back
Serambi MADURA http://zkarnain.tripod.com/
Internet Based Virtual Life-long Learning Environment
for Maintaining Professional Vitality

Senin
10 Januari 2000
Media Indonesia


Gapasdap Kamal Keluhkan Oknum AL

SURABAYA (Media): DPC Gabungan Asosiasi Pengusaha Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (Gapasdap) Ujung Kamal, Surabaya, Jatim mengeluhkan sikap arogansi anggota TNI-AL yang menggunakan fasilitas feri. "Mereka tidak mau membayar. Kalau ditegur, mengeluarkan surat sakti yang tidak jelas keabsahannya. Bahkan tidak jarang petugas kami dipukul," tegas Ketua DPC Gapasdap Ujung Kamal Budiman Rudiyanto akhir pekan lalu.

Keluhan Gapasdap ini diutarakan berkaitan dengan kerugian operasi yang dihadapi operator-operator ASDP. Dari lima perusahaan kapal penyeberangan yang beroperasi, tidak ada satu pun yang memperoleh keuntungan. Kondisi ini terjadi akibat rendahnya tarif yang ditetapkan pemerintah (di bawah biaya operasi operator).

Hampir sebagian besar anggota TNI-AL yang menggunakan fasilitas feri tidak pernah membayar. Mereka seenaknya keluar masuk kapal dan terkadang bersikap arogan dan tidak mematuhi ketentuan masuk di pelabuhan penyeberangan ASDP Ujung Kamal. Berbagai upaya telah dilakukan, seperti memberi peringatan. Namun, akibatnya berupa ancaman kepada operator di lapangan. "Mereka yang berhelm biru ini tidak jarang menghasut penumpang lain untuk melakukan demo bila ada ketentuan tarif baru yang ditetapkan pemerintah," kata Budiman.

Petugas PT ASDP dan Kanwil Dephub Jawa Timur pun tidak berkutik atas ulah tersebut. Padahal, pendapatan yang diperoleh dari kegiatan operasi di penyeberangan ini tidak pernah menguntungkan. "Rata-rata perusahaan yang beroperasi penyeberangan Ujung-Kamal ini memiliki usaha lain di tempat lain. Kalau hanya mengandalkan hasil operasi di sini, semua kami yang ada di sini mungkin sudah tak kuat lagi. Ibaratnya, hidup segan, mati pun tak mau," tegas Budiman.

Tarif penyeberangan ditetapkan Rp 900 per orang. Namun, dalam pelaksanaannya hanya dibayar Rp 700 karena ditolak pengguna jasa. Dari tarif Rp 700 ini, yang masuk ke kas Rp 620, yang Rp 60 untuk asuransi, Rp 20 untuk pembuatan tiket. Sementara perusahaan dituntut untuk menyediakan fasilitas seperti AC, tv, dan tempat duduk yang enak. (Ril/Z-2)