back
Serambi DEPAN http://zkarnain.tripod.com/
Internet Based Life-long Learning Environment
for Maintaining Professional Vitality

Webmaster

Iskandar Zulkarnain
Chief Executive Editor

Informasi

PadepokanVirtual

URL

http://w3.to/padepokan
http://welcome.to/madura
http://travel.to/kampus


Media Indonesia
Selasa, 21 Des 1999

SDM Memasuki Milenium Ketiga
Oleh Gede Prama

SETIAP kali memasuki periodisasi baru -- entah tahun, abad, maupun milenium -- selalu saja menarik untuk memperbincangkan antisipasi ke depan. Ekonom adalah satu profesi yang banyak didengar dalam hal ini, di samping sejumlah profesi lainnya. Yang acap menjadi acuan berpikir dalam hal ini, bagaimana kira-kira wajah dunia ke depan, untuk kemudian menyesuaikan diri terhadap wajah tersebut. Ini yang menjadi warna dasar setiap perdebatan tentang antisipasi hidup di masa depan.

Dalam manajemen, pendekatan kontingensi adalah salah satu pendekatan yang amat dalam diwarnai oleh acuan berpikir tadi. Tugas manusia dalam hal ini, hanyalah melakukan penyesuaian terhadap apa yang akan terjadi. Tidak lebih dan tidak kurang.

Dengan sedikit kejernihan, sebenarnya cara berpikir seperti ini sedang menempatkan manusia sebagai `korban pemerkosaan` masa depan. Manusia secara habis-habisan sedang ditempatkan secara amat tak berdaya di hadapan masa depan. Setiap ramalan tentang masa depan -- entah benar atau salah -- selalu berdiri pongah sebagai kekuatan pemerkosa pikiran dengan seluruh kekuatan digdayanya. Entah siapa yang memulai, yang menyebarkan, atau yang mengikuti, beginilah olahraga berpikir manusia setiap kali memasuki periodisasi baru.

Berkaitan dengan manusia -- sebagai sentra dari kegiatan berpikir -- penempatan manusia secara amat tak berdaya ini, sebaiknya mulai kita tinggalkan. Sebab, sebagaimana kita telah tahu bersama, masa depan sebagian ditentukan oleh tindakan-tindakan manusia. Apa yang kita lakukan hari ini, secara signifikan mempengaruhi wajah esok hari.

Dengan perspektif terakhir ini, pembicaraan tentang SDM memasuki milenium ketiga, ada baiknya dikonsentrasikan pada proses tindakan yang membuat wajah masa depan lebih menjanjikan. Di samping lebih produktif, juga menempatkan manusia secara lebih manusiawi.

Banyak sudah ramalan tentang masa depan SDM. Apa pun ramalannya, namun kita tak bisa bergeser dari kenyataan bahwa wajah kehidupan seperti sekarang ini, sebagian ditentukan oleh intelektualitas manusia.

Oleh karena itu, memasuki milenium ketiga amat dan teramat penting kita mengonsentrasikan diri pada pengelolaan intelektualitas manusia. Meminjam argumen Thomas A Stewart dalam Intellectual Capital, modal intelektual terdapat di tiga tempat: personel, sistem, dan pelanggan. Dengan demikian, usaha menciptakan masa depan sebaiknya mulai dari sini. Saya menyebutnya dengan segi tiga masa depan. Ibarat kuda, segi tiga inilah kuda pacuan untuk lari ke masa depan.

Mungkin saja saya berlebihan, namun setiap perbaikan dalam segi tiga terakhir memberi kontribusi amat besar pada wajah masa depan kemudian. Lihat saja perusahaan-perusahaan mengagumkan di milenium kedua serta berumur panjang. Hampir setiap sudut segi tiganya tampil mengagumkan. Sebut saja IBM, Microsoft, Sony, Matsushita, atau perusahaan berumur panjang lainnya. Semuanya memberi perhatian yang amat besar terhadap segi tiga masa depan ini.

Persoalannya sekarang, dari mana usaha perbaikan segi tiga di atas sebaiknya dimulai? Anda boleh berpendapat lain, namun bagi saya amat dan teramat penting membuat learning machine dalam setiap organisasi. Sebab dari sinilah datangnya energi perbaikan. Ada beberapa cara agar mesin belajar di atas mulai hidup dan berjalan.

Pertama, menembus langit-langit pikiran. Dan di zaman sekarang, yang sulit ditembus adalah rasionalitas. Begitu sampai dalam batas rasionalitas, maka banyak orang beranggapan bahwa mereka sudah sampai di ujung cakrawala pikiran. Stempel tak rasional, tak masuk akal, dan sejenisnya adalah belenggu pikiran yang amat mematikan. Dan kalau boleh jujur, ada banyak pimpinan yang membuat organisasi stagnan dengan mengumbar stempel di atas. Padahal, di luar apa yang kita sebut rasional dan masuk akal, ada dunia yang bersifat tak terbatas. Jangankan banyak orang, satu saja pemimpin yang berhasil masuk dunia tak terbatas ini, maka mesin belajar organisasi sudah mulai berjalan.

Kedua, membuat semacam knowing in action department. Atau departemen yang tugasnya membuat apa yang diketahui menjadi kenyataan. Di banyak organisasi, ada kesenjangan yang amat lebar antara apa yang diketahui dan yang bisa dilakukan. Sehingga membuat kebanyakan informasi dan pengetahuan sebagai hidden resources. Tugas departemen ini, tidak saja mengumpulkan informasi dan pengetahuan, tapi juga membagikannya ke yang lain, sekaligus memberdayakan serta memfasilitasinya agar menjadi kenyataan. Kesempatan untuk mencoba yang luas dan batas kesalahan yang agak longgar -- terutama untuk departemen ini -- akan sangat membantu dalam hal ini.

Ketiga, menggunakan learning ratio sebagai salah satu barometer kinerja. Artinya, seberapa besar porsi belajar dari setiap aktivitas kerja, amat penting untuk diamati. Bila mana perlu, nilai belajar setiap pekerjaan dihargai lebih tinggi dibandingkan dengan pekerjaan itu sendiri. Boleh salah, asal nilai belajarnya lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah kehilangan nilai dari kesalahan itu. Meminjam pendapat Donald Schon dari MIT, inilah yang disebut dengan reflection in action.

Digabung menjadi satu, mesin belajar mau tak mau harus dihidupkan. Terutama karena besarnya kontribusi intelektualitas manusia. Sudahkah Anda memulainya? (0)

Penulis adalah seorang pembicara publik, Presiden Dynamics Consulting dan direktur SDM sebuah perusahaan swasta.

atas