back
Serambi MADURA http://zkarnain.tripod.com/
Internet Based Life-long Learning Environment
for Maintaining Professional Vitality

SENI HIBURAN
Senin, 28 Agustus 00
Surabaya Post


Kabupaten Sumenep Termasuk Sepuluh Penampil Terbaik

Pergelaran Festival Upacara Adat dalam Rangka Gelar Seni Budaya dan Pariwisa 2000, diharapkan menjadi salah satu daya tarik atau untuk meramaikan THR. Namun, upacara adat itu, kurang mendapat sambutan masyarakat Surabaya. Promosi dan publikasinya, memang nyaris tidak ada. Jika kursi penonton penuh, namun oleh suporter masing-masing.
Cuma pada malam terakhir, gedung penuh penonton. Semuanya hampir mengenakan baju kebesarannya, batik. Namun, mereka datang untuk mendengar pengumuman kejuaraan dari panitia.
Pada hari-hari sebelumnya, GSBPJT sepi-sepi saja. Apa yang salah? Mungkin karena tempatnya di THR. Mungkin kurang promosi ke masyarakat dari penyelenggara? Tidak tahu. Tapi festival upacara adat sudah berlangsung dan selesai.
Awalnya, festival ini diikuti sebanyak 32 daerah. Namun, belakangan menyusul dari Tengger, Probolinggo. Upacara yang dipimpin Dukun Sudjai itu pun sepi ditinggalkan penonton. Tampilan kesebelas ini, hanya ditonton lima orang.
Dalam pelaksanaan, seni upacara adat ini banyak melibatkan kegiatan kaum wanita. Semuanya dikemas dalam gincu pertunjukan, sehingga kehilangan unsur keasliannya. Mereka, menampilkan budaya khas dan tradisi daerahnya. Glamor, namun kehilangan roh.
Mereka berani membeli atau membayar mahal demi meraih kejuaraan. Bahkan untuk mendapatkan foto dari model atau make up pengantin tradisi, peserta juga harus membayar. Namun, semuanya itu tidak mampu menyedot penonton.
Dari hasil penilaian dewan pengamat yang diketuai budayawan Rudi Isbandi, diperoleh sepuluh penampil terbaik. Yaitu: Sumenep, Banyuwangi, Pacitan, Nganjuk, Tuban, Bojonegoro, Bondowoso, Ponorogo, Jember, dan Tulungagung. Sedangkan lima harapan, diraih Kediri, Lamongan, Ngawi, Trenggalek, dan Magetan.
Pemenang dari Nganjuk, menampilkan upacara adat Temanten Langkahan. Upacara ini merupakan tradisi yang mempunyai falsafah tinggi dalam upaya melestarikan ajaran budi luhur dan budi pekerti dari orangtua pada anaknya. Upacara ini merupakan ajaran etika yang terselubung secara tidak langsung, menanamkan nilai luhur pada generasi muda melalui hubungan kekeluargaan.
Bila dikemas, bisa terwujud suatu tontonan yang mengandung tuntunan bagi yang melakukan (berperan) maupun yang menyaksikan. Penataan gending memperkuat dan menjiwai setiap peran dan suasana adat. Makna cakepan (syair/kata) dalam gending, memberikan sentuhan yang berfungsi sebagai alat komunikasi.
Kemudian pocapan dan candra pambirawao, juga merupakan sutu kesatuan yang utuh dalam pelaksanaan upacara adat langkahan. Kemasan upacara digambarkan sesuai dengan keadaan aslinya, termasuk busana dan urutannya.
Penyajian upacara langkahan dilaksanakan menjelang pengantin panggih (bertemu). Saat itu, sang pengantin Rara Niken Dwi Ratnawati mendahulai kakaknya yang belum mendapatkan jodoh, yaitu Rara Ratih Eka Purnamasari. Karena itu, adik harus meminta izin pada kakaknya.
Perlengkapannya, juga sudah seperti upacara hajatan. Misalnya ada kwade, orangtua pengantin, domas, perjonggo, perias, tamu undangan/keluarga, among tamu, bangsal pengrawit. Bahkan tarian adu jago, juga ditampilkan dalam upacara adat langkahan.
Kemudian dari Tulungagung, upacara adatnya lebih unik dan jarang terjadi. Menampilakn Pengantin Kucing. Pada penyajian, dua sejoli yang berpakaian pengantin, dipertemukan. Masing-masing pengantin, membawa seekor kucing. Pada saat bertemu, dua kucing ditukarkan.
Setelah laku (memutari pengantin pria), dua kucing diserahkan pada sesupuh desa. Kemudian dua hewan itu dimandikan di sebuah sendang. Beberapa saat kemudian, turun hujan dan warga desa berteriak gembira. Merasa keinginannya lewat upacara pengantin kucing itu berhasil. Upacara pada setiap musim kemarau ini, tujuannya memohon diberi hujan.
Kemudian upacara adat yang langka di Jawa dan masih berlangsung di Madura, adalah mapar. Kalau di Jawa desebut pangur (meratakan gigi). Upcara yang masuk sepuluh besar ini, ditampilkan oleh Kabupaten Sumenep.
Mapar, meluruskan atau merapikan susunan gigi dengan menggunakan peralatan khusus. Di antaranya batu asah, pisau yang menyerupai kikir, dan batu pengganjal. Mapar dilakukan lewat upacara yang sakral dan hingga masih berlangsung di pedesaan. Terutama di Desa Panagan, Gapura 10 km arah tenggara Sumenep.
Tujuannya, supaya bentuk susunan gigi seorang gadis yang memasuki jenjang pernikahan, menjadi rapi dan menarik. Makna lainnya, membuang sangkal bagi calon mempelai wanita. Ada kalanya, calon mempelai pria juga melakukan Mapar.
Perlengkapan uapacara, keluarga calon mempelai wanita mempersiapkan segala keperluan upacara. Aneka kue atau jajan pasar yang digunakan sesaji atau Rampatan, juga sebagai suguhan tamu. Dilengkapi kelapa gading, telur ayam, air kungkuman seribu kembang, nasi kuning, dan lampu minyak kelapa.
Kemudian mengundang ahli mapar gigi, mendatangkan beberapa ahli untuk membacakan mocopat, beserta tukang tegesnya. Serta kelengkapan lain yang dianggap perlu. Mempelai pria membawa ke rumah mempelai wanita. Arakannya biasa dimeriahkan musik tradisonal berupa sronen, hadrah, dan lainnya
.
Cerita Nyai Diwut dari Kediri, merupakan kesenian tradisional dan merupakan ungkapan kegembiraan petani setelah panen padi. Pria dan wanita berkumpul di suatu tempat, tepat pada bulan purnama. Menurut kepercayaan petani, Nyi Diwut ikut meningkatkan penghasilan petani.
Dari festival upacara adat, Gubernur Imam Utomo lewat Asisten III Drs Susanto, mengharapkan bisa lebih ditingkatkan di kemudian hari. Pelaksanaan kali ini memang masih jauh dari harapan. Karena itu, diperlukan partisipasi semua pihak, termasuk seniman untuk sama-sama meramaikan THR. (Gimo Hadiwibowo)