back
Serambi MADURA http://zkarnain.tripod.com/
Internet Based Life-long Learning Environment
for Maintaining Professional Vitality

Berita Utama
Kamis, 07 September 00
Jawa Pos


DPRD Sampang Dibakar

SAMPANG - Aksi demo menentang bupati terpilih Fadhilah Budiono benar-benar menyebabkan kota Sampang kembali mencekam. Ribuan massa pendukung dan penentang Fadhilah kemarin saling mengancam. Bahkan, massa penentang Fadhilah sempat membakar kantor DPRD Sampang.

Pelantikan Fadhilah pun akhirnya batal. Presiden Abdurrahman Wahid yang kini sedang di New York, Amerika Serikat, menyempatkan menelepon Gubernur Imam Utomo untuk membatalkan pelantikan bupati Sampang. Rencananya, pelantikan itu digelar pada hari ini.

Aksi besar-besaran ini merupakan tandingan aksi massa yang dilakukan pendukung Fadhilah, Senin lalu. Dalam aksi tersebut, massa pendukung bupati sempat menutup semua kantor pemerintahan dan membuat kota Sampang lumpuh total. Aksi selesai setelah Mendagri menurunkan SK pengesahan Fadhilah sebagai bupati.

Turunnya SK itu ternyata tidak menurunkan ketegangan. Suasana kembali mencekam setelah penentang Fadhilah mengancam akan melakukan aksi. Ternyata benar. Ribuan massa kemarin nglurug ke Sampang untuk menentang pelantikan Fadhilah.

Suasana mencekam di kota Sampang mulai terasa sejak pukul 09.00. Kantor-kantor pemerintah dan sekolah diliburkan, khususnya yang berada di sekitar kantor DPR, pemerintah kabupaten, dan Pendapa Agung Sampang. Gabungan aparat keamanan dari Polres Sampang, Polwil Madura, Brimob, dan Polda Jatim tampak berjaga-jaga di tempat-tempat strategis.

Berdasarkan pemantauan Jawa Pos, sejak pagi ratusan massa penentang Fadhilah, yang sebagian besar membawa senjata tajam ini, berkumpul di sekretariat PKB, Jalan Pahlawan, Sampang. Mereka bersiap-siap menunggu komando. Sementara itu, massa dari Kecamatan Sreseh, Robatal, Omben, dan kecamatan yang lain mulai memasuki kota.

Sedangkan massa pendukung Fadhilah ternyata tak mau kalah. Pada waktu yang bersamaan, mereka bersiap-siap di pendapa kabupaten menyambut kedatangan massa penentang Fadhilah. Menurut koordinator pendukung Fadhilah, H Moh. Nurun Tajalla, massa pendukung bupati terpilih yang siap dengan berbagai senjata tajam itu berasal dari kawasan utara Sampang.

Massa yang berkumpul di pendapa itu mengenakan ikat kepala kain putih. Sedangkan ratusan aparat keamanan berjaga-jaga dengan senapan siap di genggaman. Mobil water canon dari Brimob Polda Jatim juga stand by di halaman pendapa.

Sejumlah pejabat teras di Sampang juga berkumpul di pendapa. Di antara mereka ada bupati Sampang terpilih Drs H Fadhilah Budiono, Ketua DPRD Sampang KH Moh. Hasan Asy'ari, Kapolres Sampang Supt Drs Endaryoko SH, dan beberapa pejabat di lingkungan Pemkab Sampang.

Sekitar pukul 10.30 WIB, tiba-tiba ada informasi bahwa massa penentang Fadhilah mulai bergerak akan menyerbu pendapa. Kontan saja, massa Fadhilah melepaskan sarung senjatanya. Sambil mengacung-acungkan senjata, mereka menyatakan siap mengamankan pelantikan Fadhilah.

''Pokoknya, semua siap pada posisi masing-masing. Tidak ada pilihan lain kecuali mempertahankan pendapa dan pelantikan harus tetap dilaksanakan besok (hari ini, Red),'' kata salah seorang di antara mereka sambil mengacungkan pelong (celurit panjang, Red).

Sekitar pukul 13.00, massa penentang Fadhilah yang berkumpul di Jalan Pahlawan mulai bergerak. Setelah melakukan orasi sebentar, pukul 14.30, mereka langsung menuju kantor DPRD Sampang dengan berjalan kaki.

Sambil membentangkan spanduk bernada protes dan menolak terpilihnya Fadhilah dan Said, massa yang sebagian besar membawa sajam ini meneriakkan yel-yel bacaan takbir, tahlil, dan tahmid.

Setelah sampai di kantor DPRD, massa menduduki halaman dalam dan luar. Saat itu aktivitas dewan sedang vakum sehingga massa tidak bisa memasuki kantor. Selama di kantor dewan, massa yang berasal dari beberapa kecamatan ini hanya duduk-duduk sambil sesekali berorasi. Mereka menuntut agar pelantikan Fadhilah dan Sanusi dibatalkan.

Sekitar pukul 17.00, massa yang menduduki kantor DPRD ini mulai melakukan perusakan. Mereka memecahi kaca dan merusak kursi di ruang sidang utama kantor dewan. Setelah itu, sekitar pukul 17.30, mereka membakar ruang sidang utama dan ruangan di sekitarnya.

Saat api mulai berkobar, mereka mengacung-acungkan sajam menghalau aparat, para wartawan, dan warga yang ikut menyaksikan kejadian tersebut. Sebelum meninggalkan kantor DPRD, massa yang sudah tak terkontrol ini memblokade TKP untuk memastikan kantor itu benar-benar terbakar. Secara bergerombol, mereka menuju ke timur.

Akhirnya, aparat yang semula hanya diam itu langsung bertindak. Mereka merangkak masuk dan mengamankan TKP. Saat itu pula, tiga unit mobil pemadam kebakaran dan satu water canon Polda Jatim yang sudah dipersiapkan berusaha mematikan jilatan api yang mulai membesar. Hingga pukul 18.15, petugas belum mampu menjinakkan kobaran api.

Sampai berita ini diturunkan, belum diketahui seberapa besar kerugian yang disebabkan aksi tersebut. Ruangan yang terbakar, antara lain, ruang sidang utama, ruang komisi A, komisi B, komisi C, komisi D, dan komisi E. Selain itu, mess anggota dewan FTNI/Polri juga dibakar. (fiq/sor/mat)