back
Serambi KAMPUS http://zkarnain.tripod.com/
Internet Based Life-long Learning Environment
for Maintaining Professional Vitality

Webmaster

R. Iskandar Zulkarnain
Chief Executive Editor

Informasi

PadepokanVirtual

URL

http://w3.to/padepokan
http://welcome.to/madura
http://travel.to/kampus

Suara Pembaruan
3 September 00

Menuju Universitas Riset Yang Ideal
Oleh Muhammad Qodari

Dalam artikelnya di Suara Pembaruan (15/8/1999), Ali Khomsan membeberkan letak penting dan tantangan riset di perguruan tinggi. Tulisan ini tidak bermaksud menanggapi secara langsung artikel tersebut, tetapi mencoba meletakkannya dalam latar belakang yang lebih komprehensif. Selain itu, tulisan ini lebih memfokuskan pada ide tentang universitas riset, bukan sekadar riset di perguruan tinggi. Apa beda keduanya? Apa yang dimaksud universitas riset itu dan bagaimana contoh implementasinya?

Secara populer, watak ilmiah suatu perguruan tinggi dapat dianalogikan dengan kepribadian (personality) seseorang, yaitu individualitas yang diperlihatkan oleh keseluruhan perilaku orang tadi (Buchori, 1990). Jadi watak ilmiah suatu perguruan tinggi adalah individualitas atau ciri khas ilmiah yang diperlihatkan oleh suatu perguruan tinggi dengan segenap aktivitas ilmiahnya, perkuliahan, seminar, penelitian dan publikasinya.

Bagi masyarakat di luar perguruan tinggi, suatu perguruan tinggi yang tidak pernah menyatakan pandangan dan melahirkan publikasi yang dapat disaksikan dan dibaca oleh suatu masyarakat adalah suatu perguruan tinggi yang "bisu," yang tidak mampu mengembangkan watak ilmiahnya, tak mampu memiliki kepribadiannya sendiri.

Sebaliknya perguruan tinggi yang mampu tampil dengan berbagai pernyataan dan publikasi yang berdampak langsung terhadap kecenderungan perilaku dan penyikapan masyarakat, dapat membekaskan citra watak ilmiah pada masyarakat. Jenis citra yang dipersepsi masyarakat sangat ditentukan oleh jenis pandangan dan publikasi yang disampaikan kepada masyarakat.

Untuk konteks Indonesia, watak ilmiah nasional perguruan tinggi tercermin dalam Peraturan Pemerintah (PP) No 30 Tahun 1990, khususnya dalam Pasal 3, ayat (1): "Perguruan Tinggi menyelenggarakan pendidikan tinggi dan penelitian serta pengabdian pada masyarakat." Watak ilmiah nasional tersebut di atas lebih populer di kalangan masyarakat kampus sebagai Tridarma Perguruan Tinggi. Setiap mahasiswa baru pasti pertama-tama berkenalan dengan istilah itu pada saat menginjakkan kaki di perguruan tinggi.

Akan tetapi, ambisi untuk berhasil dan unggul di ketiga watak ilmiah sekaligus rasanya kurang realistis. Perguruan tinggi harus menentukan pilihan fungsi yang ingin dikembangkan dan diunggulkannya. Suatu perguruan tinggi dapat memilih untuk terutama unggul dalam bidang pendidikan, terutama unggul di bidang penelitian, atau terutama unggul di bidang pengabdian pada masyarakat (Buchori, 1990).

Setidaknya ada dua alasan perguruan tinggi harus menentukan pilihannya. Pertama, belajar dari pengalaman Amerika sesudah Perang Dunia II, berkat bantuan lebih besar dari Pemerintah Federal Amerika Serikat, banyak universitas di Amerika lalu mengembangkan kegiatan di semua bidang secara simultan: pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat.

Maka tumbuhlah kampus-kampus raksasa, dengan jaringan pusat-pusat penelitian yang sangat luas dan proyek-proyek layanan masyarakat yang tak jelas lagi sosok watak ilmiahnya. Dalam suasana seperti ini, masuklah program-program dan proyek-proyek yang secara etis-ilmiah tidak dapat dipertanggungjawabkan. Beberapa universitas kehilangan watak ilmiahnya dan menjadi sasaran ketidakpuasan berbagai pihak: mahasiswa, tenaga pengajar dan masyarakat luas (Bok, 1982).

Kedua, tidak semua perguruan tinggi berbentuk universitas, ada juga institut, akademi, dan politeknik. Kalau kita katakan Tridarma sebagai persyaratan untuk perguruan tinggi dan bukan hanya untuk universitas, berarti merupakan persyaratan untuk semua perguruan tinggi (Bachtiar, 1990). Program pendidikan profesional seperti akademi atau politeknik tentu tidaklah diharapkan untuk berfungsi sebagai pusat penelitian dan pengembangan ilmu. Watak ilmiahnya mungkin lebih menonjol dalam hal pendidikan, sedangkan universitas yang banyak memiliki dosen S2 dan S3 tentu lebih layak diarahkan menjadi pusat penelitian.

Universitas-universitas di Jerman pada abad ke-19 memilih keunggulan dalam penelitian (research excellence) sebagai trademark. Universitas di Inggris, pada waktu bersamaan menyandarkan ketenaran ilmiah pada keunggulan penyelenggaraan pendidikan di tingkat dasar (undergraduate), yaitu pendidikan yang diarahkan kepada pengembangan kepribadian mahasiswa secara luas. Lalu ada perguruan tinggi yang menjulang reputasi ilmiahnya karena kehebatannya dalam bidang pendidikan. Harvard Law School misalnya. Massachusetts Institute of Technology (MIT) untuk jangka waktu lama sangat terkenal karena penelitian dan publikasinya di bidang linguistik. School of Oriental and African Studies (SOAS) dari London University terkenal karena penelitiannya di berbagai cabang ilmu pengetahuan mengenai negara-negara atau masyarakat-masyarakat di kawasan Asia dan Afrika, termasuk Indonesia dan Asia Tenggara.

Di Indonesia, Universitas Gadjah Mada berani mengibarkan bendera universitas yang berkonsentrasi di bidang pengembangan wilayah dan pedesaan, yang unsur pengabdian masyarakatnya sangat kental. Mungkin pilihan itu dijalankan dengan mempertimbangkan posisi geografis dan demografisnya, tapi yang jelas keterlibatan orang-orang UGM di sektor pengabdian masyarakat dan pedesaan dikenal dan diakui masyarakat kampus dan masyarakat luas.

Prasyarat

Lewat uraian di atas, jelaslah universitas pertama-tama harus menentukan pilihan watak ilmiahnya. Jika (pimpinan) suatu perguruan tinggi berani mengibarkan benderanya sebagai universitas riset (UR), maka hal itu harus berangkat dari ketegasan pilihan watak ilmiah yang sungguh-sungguh. Karena seperti dituturkan Ali Khomsan, krisis ekonomi yang menghantam Indonesia turut mengimbas dana penelitian. Sementara itu, iklim reformasi juga belum berhasil menghentikan penyunatan biaya riset untuk alasan itu dan ini.

Menurut almarhum Masri Singarimbun, mantan peneliti senior di Penelitian Kependudukan di UGM, prasyarat itu ada tiga: sektor tenaga peneliti, dana dan fasilitas. Pengalamannya sebagai PhD student di Australian National University, nun jauh di tahun 1965, membuktikan hal di atas. Di universitas itu, ternyata anggarannya sama dengan anggaran Depdikbud di Indonesia sekarang. Dana dan fasilitas sebagai seorang PhD student sangat terjamin. Setiap mahasiswa mendapatkan satu kamar beserta perlengkapannya, di samping promotor.

Seorang peneliti (atau calon peneliti) di Indonesia sering dipertanyakan kualitasnya, karena memang banyak kendala dalam ber proses sebagai seorang peneliti. Iklim pendidikan di Indonesia secara umum dan mendasar belum merangsang siswa untuk berpikir kritis dan penuh keingintahuan. Perpustakaan sebagai sarana penunjang insan ilmiah adalah tempat yang asing dan "jauh" dari jangkauan. Banyak perpustakaan universitas yang koleksi buku, majalah, jurnal dan naskah ilmiahnya tidak memenuhi standar, baik karena koleksi yang memang kurang atau karena koleksi itu tidak pernah diperbarui lagi.

Berapa banyak perpustakaan yang "berani" mengeluarkan buku-buku tua dan usang seperti dilakukan perpustakaan FE-UI, misalnya. Perpustakaan FE-UI - milik fakultas terkaya se-Indonesia itu - berani melakukan hal tersebut karena selalu ada tambahan koleksi mutakhir. Betapa kita tidak akan kalah bersaing dengan Malaysia, misalnya, yang memprioritaskan pendidikannya. Ratusan dosen di Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM) dan Universitas Islam Internasional Malaysia (IIUM) berpendidikan S3. Perpustakaannya besar. Saking penuhnya, bahkan mahasiswa duduk di karpet, persis di banyak kampus negara maju di Barat. Demikian cerita tokoh pendidikan yang pernah ke Malaysia.

Belum lagi jika menyebut budaya membaca dan menulis di kalangan mahasiswa. Seorang mahasiswa yang gemar membaca dan menulis biasanya memiliki koleksi buku sendiri, semacam perpustakaan kecil yang menjadi kebanggaan dan harta yang tak ternilai bagi pemiliknya. Sementara itu, yang semakin berkembang dewasa ini budaya visual, budaya nonton, televisi.

Semakin sulit pula membibit kandidat-kandidat sarjana, peneliti dan penulis andal karena setelah menjadi peneliti, ia akan dihadapkan pada persoalan lain. Pekerjaan sebagai peneliti terlalu didominasi oleh kepentingan mencari nafkah, dan bukan komitmen bagi pengembangan integritas keilmuan. Banyak peneliti sering terpaksa bekerja di tempat lain karena gaji di universitas sering tidak mencukupi.

Persoalannya memang klasik, setidaknya untuk negara berkembang seperti Indonesia. Bahkan untuk universitas sekapasitas UI, dana penelitian sedikit, sebagaimana pernah dikatakan rektor UI waktu itu, Prof MK Tadjuddin. Anggaran untuk penelitian yang tersedia hanya Rp 200 juta setahun. Para peneliti muda harus bersaing untuk memperoleh dana Rp 3 juta per penelitian. Dengan demikian, tidak semua dosen muda mendapatkan kesempatan melatih keterampilan penelitiannya.

"Profit Centre"

Mengharapkan pemerintah menaikkan anggaran pendidikan tinggi seperti "pungguk merindukan bulan". Jalan terbaik yang bisa ditempuh adalah mendekatkan kemandirian universitas, khususnya bagi universitas-universitas besar. UI, misalnya, sebagai salah satu universitas terbesar di Indonesia yang dekat dengan pusat kekuasaan, seharusnya dapat membuka jaringan lebih besar, baik itu jaringan dengan pemerintah, swasta yang membutuhkan jasa penelitian, atau jaringan lembaga ilmiah dan dana internasional.

Walaupun dosen di UI (data 1996) yang bergelar doktor baru 15 persen dari jumlah ideal 25 persen untuk UR, rasanya yang 15 persen ini masih bisa diharapkan menarik lokomotif UI menuju universitas riset. Prof Juwono Sudarsono pernah mengajukan usul pengenaan pajak atas pendapatan dosen-dosen UI yang memakai statusnya untuk kegiatan luarnya. Semacam membayar royalti kepada UI. Tidak hanya secara perorangan, sebagai lembaga pun UI harus bisa menguntungkan. Artinya, seperti disampaikan Ketua Laboratorium Sosiologi UI Paulus Wirutomo, setiap unit di universitas harus bisa menjadi profit centre, dan bukan cost centre.

Perihal optimalisasi unit-unit di UI sebagai profit centre, penulis yakin merupakan hal yang niscaya. Dalam satu kesempatan, Dr Nick G Darmaputera dari Pusat Penelitian Kesehatan (Puslitkes), Lembaga Penelitian UI menyatakan, Puslitkes mendapatkan pesanan penelitian maupun mengajukan proposal penelitian yang jika dinilai dengan uang, sangat menjanjikan untuk menghidupkan harapan tentang UI sebagai universitas riset. Pesanan penelitian dari pihak swasta maupun pemerintah cukup banyak.

Sebenarnya UI pun bisa mendapatkan bantuan dana penelitian yang cukup besar dari lembaga-lembaga internasional. Semua itu dengan syarat penelitian yang dilaksanakan memenuhi kualifikasi metodologi ilmiah. Dr Nick mengemukakan, berdasarkan pengalamannya, betapa banyak peneliti yang tidak menguasai metodologi penelitian sehingga proposal penelitian mereka ditolak sponsor dana. Proposal-proposal penelitian hanya jadi sampah kertas di depan para pakar penelitian.

Satu hal lagi yang lebih mendasar, minat dan kemampuan penelitian seharusnya telah dipupuk sejak dini. Dalam konteks perguruan tinggi, pernyataan tersebut mengacu pada mahasiswa S1. Meskipun salah seorang mantan Rektor UI menyatakan lulusan S1 belumlah ilmuwan dan hanya S2 dan S3 yang dapat menghasilkan mutu peneliti dan penelitian yang tinggi, kita tidak bisa menyangkal semua itu justru diawali di pendidikan S1.

Mana mungkin mengharapkan seorang lulusan S1 melanjutkan jenjang pendidikan berikutnya untuk menjadi peneliti apabila ia tidak pernah (sempat) menaruh minat pada bidang penelitian sebelumnya.

Jika seorang lulusan S1 tidak pernah benar-benar menaruh minat pada penelitian, maka bolehlah jadi ia kelak akan menjadi Banana-Tree Doctor alias Doktor Pohon Pisang karena persis seperti pohon pisang yang berbuah sekali sudah itu mati. Doktor ini paling banter menghasilkan 3 penelitian selama karier akademisnya; skripsi, tesis dan disertasi. Tidak lebih!

Berdasarkan pengalaman penulis yang pernah beberapa tahun aktif di organisasi mahasiswa bidang penalaran, Kelompok Studi Mahasiswa - UI Eka Prasetya, yang nota bene mengurusi diskusi dan penelitian, ternyata cukup sulit memperoleh kesempatan penelitian bagi banyak mahasiswa. Pihak swasta jarang yang mau membiayai proyek-proyek penelitian yang diusulkan mahasiswa. Selain kurang imbalan baliknya (bukan media promosi yang menjanjikan), penelitian yang dilakukan mahasiswa biasanya lebih berorientasi pada usaha membangkitkan minat, belajar dan mencari pengalaman meneliti.

Berdasarkan pengalaman tersebut, penulis mengajukan usulan, yaitu penyediaan alokasi dana khusus bidang penelitian tersendiri yang mencukupi bagi mahasiswa peneliti. Lalu diadakan pembinaan terstruktur dan terencana yang dilakukan oleh pakar-pakar penelitian yang dimiliki universitas agar para mahasiswa tersebut dapat mengoptimalisasikan potensi mereka. Upaya-upaya demikianlah yang harus diimplementasikan agar ada kesinambungan generasi peneliti yang akan mengusung nama besar suatu universitas riset kelak, di masa yang akan datang. ***

Penulis adalah asisten pengajar di Jurusan Psikologi Sosial, Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia


Last modified: 3/9/1999

atas