back
Serambi KAMPUS http://zkarnain.tripod.com/
Internet Based Life-long Learning Environment
for Maintaining Professional Vitality

Webmaster

Iskandar Zulkarnain
Chief Executive Editor

Informasi

PadepokanVirtual

URL

http://w3.to/padepokan
http://welcome.to/madura
http://travel.to/kampus

Jawa Pos
Radar Madura
Selasa, 01 Februari 2000

Menyimak Kisah Saksi Mata
"Tragedi Pemilu 1997" di Sampang

Aparat Berpakaian Doreng Menembak,
Puluhan orang Diangkut Truk

MELIHAT sepintas penampilan H. Anwar, tidak terkesan sedikit pun bahwa dia pernah menjadi koordinator lapangan (Korlap) saat terjadi kerusuhan Pemilu 1997 di sampang. Bentuk tubuhnya yang kecil dan kurus, jauh dari penampilan seorang Korlap yang memimpin ratusan massa. Siapa sangka, di antara ribuan massa yang "menyerbu" kota Sampang, Anwar dipercaya sebagai pemimpin "pasukan" dari Desa Pekalongan.

Keberangkatan Anwar dengan massanya ke kota setelah mendengar kabar bahwa KH. Muhaimin ditangkap aparat keamanan. Karena merasa kiainya ditangkap aparat, tanpa pikir panjang, massa dari pekalongan dengan membawa berbagai senjata bergerak ke kota Sampang untuk membebaskan Kiai Muhaimin.

Anwar bersama massanya berangkat dari Pekalongan sekitar pukul 21.00. Mereka bergerak dengan jalan kaki di tengah susana yang mencekam. Karena terdengar kabar, beberapa kantor kecamatan telah dibakar massa dan kota Sampang telah diserbu ribuan massa dan dibakar. Massa dari Pekalongan ketika hendak memasuki kota, bergabung dengan ribuan massa lainnya yang hendak menuju kota.

"Malam itu, saya bersama massa dari Pekalongan dicegat aparat berpakaian doreng dengan bersenjata lengkap ketika hendak masuk kota Sampang. Namun, massa terus bergerak hingga memasuki Jl. Panglima Sudirman dan bergabung dengan ribuan massa lainnya yang sudah membludak. Sedangkan, aparat keamanan telah membentuk pagar betis. Sementara itu, juga terdengar suara tembakan dan dentuman bom dari jarak yang tidak jauh. Massa terus bergerak untuk masuk ke kota. Saat itu, kira-kira pukul 22.30," ungkap Anwar.

Tiba-tiba terdengar rentetan suara tembakan aparat. Anwar tidak tahu pasti berapa jumlah aparat saat itu. Akibat dari tembakan itu, ribuan massa mulai kocar-kacir. Ada yang tiarap, ada yang lari menyelamatkan diri. Anwar sibuk mengatur massanya agar tidak panik. Tapi, suasana tidak bisa dikendalikan. Massa Anwar cerai berai entah ke mana. Anwar pun juga menyelematkan diri ketika rentetan senjata dan ledakan bom semakin gencar.

"Saya melihat langsung aparat menembaki massa. Puluhan orang diangkut ke atas truk. Jumlah orang yang diangkut dan truk yang ada saat itu, saya tidak tahu pasti karena saat itu gelap dan keadaan sangat kacau. Mereka yang diangkut ke truk dalam keadaan luka dan masih hidup," aku Anwar.

Massa Anwar akhirnya kembali ke Desa Pekalongan dan tiba di sana sehabis Subuh. Banyak di antara mereka yang luka-luka. Tapi Anwar mengaku tidak ada orang yang tewas atau hilang. ''Memang sejak malam itu, ada beberapa orang yang belum kembali. Tapi setelah ditunggu beberapa hari, mereka akhirnya kembali," jelas Anwar.

Saat ini, Anwar dikenal sebagai kiai desa yang mempunyai puluhan santri. Juga, dia dikenal sebagai kiai yang bisa menyembuhkan penyakit. Pasien Anwar banyak dari kalangan pejabat Sampang. Para pejabat yang datang ke Anwar selain minta pengobatan, juga mohon doa kelancaran rezeki dan jabatan langgeng atau bahkan naik. (bersambung*)

Kiai Kholil, "Panglima Perang" yang Kebal Peluru

Ibarat sebuah perang, massa PPP yang menyerbu kota Sampang dipimpin oleh "Panglima Perang" yang bertugas sebagai komandan "pasukan". Salah satu di antara "Panglima Perang" tersebut adalah Kiai Kholil. Kiai yang sehari-harinya dikenal berpenampilan sederhana dan pendiam itu mengaku pernah memimpin ratusan massa dari Desa Taman Sareh, Sampang untuk menyerbu kota Sampang. Saat itu, Kiai Kholil selamat dari brondongan tembakan tanpa luka sedikitpun. Tapi, dia mengaku tidak bisa mendengar selama beberapa hari akibat bunyi senjata yang memekakkan telinga. Tanpa beban apapun, Kiai Kholil memberikan kesaksiannya seputar kerusuhan 29 Mei 1997 di Kota Sampang. Berikut bincang-bincang Radar Madura dengan Kiai Kholil di kediamannya di Desa Taman Sareh.

KEDIAMAN Kiai Kholil cukup terpencil dan terpisah dari rumah penduduk sekitarnya. Rumahnya sekitar satu kilo meter dari jalan utama, melewati jalan batu yang becek di kala musim hujan dan terletak di tengah tegalan. Kiai Kholil berpenampilan sangat sederhana. Rumahnya jauh kesan mewah yang dibangun dari papan dan gedek. Di depan rumahnya berdiri masjid yang cukup besar berdinding tembok. Masyarakat mengenal Kiai Kholil sebagai kiai yang memperdalam tasawwuf. Selain itu, dia dikenal sebagai guru pencak silat.

Di balik penampilan yang sederhana dan sikap ramahnya kepada setiap orang, siapa menyangka Kiai Kholil pernah menjadi "Panglima Perang" saat terjadi kerusuhan Pemilu 1997 di Sampang. Dia memceritakan pengalamannya di saat terjadi kerusuhan.

Malam itu, tersebar berita bahwa KH. Muhaimin ditangkap aparat. Masyarakat mulai gelisah mendengar berita tersebut. Sementara itu, di beberapa kecamatan dan kota sudah tersiar adanya kerusuhan dan pembakaran. Tanpa dikomando, massa segera berkumpul dan menuntut berangkat ke kota untuk mendapat kepastian. Akhirnya, Kiai Kholil memimpin ratusan massa dari Desa Taman Sareh dan desa-desa sekitarnya bergerak ke kota.

''Massa berangkat dengan berjalan kaki, sehabis Isya' (sekitar pukul 19.00, Red.) dengan tujuan Kota Sampang. Sepanjang perjalanan, massa yang bergabung semakin banyak dengan membawa berbagai senjata. Aparat kemanan juga berjaga dan berusaha menghadang massa. Namun, massa terus bergerak masuk kota," papar Kiai Kholil.

Sekitar pukul 21.00, massa sampai di depan Toko Laris. Di tempat itu, sudah terjadi keributan antara massa dengan aparat keamanan. Keadaan kacau dan bising dengan suara tembakan dan ledakan bom gas air mata. Tanpa rasa takut, Kiai Kholil tetap di depan memimpin massanya.

Menurut pengakuannya, aparat yang menembaki massa berpakaian seragam doreng. Desing peluru menerpa samping kanan kiri tubuhnya. Tapi, tidak satu peluru pun yang melukai tubuhnya. Di tengah brondongan peluru dan dentuman bom, dia mengkomando massanya untuk berlindung di balik tubuhnya. Hasilnya, massa yang berlindung di balik dirinya tidak terkena peluru. Kemudian, Kiai Kholil memerintahkan massanya untuk membentuk barisan. Massa mulai merangsek maju.

"Mungkin aparat keamanan salah paham dengan perintah itu. Disangkanya massa mau melawan aparat. Padahal, saya tidak menyuruh massa untuk melawan petugas. Akibatnya, aparat kembali menembak massa. Melihat massa kacau balau, saya perintahkan untuk mundur dan kembali," ungkapnya.

Massa kemudian berkumpul kembali di Desa Taman Sareh sekitar pukul 02.30. Sesampai di sana, massa segera diberi minum air soda. Saat itu, Kiai Kholil memerintahkan massa agar tetap berjaga-jaga dari kemungkinan serangan belasan. Dari massa yang dipimpinnya, diakui ada yang luka tembak. Sedangkan korban mati baru diketahui beberapa hari sesudahnya, ketika ditemukan mayat Wafir di Sumenep. Selain itu, tidak ada laporan korban tewas lainnya.*

atas