back
Serambi MADURA http://zkarnain.tripod.com/
Internet Based Life-long Learning Environment
for Maintaining Professional Vitality

Radar Madura
Rabu, 09 Agustus 00
Jawa Pos


BASSRA Tampung Anak-Anak Kerusuhan Sambas

SUMENEP - Anak-anak pengungsi Sambas asal Madura akibat kerusuhan tahun yang lalu, menjadi perhatian Badan Silaturrahmi Ulama Pesantren se Madura ( Bassra) Korda Sumenep. Kemarin (7/8) sebanyak 31 anak-anak itu diserahterimakan kepada sejumlah pondok pesantren yang tergabung dalam Bassra, selanjutnya mereka ditampung sebagai anak asuhnya. Penyerahan resmi itu bertempat di Ponpes Al-Amien Prenduan Sumenep.

Menurut wakil Ketua Bassra, KH Mahfudz Khusaini, mengatakan bahwa keinginan Bassra untuk membantu mereka, terutama dengan menampung sebagain anak-anaknya sudah disampaikan sejak tahun 1999 yang lalu. Ketika itu tim yang dikirim dari Bassra melakukan kunjungan dan melihat langsung terjadinya kerusuhan antar etnis di Sambas Kalimantan Barat.

''Kita sangat prihatin sekali dengan kondisi para pengungsi asal Madura yang kehidupannya kini sangat memperihatinkan. Kebanyakan dari mereka sudah tidak punya apa-apa lagi. Jangankan untuk memikirkan anak-anaknya, untuk kehidupan sendiri itu sangat sulit sekali. Sehingga terbetik keinginan dari Bassra untuk menampung anak-anak mereka, dan selanjutnya diberikan bekal ilmu dan pendidikan pada lembaga-lembaga ponpes di Madura, utamanya di Kabupaten Sumenep,''papar KH Mahfudz.

Keinginan tersebut terealisir setelah Bassra melakukan kerjasama dengan HIMMA-Kalbar (Himpunan Mahasiswa Kalimantan Barat asal Madura) di Pontianak yang mencari dan mengkoordinir anak-anak pengungsi Sambas untuk diasuh dan di sekolahkan seperti sediakala. Hasilnya, untuk lkali pertama Himma baru bisa mengirim sebanyak 31 anak-anak, walaupun sejumlah ponpes dan panti yatim di Sumenep sudah banyak yang memesan rata-rata 10 sampai 20 orang.

Perwakilan Himma-Kalbar dari Komisi Kemanusiaan Untuk Korban Kerusuhan Sosial (K4S), Muhammad, kepada sejumlah ulama calon pengasuh anak-anak Sambas itu, mengatakan bahwa kondisi anak-anak Sambas yang saat ini banyak tinggal di pengungsian dan kondisi kehidupan, utamanya pendidikannya 80 % terlantar. Sebab kebanyakan dari mereka membantu orang tuanya mencari nafkah dan sebagian lagi banyak berkeliaran di terminal-terminal Bus di Pontianak.

''Maka dari itu, kami dari Himma-Kalbar bagian K4S menyambut baik dan terima kasih yang sedalam-dalamnya atas keinginan ulama pengasuh pondok pesantren se Madura (Bassra) yang secara sukarela mengangkis anak-anak mereka yang sungguh sangat memperihatinkan. Sebab, betapa tidak terketuk hati kita, ketika mereka ada yang hidup sendiri karena orang tuanya banyak yang dibunuh oleh orang-orang Dayak dan Melayu,'' kata Muhammad, penuh haru.

Ditambahkan, Himma-Kalbar juga menyatakan bahwa mereka yang dibawa saat ini sebetulnya berjumlah 60 orang. Namun separuhnya, kini diasuh oleh sebagian ulama di salah satu ponpes di Sampang. Padahal jumlah 31 anak bagi Sumenep ternyata masih kurang. ''Insya Allah, kami akan tetap berusaha mengumpulkan dari anak-anak mereka untuk memenuhi permohonan para ulama, khususnya di Kabupaten Sumenep,'' tambah Muhammad yang kini tercatat sebagai mahasiswa di Universitas Tanjung Pura Kalbar ini.

Kondisi 31 anak-anak dari para pengungsi Sambas yang di kirim ke Sumenep, ada sekitar 8 orang anak yatim. Terdiri 4 0rang yatim piatu dan sisanya masih ada salah satu orang tuanya. Kini mereka diasuh oleh 11 lembaga pondok pesantren di Kabupaten Sumenep. Termasuk ponpes Al-Amien Prenduan Sumenep yang kebetulan sebagai sekretaria Bassra Korda Sumenep. (rif)