back
Serambi MADURA https://zkarnain.tripod.com/
Internet Based Virtual Life-long Learning Environment
for Maintaining Professional Vitality

Kamis
27 Januari 2000
Radar Madura


Temuan TPF GP Ansor Diragukan Kebenarannya
Humas: Kuburan Masal di Pasongsongan Ternyata Busung

SAMPANG - Diam-diam Humas Pemda Sampang dengan "tim siluman"-nya telah melakukan investigasi langsung ke lokasi utama yang diduga sebagai tempat pembuangan mayat korban "Tragedi Pemilu 1997". Hasilnya, temuan TPF (Tim Pencari Fakta) GP Ansor Sampang yang menyatakan bahwa kuburan masal berada di Kecamatan Pasongsongan Sumenep diragukan kebenarannya. Sebab, kenyataannya lokasi tersebut busung.Kahumas Pemda Sampang Drs. Moh. Hosin kepada Radar Madura menilai, investigasi yang dilakukan oleh TPF GP Ansor Sampang tidak didasarkan pada data yang akurat dan metodologis. Sebab, setelah pihaknya melakukan cek fisik di Desa Lebbeng Timur, seperti yang pernah diberitakan harian ini (22/1), ternyata tidak dijumpai adanya rawa-rawa (endhut-Madura, Red) yang diduga sebagai tempat pembuangan korban "Tragedi Pemilu 1997" Sampang.

''Kami menyayangkan, kenapa pernyataan TPF GP Ansor tidak berdasar fakta di lapangan. Mereka hanya mengandalkan pada satu sumber informasi, yaitu Pengurus GP Ansor Ancab Pasongsongan yang bernama Rasyidi. Padahal, setelah kami cross check, Rasyidi tidak mengenal medan. Rasyidi mengaku adanya rawa-rawa tempat kuburan masal hanya merupakan perkiraan saja tanpa tahu pasti kondisi yang sesungguhnya,'' ungkap Hosin.

Dijelaskan, pihaknya bersama Muspika Pasongsongan telah terjun ke dua desa di Pasongsongan, yaitu Desa Lebbeng Timur dan Desa Rajun. Pada 24 Januari 2000, tim tersebut tiba di Desa Lebbeng Timur. Ternyata, lokasi tanah endhut itu tidak ada. Lantas keesokan harinya, tim melanjutkan ke Desa Rajun, desa itu adalah satu-satunya desa di Kecamatan Pasongsongan yang ada tanah endhut-nya.

Kondisi tanah endhut di Desa Rajun, lanjutnya, tidak seperti yang diceritakan oleh TPF GP Ansor. ''Tanah endhut di Desa Rajun sejak tahun 1987 sampai saat ini sudah disulap menjadi lahan pertanian padi. Memang, sebelumnya pernah ada seorang mayat tukang santet yang bernama Hanafi dibuang ke tempat itu. Anehnya, keesokan harinya mayatnya tidak tenggelam. Maka, sejak itu pulalah tanah endhut di Desa Rajun hanya menjadi sebuah cerita," jelasnya.

Di samping itu, tambah Hosin, dari segi waktu, kalau mayat korban "Tragedi Pemilu 1997" dibuang di tanah endhut Desa Rajun, juga tidak masuk akal. "Tanah endhut di Desa Rajun sudah tidak bisa difungsikan lagi sejak tahun 1987. Sementara, kerusuhan pemilu di Sampang terjadi pada tahun 1997. Jadi, kalau mayat korban Pemilu Sampang dihubung-hubungkan dengan tanah endhut di desa tersebut, jelas tidak nyambung,'' tandas Hosin.

Selain itu, menurut dia, baik di Desa Lebbeng Timur maupun Desa Rajun saat itu adalah basis massa PPP di Pasongsongan. Sangat mustahil, katanya, bila masyarakat berdiam diri saja seandainya ada mayat warga PPP Sampang dikubur disana. "Masak, tidak satu pun penduduk di kedua desa tersebut yang mengetahui kalau ada kuburan masal warga PPP dari Sampang ?,"tanyanya.

Dalam kaitan itu, dia mengharapkan, agar pihak-pihak yang melakukan investigasi tidak terburu-buru memberikan pernyataan pers, sebelum menjalankan metode penelitian yang memadai. ''Saya khawatir bila hasil penelitian yang belum final diekpos di media massa, justru memberi informasi yang menyesatkan. Oleh karena itu, untuk menghindari keresahan yang terjadi di masyarakat, hendaknya TPF GP Ansor, jangan gegabah dalam mengekspos informasi yang masih bersifat parsial,'' imbuhnya. (sor)