back
Serambi MADURA http://zkarnain.tripod.com/
Internet Based Life-long e-Learning Environment
for Maintaining Professional Vitality

Metropolis
Selasa, 10/10/2000
Jawa Pos


Dekan Fakultas Kedokteran
Universitas Wijaya Kusuma Juga Mundur

Kecewa karena Yayasan Tak Mau Lengkapi Peralatan Laboratorium

SURABAYA - Para petinggi Universitas Wijaya Kusuma (UWK) mulai mrotoli. Setelah Warsito Rasman MA mundur dari jabatan rektor, kemarin Dekan Fakultas Kedokteran (FK) Prof Dr dr Kusdianto Tantular menyusul. Seperti Warsito, Kusdianto mundur karena merasa tak cocok terhadap sikap yayasan yang keberatan mengucurkan dananya untuk melengkapi beberapa peralatan untuk FK.

Posisi Kusdianto kemarin secara resmi digantikan oleh pejabat caretaker dr R Wirjono Prasodjo yang juga pejabat PR I UWK. Pelantikan caretaker dekan FK itu dilakukan oleh Pejabat Rektor UWK Drs H Widarto. Wirjono diberi waktu satu bulan hingga terpilihnya dekan FK yang baru.

Menurut Kusdianto, pengunduran dirinya itu dilakukan, karena ia tak ingin disalahkan jika FK kehilangan akreditasi B (disamakan) akibat peralatan laboratotium dan penelitiannya kurang. ''Tak lama lagi akan ada tim akreditasi yang meninjau FK UWK. Jika peralatan laboratorium, buku-buku, dan jurnal tidak ada, akreditasi FK UWK bisa hilang.''

Dia mengaku sudah berulang kali mengajukan pengadaan peralatan dan buku-buku kepada yayasan sejak setahun lalu. Tapi, yayasan tak pernah memenuhinya. ''Karena itu, saya tak ingin dipersalahkan kalau akreditasi FK nanti hangus,'' jelas Kusdianto yang pada 20 Oktober mendatang akan menerima penghargaan dari Menkes.

Jika akreditasi itu hilang, ujar dia, yang rugi adalah mahasiswa. Jika tak lagi dapat akreditasi B, maka ujian mahasiswa tidak lagi bisa dilakukan secara mandiri seperti saat ini, tapi harus ujian negara. ''Itu akan lebih membebani mahasiswa. Padahal, mereka masuk ke sini sudah dengan biaya mahal,'' katanya.

Pada tahun ajaran 2000/2001 ini, 133 mahasiswa baru UWK harus membayar sumbangan pendidikan sebesar Rp 25 juta per orang. Sedang tahun sebelumnya, setiap mahasiswa dikenakan Rp 20 juta. ''Kalau kemudian peralatan penelitian dan laboratoriumnya tidak dilengkapi, terus untuk apa uang dari mahasiswa itu? Kasihan mahasiswanya kan? Apalagi kalau sampai akreditasinya nanti turun atau dihapus,'' tandasnya.

Kusdianto menambahkan, bahwa pengunduran dirinya itu sebenarnya telah diajukan sejak Juni lalu. Ia minta agar per 1 September dirinya disetujui mundur dari jabatan dekan FK. Namun, oleh Warsito, rektor UWK saat itu, dirinya digandoli dengan jaminan bahwa tanggung jawab pembelian perlengkapan beserta peningkatan kesejahteraan pegawai akademik dan nonakademik diambil alih rektor. Sayangnya, rektor yang menjamin itu kini sudah mundur juga. (cho)