back
Serambi KAMPUS http://zkarnain.tripod.com/
Internet Based Life-long Learning Environment
for Maintaining Professional Vitality

Webmaster

Iskandar Zulkarnain
Chief Executive Editor

Informasi

PadepokanVirtual

URL

http://w3.to/padepokan
http://welcome.to/madura
http://travel.to/kampus

Surabaya Post
SURABAYA - Jumat, 24 Maret 2000

Batik Tulis Harumkan
Desa Tanjung Bumi

BATIK tulis Tanjung Bumi, Bangkalan, Madura, makin berkibar. Jika pada awalnya hanya berputar-putar di sekitar Madura, kini sudah melanglang ke Eropa.
Tapi kisah kesuksesan itu bukan datang begitu saja. Untuk memperkenalkan produksi rumah tangga yang dikerjakan secara tradisional, namun keaslian dan keasriannya tetap terjamin, memerlukan perjuangan yang panjang. Memerlukan para pembatik tulen tapi mempunyai wawasan luas ke depan.
Tak banyak perajin yang demikian. Umumnya mereka berpikir praktis, membatik, lalu dapat uang, untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Selesai.
Untuk masih ada pembatik yang memimpikan agar batik tulis Tanjung Bumi lebih dikenal luas. Harapannya, selain memperkenalkan hasil karya trade mark daerah, timbal baliknya akan lebih banyak masyarakat yang akan mencarinya.
Ny Misdjan, termasuk perajin yang boleh dibilang paling getol memperkenalkan batik daerahnya ini. Tentu dia tidak terlalu berarti kalau hanya sendirian, tanpa ada kerja sama yang baik dengan mitra kerjanya pembatik yang jumlahnya di Tanjung Bumi ratusan orang.
Malah di antaranya mitranya ada anak sekolah. Pengkaderan anak sekolah ini punya manfaat ganda: anak dapat uang untuk biayai sekolah dan sebagai proses regenerasi tradisi membatik.
Kerja sama yang dilakukan, Ny Midjan memberikan bahan berupa kain (jenis biasa maupun sutra), naftol (bahan kimia), malam, dan keperluan lainnya pada beberapa perajin kecil lainnya.
Tentang motif batik, coraknya, biasanya ditentukan Ny Misdjan. Dia memang mahir memberi coretan gambar motifnya di kain, lalu mitra kerjanya tinggal meneruskan.
"Ini perlu, karena harus disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Sebab saya yang sering berhubungan dengan konsumen mulai kelas bawah hingga atas, cukup paham apa keinginan mereka," katanya didampingi suaminya Misdjan dan putrinya Dwi Ira Suhartini yang juga mahir membatik.
Motif batik Tanjung Bumi ada sekitar 100 macam dengan ciri khas warna merah (menyala), hitam, dan hijau. Di antaranya yang populer adalah jenis Tasik Malaya, Pacar Cina, Kapal, Karpote, Burung, Kupu-kupu, Perahu, Udang, Padi, Topak, Si Pari, Panji Susi, dan Panji Lengkok.
Tapi kini ada modifikasi sesuai permintaan. Seperti untuk orang Eropa yang cenderung suka kombinasi dengan putih (biru/putih). dan untuk orang Jepang yang gemar warna-warna menyala, merah, dan hijau.
Membatik bukan kerja borongan, tapi lebih dekat dengan berkesenian. Bahkan pengerjaan untuk jenis gentongan bisa makan waktu satu tahun. Ini jenis batik khusus dengan nuansa alami asli karena bahan-bahannya hanya dari alam. Harganya mencapai Rp 1,2 juta/lembar (dua meter). Begitu spesial hingga perajinnya pun harus khusus pula.
Kadang dalam prosesnya unsur mistik juga turut mewarnai. Bila ada orang meninggal pencelupan batik dihentikan hingga tujuh hari. Batik jenis ini digandrungi kelas atas setingkat pejabat negara.
Ada juga jenis batik yang dikerjakan secara biasa-biasa saja, makan waktu relatif cepat, sebulan. Harganya bervariasi mulai dari Rp 30 ribu/lembar hingga Rp 350 ribu dan ada pula kain sutra dengan pengerjaan rumit dengan harga antara Rp 500 ribu-Rp 1 juta.
"Pesanan bisa mencapai 400 potong sebulan, dari berbagai jenis dan harga. Kalau dirata-rata pemasukan bisa Rp 5 juta/bulan. Jadi pemasaran kami bergantung pada pesanan dan pameran-pameran," kata ibu dua anak yang kini kuliah di Yogyakarta dan Jakarta, merendah.
Untuk bisa menjual hingga ratusan lembar ini tidaklah mudah. Dia yang mengenal batik sejak 1978, mengaku berangkat dari nol dan merangkak berusaha sekuat tenaga.
Dikisahkan pada waktu itu, dia belajar membatik pada mertuanya. Tekadnya cuma satu: menjadi pembatik yang unggul. Awalnya dia membatik hingga mendapatkan 8 potong. Karena pada zaman itu batik Tanjung Bumi hanya dikenal di sekitar Bangkalan.
Suatu ketika ada seseorang membutuhkan kain batik bagus yang disimpan lebih setahun. Dia melalui keluarganya menawarkan batik yang telah dia simpan lebih dua tahun. Ternyata orang itu cocok dan diborong. Hasil menjual batik, dia belikan kain semua mencapai 30 potong.
Ny Misdjan membatik lagi dan mulai menawarkan kain pada pembatik lainnya yang tidak mempunyai modal. Sambil membatik dia aktif di perkumpulan ibu-ibu PKK Kec. Tanjung Bumi.
Dari anggota PKK kecamatan, dia semakin dikenal ke tingkat kabupaten. Kini mitra kerjanya sedikitnya 60 pembatik setempat. Ny Misdjan mendapat kesempatan mengikuti pelatihan Deperin Bangkalan (waktu itu) dan dari Dekranasda (Dewan Kerajinan Nasional Daerah) Jatim. Kemudian dia mulai diajak pameran pembangunan di berbagai even.
"Ini juga berkat perjuangan ibu (almarhumah) yang membuka tempat di TMII. Bahkan kami pernah memperkenalkan batik ini di Istana Negara. Sehingga batik Tanjung Bumi semakin dikenal pejabat-pejabat negara," ujarnya sambil menunjuk koleksi foto bersama Sudomo, Jove Ave.
Dia juga pernah bersama 10 perajin mewakili perajin Indonesia melakukan pameran di Kedubes Belanda pada 1997. Di sini ada cerita menarik, kain batik yang dibawa ke sana terpaksa dipotong lebih kecil karena dinilai kebesaran. Lho kok? Ternyata orang Belanda, termasuk Eropa, suka kain batik ukuran kecil. Pasalnya, fungsinya diubah untuk tutup meja, hiasan dinding, atau ikat kepala.
Dengan seringnya ikut pameran, kini pesanan mengalir ke rumah Ny Misdjan. Pelindo III Surabaya pernah memesan 400 potong batik Tanjung Bumi dengan harga Rp 75 ribu/potong. Pelindo II Semarang dengan 450 potong seharga Rp 125 ribu/potong.
Dana Bergilir
Tapi bisnis bukan melulu kisah gembira. Cerita tidak enaknya dialami beberapa tahun lalu. Dekranasda Jatim melalui surat ke Pemda Bangkalan meminta Ny Misdjan ikut suatu pameran besar. Tapi di arena pameran dia jadi kaget karena di sana sudah ada satu stan dengan produk dan merk yang sama dari Pemda Bangkalan. Stan kembar ini sempat menjadi pergunjingan peserta dan pejabat waktu itu.
Perajin kelahiran 27 September 1954 ini kini masih menyimpan satu keluhan. Selama ini ia mengaku belum pernah mendapatkan bantuan dana bergulir dari Pemerintah. Padahal tambahan modal amat berguna untuk meningkatkan usahanya. Untuk modal selama ini dia meminjam bank.
Ka Depperindag Bangkalan, Drs A.A. Gede Raka, saat dikonfirmasi soal keluhan perajin itu mengatakan, sebetulnya saat ini dana bantuan sudah diberikan kepada dua perajin batik di Tanjung Bumi, berkisar Rp 35 juta per perajin. "Bantuan dana bagi perajin itu bergulir bergantian. Mungkin dia belum mendapat giliran," katanya. (Kasiono)

atas