back
Serambi KAMPUS http://zkarnain.tripod.com/
Internet Based Life-long e-Learning Environment
for Maintaining Professional Vitality

Webmaster

R. Iskandar Zulkarnain
Chief Executive Editor

Informasi

PadepokanVirtual

URL

http://w3.to/padepokan
http://welcome.to/madura
http://travel.to/kampus

Surabaya Post
UTAMA - Kamis, 28 September 00

Pengusaha Besar Itu Telibat Tindak Kriminal

Pengusaha Sekap Nenek Istri

Kisah Bh, tersangka pelaku penyekapan dan penganiayaan Hj Nasuha -- nenek Nur Chomariyah istri nomor empatnya -- bagai kisah dalam telenovela. Maklum, siapa pun yang mengenal sosok Bh pastilah sulit mempercayai, jika pengusaha besar dengan tiga perusahaan tenaga kerja dan pelayaran yang menguasai pelabuhan Tanjung Priok itu terlibat dalam tindak kriminal. Berikut laporan wartawan Surabaya Post, Dwi Eko Lokononto.

SEBAGAI pengusaha, Bh kini mempekerjakan tidak kurang dari 9.500 karyawan. Dia juga menghidupi sekitar 2.500 anak yatim piatu. Juga tak terhitung berapa banyak tempat ibadah yang telah ia bangun, baik di sekitar tempat tinggalnya di kawasan Tanjung Priok, maupun di Madura, daerah asalnya.
Tak hanya itu, Bh juga dikenal sebagai pengusaha yang rajin membantu pengamanan yang digelar aparat keamanan DKI Jakarta.
Karena itu ada yang menduga kasus yang kini sedang ditangani Polda Jatim itu merupakan hasil rekayasa pesaing bisnis Bh. Keyakinan itu pula yang menyebabkan beberapa tokoh berusaha meminta penangguhan penahanannya.
Kepada penyidik, Bh yang menyangkal semua tuduhan yang menimpa dirinya, melihat penetapannya sebagai tersangka tidak lebih dari sekadar fitnah. "Ini hanya fitnah. Fitnah," kata Bh seperti ditirukan Kabag Reserse Umum Polda Jatim Superintendent (Letkol) Drs Anton Charliyan saat mendampingi Kaditserse Polda Jatim Senior Superintendent (Kolonel) Drs Suharto SH, Kamis (28/9) siang tadi.
Keyakinan yang sama diungkapkan paman Bh, H Wahab. Menurut Wahab, keponakannya itu punya jiwa sosial yang sangat tinggi dan hatinya mudah tersentuh melihat penderitaan orang lain.
"Karena itu saya tidak yakin, dia terlibat dalam penyekapan dan penganiayaan. Saya datang untuk membesuk," kata H Wahab.
Menurut dia, Bh merintis usaha setelah ayahnya H Layu meninggal dunia. H Layu yang bekerja pada sebuah perusahaan pelayaran dari Jepang, meninggal setelah kapal yang dipegangnya tenggelam pada tahun 1980.
Bh yang saat itu berusia 25 tahun, nekat pergi meninggalkan Kec. Arosbaya Madura. Ia merantau ke Jakarta dan bekerja pada perusahaan pelayaran tempat ayahnya dulu bekerja. Setelah menggelandang dan hidup susah di Jakarta, tahun 1986, Bh melanjutkan jadi pengembara hingga Singapura. Ia mencari kantor cabang perusahaan pelayaran Jepang di Singapura. "Dia pergi tanpa bekal. Untungnya ia bertemu Mr Lie, kepala perwakilan Singapura," kata H Wahab.
Setelah memperkenalkan diri sebagai anak H Layu, Bh diterima kerja. Singkat kata, karena ia bekerja keras dan jujur, karier Bh menanjak hingga akhirnya diminta untuk menangani pelabuhan Tanjung Priok. Hebatnya yang mempercayai termasuk big boss dari Jepang.
Kini, tidak sampai 15 tahun Bh telah punya tiga perusahaan sendiri. Kapal ikannya jumlahnya ratusan. Ia juga menjadi pemasok tenaga kerja untuk perusahaan pelayaran yang membutuhkan SDM.
"Hampir semua perusahaan pelayaran Jepang jika ke Indonesia, mempercayakan penanganan, termasuk penyediaan tenaga kerjanya pada perusahaan Bh. Jadi bisnisnya maju pesat," jelasnya.
Dengan reputasi seperti itu, tidak heran jika banyak orang --termasuk tokoh-tokoh berpengaruh di negeri ini-- ikut prihatin saat Bh ditangkap Polda Metro Jaya atas tuduhan melakukan perkosaan dan penculikan. Tak hanya itu, dalam proses perdamaian antara Bh dengan keluarga besar H Hasan, para tokoh ini ikut membantu memberi jaminan.
Namun menyusul tewasnya H Hasan, setelah proses perdamaian di Polda Metro, ada tokoh yang mengungkapkan penyesalannya telah menolong Bh. Tokoh yang acap muncul di TV ini bahkan telah mendatangi Polda Jatim sebelum Bh tertangkap.
"Sebagai pengusaha besar yang sukses tidak ada yang meragukan jiwa sosial Bh. Tetapi karena dia dilaporkan telah melakukan penyekapan dan penganiayaan, kami tetap menangani kasus ini secara profesional," kata Anton Charliyan.
Proses hukum ini tentu masih akan memakan waktu panjang. Namun pihak Polda Jatim sendiri keyakinannya kian kuat bahwa tuduhan terhadap Bh bukan mengada-ada. Keyakinan ini menyusul ditemukannya mobil Toyota Kijang yang diduga telah dipergunakan mengangkut Hj Nasuha dari Bandara Juanda menuju tempat penyekapan dan penyiksaan di Arosbaya, Bangkalan. "Barang bukti berupa mobil kijang telah kami bawa ke Polda Jatim. Kami juga menyita barabg bukti lainnya dari kamar di rumah Bh yang diduga menjadi tempat penyekapan dan penyiksaan," kata Anton. Bagaimana akhir kasus ini, waktu nanti yang akan membuktikan.

Bermula dari Perkawinan Ala Siti Nurbaya

Berantakan. Itulah ungkapan kehidupan keluarga besar almarhum H Hasan. Karena ketakutan menyusul tewasnya H Hasan akibat perseteruannya dengan Bh, kini keluarga besar yang jumlahnya lebih dari 30 orang itu bersembunyi.

Karena tidak berani keluar rumah, hampir semua anggota keluarga H Hasan tidak lagi punya pekerjaan. Bahkan yang masih sekolah pun, terpaksa drop out.
"Mereka kini hidup dalam keterbatasan karena tidak ada lagi penghasilan. Mereka hidup dari menjual perhiasan dan perabot rumah," kata Kabag Reserse Umum Polda Jatim Superintendent (Letkol) Drs Anton Charliyan saat mendampingi Kaditserse Polda Jatim Senior Superintendent (Kolonel) Drs Suharto SH, Jumat (29/9).
Kondisi mengenaskan keluarga besar almarhum H Hasan ini terungkap saat tim penyidik Polda mengambil kesaksian mereka di Jakarta. Saat itu penyidik sempat membawa mereka ke sebuah rumah makan. Namun tak satu pun keluarga almarhum yang mencicipi hidangan. Mereka memilih membungkus jatah makan mereka.
Dalam pemeriksaan selanjutnya jadian unik ini terulang lagi. Semua makanan dibungkus pulang. "Saat itu ada yang sempat tanya, silakan dimakan saja. Nanti kalau perlu dibungkus, biar dibungkuskan lagi," kata Anton.
Saat itulah, Ny Hasan tidak kuasa menahan tangis. Dengan terbata-bata ia mengungkapkan, sudah tiga bulan ini hidup mereka sangat kekurangan. "Makanan itu kami bawa pulang karena kami kasihan dengan yang tinggal di rumah. Mereka tidak pernah lagi makan makanan enak. Kami sudah tidak punya penghasilan lagi," tuturnya.
Dijelaskannya, keluarganya hampir semua telah berhenti dari pekerjaannya karena merasa keselamatannya terancam jika keluar rumah seorang diri. "Mereka takut dianiaya kroni tersangka Bh," kata Anton.
Di mata keluarga besar H Hasan, Bh yang telah menganiaya Hj Nasuha hingga lumpuh merupakan sosok yang menakutkan. Mereka juga yakin terbunuhnya H Hasan di Madura --setelah 20 tahun tidak pernah pulang-- juga akibat ulah orang-orang suruhan Bh. Padahal, Bh adalah menantu H Hasan karena mempersunting dua putrinya Nur Chomariyah dan Wahyuningsih.

Incar Adik Istri

Perkawinan antara Bh dengan Nur Chomariyah dan Wahyuningsih itu sendiri punya cerita yang panjang. Menurut keterangan saksi, Bh yang telah punya tiga istri melamar Nur melalui H Hasan yang tidak lain adalah pegawai kepercayaan Bh.
Ketertarikan Bh, pengusaha dengan dengan aset miliaran rupiah itu, pada Nur bisa dipahami. Maklum secara lahiriah Nur yang berdarah Madura ini memang cantik dan menarik. Apalagi Nur juga gadis sekolahan, saat disunting Bh ia sedang menempuh pendidikan di Universitas Admajaya Jakarta.
Pada awalnya Nur menolak lamaran Bh. Ia punya pandangan bukan lagi zamannya ada perkawinan ala Siti Nurbaya. Tetapi orangtuanya tetap mendesak agar Nur menerima pinangan Bh. Alasannya, jika lamaran itu ditolak, keselamatan keluarga mereka bisa terancam. Sebagai orang dekat Bh, H Hasan tahu persis siapa Bh dan apa risikonya jika menolak permintaannya.
Untuk mendekatkan Nur, orangtuanya menyarankan agar dia segera melamar kerja pada perusahaan Bh. Singkat kata, perkawinan itu terlaksana hingga membuahkan anak bernama Johan Andi Wijaya (kini berusia 3 tahun).
Namun rupanya Bh tidak hanya puas mempersunting Nur Chomariyah. Menurut kesaksian yang didapat penyidik, Bh juga mengincar adik kandung Nur Chomariyah, yakni Nur Chasanah.
Gagal mempersunting Nur Chasanah, Bh mengincar Wahyuningsih. Mengetahui hal itu, Nur Chomariyah tidak terima. Ia lari dari rumah. Perkawinan antara Bh dan Wahyuningsih (saat itu berusia 14 tahun) berlangsung di makam keramat di Condet.
Larinya Nur Chomariyah ini yang diduga membuat berang Bh. Ia dituduh telah memerintahkan kroni-kroninya untuk menculik Hj Nasuha yang tidak lain nenek Nur Chomariyah.
Hj Nasuha dibawa ke Madura dan disekap serta dianiaya di rumah Bh yang ada di Arosbaya, Bangkalan. Saat dibawa pulang ke Jakarta menyusul pulangnya Nur, kondisi Hj Nasuha sangat mengenaskan. Wanita yang telah berusia 63 tahun itu lumpuh.

Didamaikan

Mengetahui ibunya disiksa, H Hasan berontak. Ia melaporkan Bh ke Polda Metro Jaya menculik Hj Nasuha. Tak hanya itu, dia juga melaporkan Bh dengan tuduhan hendak memperkosa Nur Chasanah dan memaksa menikah anak dibawah umur.
Perkara itu, atas campur tangan beberapa tokoh, pada akhirnya memang bisa didamaikan. Namun perdamaian itu tidak berumur panjang. Tak lama kemudian H Hasan tewas.
Tudingan langsung mengarah pada Bh. Maklum sebelum pulang ke Madura, H Hasan menemui Bh di kantornya. Selain pamit, H Hasan juga meminta agar acara pulang kampung untuk menghadiri kondangan manten tidak diganggu.
Ternyata H Hasan tetap terbunuh. Sebelum tewas, H Hasan ditemui Tm -- telah ditangkap tim gabungan Polda Jatim dan Polres Bangkalan -- yang mengabarkan ada titipan dari Bh.
Rangkaian kejadian itu tentu saja membuat posisi Bh jadi tersudut. Meski demikian, aparat belum menyentuh Bh kaitan dengan pembunuhan H Hasan. Bh ditahan karena polisi menemukan kaitan antara dia dengan tindakan penyekapan dan penganiayaan Hj Nasuha.
"Soal dugaan terlibatnya Bh dalam pembunuhan belum kami tangani, meski kami sudah berhasil mengidentifikasi pelakunya. Itu berbeda dengan kasus penyekapan dan penganiayaan. Keterangan saksi cukup kuat untuk menjerat Bh," kata Kapolda Jatim Inspektur Jenderal Polisi (Mayjen) Drs Da'i Bachtiar SH.
Bh sendiri, seperti laporan Surabaya Post, Kamis (28/9), menolak semua tuduhan itu. "Ada pihak ketiga yang ingin menjatuhkan nama saya dan mengambil alih perusahaan saya. Saya difitnah," kata Bh.
Yang jelas keluarga besar almarhum H Hasan sedang menderita dan menuntut keadilan. Adalah tugas aparat untuk menyikap kasus ini. Yang jadi soal, benarkah Bh yang berdiri di balik kasus ini.

Skenario Musuh atau Ulah Kroni BH

TIDAK berbeda jauh dengan kehidupan keluarga besar almarhum H Hasan yang kini berantakan, nasib BH -- pengusaha pengerah tenaga kerja dan pelayaran -- kini juga tidak menentu. Bahkan mungkin kehidupan di balik terali besi akan dia jalani lebih lama dari yang dia perkirakan.
Maklum aparat kepolisian kini telah mengantongi kesaksian delapan orang yang merugikan BH. Dalam kesaksiannya mereka mengatakan kalau BH pernah berbicara secara terbuka, bahwa dia tidak perlu mencari Hj Nasuha selama Nur Chomariyah -- istri keempatnya, cucu Hj Nasuha -- belum pulang.
"Hj Nasuha ada di tangan saya. Jangan dicari. Percuma saja. Selama Nur belum pulang, Hj Nasuha tidak akan bisa ditemukan," kata BH, seperti ditirukan para saksi yang menghadiri pertemuan keluarga, menyusul raibnya Nur dan Hj Nasuha.
Lebih dari itu, polisi juga telah mengantongi keterangan dari penjaga rumah BH di Arosbaya, Bangkalan. Saat diperiksa penyidik, penjaga rumah BH mengakui kalau Hj Nasuha pernah tinggal di rumah BH sekitar satu minggu.
Padahal di rumah itulah, menurut Hj Nasuha, dia disekap dan dianiaya hingga lumpuh. Artinya, ada kesamaan kesaksian.
Namun saat didesak penyidik, para penjaga rumah BH tetap bersikukuh tidak mengetahui siapa yang telah membawa Hj Nasuha ke rumah itu. Para penjaga ini juga mengaku tidak mengenal siapa saja yang menyekap Hj Nasuha.
"Keterangan itu memang masih perlu dikembangkan dan diperdalam. Yang pasti, Hj Nasuha pernah disekap dan dianiaya di rumah itu. Boleh saja BH mengelak, tetapi mungkinkah Hj Nasuha dibawa ke rumah itu tanpa sepengetahuan BH?" kata Kapolda Jatim Inspektur Jenderal Polisi (Mayjen) Drs Da'i Bachtiar SH.
Kapolda membenarkan, nama BH juga dikaitkan dengan pembunuhan terhadap H Hasan. Namun hingga kini aparat belum mengaitkan kasus pembunuhan itu dengan BH.
"Hingga kini, baru Tamin yang berhasil ditangkap. Setelah tersangka lainnya tertangkap, bisa saja BH dijerat dengan kasus pembunuhan itu. Mungkin BH yang menyuruh menghabisi H Hasan," jelas Kapolda.
Tak hanya itu, BH juga dituding terkait dalam pembunuhan seorang tukang ojek. Menurut informasi, tukang ojek ini tewas terbunuh setelah mengeluarkan pernyataan yang menghina BH. Dalam kasus tewasnya tukang ojek ini, sudah ada dua orang yang ditangkap, masing-masing Husni dan Mahfud. Salah satu dari yang ditangkap ini, seorang klebun (Kepala desa) di Bangkalan.

Semua Bohong

Dalam semua kejadian itu, jejak keterlibatan BH dengan mudah terlihat. Dalam pembunuhan terhadap H Hasan, misalnya, juga hadir orang kepercayaan BH yang bernama Ayub.
"Ayub ada di lokasi pembunuhan," kata Nur Chomariyah.
Menghadapi semua tuduhan itu, BH tetap bersikukuh kalau dia sama sekali tidak terlibat. Ia melihat semua kejadian itu tidak lebih dari fitnah. Bahkan ia menduga, kejadian itu merupakan skenario orang yang menginginkan dirinya hancur dan bisa mengambil usahanya.
"Jangankan dengan Hj Nasuha, dengan kaum jompo lainnya saya ini selalu memberi perhatian. Di rumah saya, tiap hari Senin dan Kamis, saya selalu membagi beras dan uang Rp 5.000 buat kaum jompo," katanya.
BH menambahkan, tidak pernah terbetik dalam pikirannya untuk menyakiti Hj Nasuha. BH bahkan mengatakan, tiap bulan ia menopang kebutuhan Hj Nasuha. "Saat dia sakit saya juga yang menyediakan biayanya," katanya.
Bagaimana tentang pembunuhan terhadap H Hasan? Menanggapi pertanyaan itu, BH justru balik bertanya, "Apa keuntungan saya membunuh H Hasan? Sebelum pergi pun dia pamit pada saya, karena dia pegawai saya dan hendak menjemput anak saya --hasil perkawinan dengan Nur Chomariyah-- untuk ikut ke Madura."
Benarkah saat pamit H Hasan minta tidak diganggu selama ada di Madura? "Itu semua bohong. Apa kepentingan saya membunuh?" katanya sambil menutup wajah tanda tidak percaya telah menerima tudingan terlibat pembunuhan. Tentang tukang ojek yang terbunuh setelah mengeluarkan pernyataan yang menghina dirinya, BH hanya bisa tertawa. "Saya ini jarang pulang ke Madura. Kapan saya kenal tukang ojek," katanya.

Perbuatan Kroni?

Menyikapi bantahan BH, Kabag Reserse Umum Polda Jatim Superintendent (Letkol) Drs Anton Charliyan, mengatakan, pihak penyidik akan tetap berpegangan pada kesaksian dan bukti pendukung lainnya. "Memang ada beberapa pertanyaan mendasar dalam kasus ini. Yang paling mendasar, dalam semua kejadian jejak keterlibatan BH terlihat dengan mudah. Tetapi mengapa semua demikian transparan? Padahal, dari pemeriksaan terhadap BH, orang ini pintar. Apa mungkin dia melakukan penyekapan dan pembunuhan secara sembrono?," kata Anton.
Karena itu, kata Anton, pihak penyidik tetap tidak menutup kemungkinan semua kejadian itu hasil rekayasa musuh BH. Sayangnya, BH sendiri tidak secara terbuka menceritakan, siapa yang ia maksud dengan orang yang menginginkan nama baiknya hancur dan berniat mengambil alih bisnisnya.
"Orang yang ingin mengambil alih bisnis saya, saya sudah tahu. Tetapi saya tidak ingin bicara," kata BH.
Anton juga mencermati kemungkinan, rangkaian kejahatan itu, memang dilakukan kroni-kroni BH. Namun tindak kejahatan itu tanpa sepengetahuan BH. Kemungkinan ini, kata Anton, bisa saja terjadi mengingat sebagian pegawai BH memang orang yang pernah terlibat dalam tindak kejahatan. Sebagian bahkan pernah masuk penjara alias residivis.
"Bisa saja kroni BH ingin menunjukkan loyalitas pada big boss-nya dengan cara menyekap atau membunuh orang-orang yang telah dinilai mengkhianati BH. Semua itu bisa jadi tanpa sepengetahuan BH," kata Anton.
Meski demikian, Anton menilai, dalam penyekapan dan penganiayaan terhadap Hj Nasuha, BH sulit lolos dari jerat hukum. Pasalnya, kesaksian yang dikantongi polisi sangat kuat.
"Jika tidak terlibat, ada apa ia mengumpulkan keluarga besar H Hasan dan meminta agar Hj Nasuha tidak dicari sebelum Nur pulang. Kalimat itu diucapkan langsung oleh BH di hadapan banyak orang," kata Anton.
Apa pun yang nantinya terbukti, kini BH yang punya belasan rumah di kawasan Tanjung Priok harus rela hidup di penjara Polda Jatim sampai menunggu pelimpahan kasusnya pada pihak kejaksaan. Drama kehidupan BH masih akan panjang dan menarik diikuti. (Dwi Eko Lokononto)

atas