back
Serambi KAMPUS http://zkarnain.tripod.com/
Internet Based Life-long Learning Environment
for Maintaining Professional Vitality

Webmaster

Iskandar Zulkarnain
Chief Executive Editor

Informasi

PadepokanVirtual

URL

http://w3.to/padepokan
http://welcome.to/madura
http://travel.to/kampus

KOMPAS
OPINI - Jumat, 2 Juli 1999

Kearifan Spiritual
Oleh Sukidi

Spirituality, Yes, saya kira Naisbitt benar, dan memang harus dibenarkan. Tetapi, Organized Religion, No, saya kira Naisbitt "salah," dan memang harus "dikoreksi". Karena, hampir semua agama besar di dunia ini, entah itu Kristen, Islam, Yahudi, Hindu maupun Buddha, sudah terlembagakan secara formal. Maka, penolakan terhadap semua agama formal, berarti secara sengaja memilih menjadi "a-theis".

Hanya saja, harus diakui bahwa mayoritas agama-gama besar itu, cenderung menonjolkan ritus formal dan simbolis, sehingga terkesan kaku dan rigid. Padahal, justru dalam setiap agama formal itu, terkandung nilai-nilai spiritual. Oleh karena jarang digali dan dihayati oleh pemeluknya, sehingga agama-gama formal itu cenderung kering dari nilai-nilai spiritual. Padahal, dari sudut pandang metafisik-filosofis; Spirituality: the Heart of Religions (spiritualitas itu, justru hatinya agama-gama [formal]).

Rumusan metafisik-filosofis ini, makin absah kebenarannya saat saya terlibat diskusi bersama Brahma Kumeri Sudesh, direktur dari lebih 60 centres di the UK, Ireland and Germany, di Paramadina beberapa tahun yang lalu. Tak terbayangkan, betapa ratusan hadirin yang memadati "ruang pengajian" Paramadina, tampak begitu seriusnya terlibat dalam wacana mistik-spiritualitas. Katanya, spiritualitas itu adalah kebenaran, damai, kasih, kesucian, kebahagiaan, dan kekuatan di dalam kehidupan. Itulah sebabnya, Spirituality: the Heart of Religions.

Menengok ke Timur

Dunia mistik-spiritual ini, sekarang digairahi umat manusia. Lebih-lebih manusia modern Barat yang sedang menderita "kehampaan spiritual". Kegairahan pada dunia mistik-spiritual ini, kian menemukan keabsahannya, ketika seorang pakar dan teolog Harvard, Harvey Cox, (1977), menulis buku bagus sekali: Turning East: The Promise and Peril of the New Orientalism. Meminjam istilah Cox, Turning to the east, berarti "Menengok ke Timur". Ini sebagai pertanda kuat akan tingginya perhatian masyarakat dunia pada spiritualitas Timur atau model-model kearifan tradisi Timur, yang diyakininya bisa mengatasi krisis spiritual. Kearifan tradisi Timur yang berakar pada Taoisme di Cina, Buddhisme di Tibet, Hinduisme di India dan seterusnya, memang banyak menyediakan pusat-pusat spiritual yang sangat diperlukan untuk mengatasi krisis spiritual-sosial masyarakat dewasa ini.

Namun sebelumnya, kenapa akhirnya mereka menjatuhkan pilihannya pada dunia mistik-spiritual? Jawabnya tegas, masyarakat dunia sudah kecewa berat atas kegagalan modernisme Barat dalam memberikan makna hidup (the meaning of life) bagi keseharian hidup manusia. Dan satu lagi, pilihan pada mistik-spiritual ini, juga sebagai reaksi keras atas dosa-dosa sains, kapitalisme, imperialisme, dan segala sesuatu yang sifatnya eksploitatif terhadap diri manusia, lingkungan dan masyarakat. Karena, seperti diyakini sebagai general truth, fenomena eksploitasi justru hanya membuat manusia teralienasi (terasing), baik dari diri sendiri maupun lingkungan sekitarnya.

Aneka latihan spiritual

Maka, cukup beralasan jika masyarakat dunia menengok kearifan spiritual Timur. Karena, di samping mengajarkan sikap hidup yang jujur, damai, penuh cinta kasih, dan toleransi, yang memang sudah menjadi bakat alami (fitrah) manusia, kearifan spiritual Timur juga menyediakan latihan spiritual sebagai jalan untuk mencapai The Higher Consciousness.

Latihan spiritual ini, ditempuh melalui berbagai jalan. Dalam agama Hindu dan Buddha misalnya, ditempuh melalui jalan meditasi. Meditation is the method of realizing, or reflectively considering, a religious truth in order to arrive at a personal understanding and love for what it signifies. Itulah sebabnya, kata Nayanaponika Thera, 1962, agama Buddha menjadikan meditasi sebagai The Heart of Buddhist Meditation.

Uniknya lagi, latihan spiritual melalui meditasi ini, bisa direfleksikan melalui seni bermeditasi. The Art of Meditation, kata Joel S Goldsminth, (1990), atau The Art of Ecstasy, kata Bhagwan S Rajnesch, edited by Ma Satya Bharti (1976). Nah, jika latihan spiritual melalui meditasi ini betul-betul diselami dengan tenang, penuh keheningan dan keseriusan, maka jalan ini bisa mengantarkan manusia ke puncak kenikmatan spiritual, yang secara metafisik dirumuskan Maharishi Mahesh Yogi (1958) sebagai Transcendental Meditation, di mana manusia merasakan peace of mind. Inilah bentuk new spiritual teaching di belahan bumi India akhir tahun 1960-an, yang membuat manusia menemukan great relaxation, inner peace, enhanced vitality, and creativity.

Agama-agama besar seperti Yahudi, Kristen dan Islam, biasanya melakukan latihan spiritual ini dengan doa dan sikap pasrah, untuk mengikatkan diri pada Tuhan. Islam lebih bersifat privacy lagi. Salah satu jalannya adalah tasawuf, yang dewasa ini tampak fenomenal di kalangan umat Islam. Di samping ditempuh dengan ibadah (doa, salat, dan lain-lain), tasawuf juga menerapkan dzikr, sebagai the spiritual healing (Robert Peel), the sufi healing (Budhy Munawar-Rachman), dan the faith healing (Claude Frazier). Katanya, faith healing is the cure or relief of physical or mental ills by prayer (salat in Islam, Skd) or religious rituals, begitu rumusan pemikir besar abad ini, Claude Frazier dalam karya monumentalnya: Faith Healing: Finger of God? Or Scientific Curiosity? (1973).

Terakhir, latihan spiritual ini juga tampak pada tradisi Cina yang sejak dulu kala memperkenalkan konsep "Tao" sebagai way of thought or life. Maknanya secara generik berarti, "jalan setapak" atau "jalan" an sich, sebagai asas kehidupan manusia yang harus diikuti, sekiranya ia (manusia) mau natural sebagai manusia.

Lantas, di mana titik singgung mistik-spiritual dalam tradisi Taoism ini. Tak terbayangkan, ternyata the goal of life for a Taoist is to cultivate a mystical relationship to the Tao. Jika latihan spiritual dengan jalan meditasi, doa, dzikr, dan tasawuf, diselami dalam suasana hening dan sunyi, maka dalam tradisi Taoism, para Taois juga "berdiam seribu bahasa." The Tao is Silent, begitu komentar ilmuwan Raymond M Smullyan, (1977). Karena diam adalah kedamaian, maka The Tao of Inner Peace adalah mutiara hikmah dari Diane Dreher, atau The Tao of Love meminjam istilah Ivan Hoffman, (1993).

Menuju harmoni diri

Begitulah aneka latihan spiritual itu hidup dalam tradisi agama-agama besar dunia. Secara teologis, puncak latihan spiritual adalah pengalaman spiritual (spiritual experience) itu sendiri, di mana humans will realize higher, and more spiritual selves. Maka, manusia merasakan puncak kenikmatan spiritual, oleh karena sudah mencapai apa yang dinamakan The Higher Consciousness, sehingga senantiasa terjalin hubungan diri ke "Sumber Diri" (connection to the Sources). Inilah jenis manusia, yang dalam istilah filosofis keislaman dinamakan man as a such: manusia sebagaimana asalnya suci.

Manusia suci bukan sekadar bermakna fisik (bersih badan), tetapi justru lebih bermakna metafisik, beresensi kerohanian, sehingga sempurna secara spiritual. Inilah makna otentik manusia suci. Yakni prototipe manusia yang sempurna secara spiritual, disebabkan kodrat asalnya yang suci (in itself, fitrah), oleh karena selalu berada-dalam bahasa filsafat perennial-"alam surgawi," dan karenanya pula, selalu berada dalam kondisi-istilah penganut filsafat eksistensialisme-the peace of the all sufficient. Memang, manusia suci bisa saja miskin secara materi. Tetapi, ia sempurna secara rohani, nikmat secara spiritual, sehingga selalu tercipta kondisi "harmoni diri" menuju ke hadirat Ilahi Rabbi.

(* Sukidi, Staf Duta Besar RI di Oslo, Norwegia, dan Alumnus Fakultas Syari'ah IAIN (Ciputat). )

atas