangan Ujung-Kamal dan sebaliknya, telah puluhan tahun menjadi alternatif para pencari nafkah, termasuk Nur Atim. Berjualan di atas feri, telah menjadi sumber penghidupan sehari-hari. "Pukul empat pagi saya sudah harus berangkat dan pulang tengah malam, kalau lagi sepi pembeli," ujarnya.

Nur Atim mengaku, rata-rata pendapatan per hari dari berjualan kerupuk rambak sapi per bungkus plastik Rp 500, bisa mengantungi keuntungan Rp 25.000. Namun, jika keuntungan itu dikurangi untuk mengisi perut dan ongkos naik MPU dan bus pulang-pergi Rp 10.000, Nur Alim pulang ke rumah hanya membawa uang Rp 15.000. "Kadang-kadang saya ndak makan," ujarnya.

Setiap hari, Nur Atim membawa barang dagangan kerupuk rambak sapi sekarung plastik besar. Rambak sapi yang dibelinya di desa seharga Rp 300 tiap bungkus dijual dengan harga Rp 500, sehingga Nur Atim mendapat untung Rp 200 per bungkus.

***

Nur Atim, adalah satu dari puluhan orang lain yang menggantung hidup di atas feri penyeberangan Ujung-Kamal. Puluhan orang lain menggantung hidup seperti Nur Atim. Ny Sulimah (35), penjual nasi bungkus yang ditemui mengaku sudah berjualan di atas feri sejak 1990. "Untungnya, ya ndak tentu. Kadang dapat Rp 10.000, kadangkala cuma dapat Rp 7.000. Belum lagi kalau ada operasi penertiban, bisa-bisa barang jualan dibuang ke laut," ujarnya.

Sulimah, tidak punya pilihan lain untuk menghidupi anak-anaknya, kecuali berjualan nasi bungkus di atas kapal feri.

Pemandangan penjual makanan di atas feri ini sudah menjadi fenomena perekonomian lapisan pinggiran. Pihak pengelola ASDP tidak berani berbuat lebih jauh untuk menertibkan mereka, apalagi sampai harus menggusur dari kapal feri. "Memang ada larangan untuk berjualan di feri. Tetapi kalau kami harus menggusur mereka, ya susah Mas. Tidak manusiawi rasanya," ujar petugas ASDP. (tif)

Berita jatim lainnya: