back
Serambi MADURA http://zkarnain.tripod.com/
Internet Based Virtual Life-long Learning Environment
for Maintaining Professional Vitality

JAWA TIMUR
Senin, 12 Juni 2000
Surabaya Post


'Dukun Santet' Diamankan
Mapolres Pamekasan Diunjuk Rasa

Pamekasan - Surabaya Post
Setelah merusak rumah, Asnawi (60), warga Desa Kramat, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan, yang dituduh tukang santet, massa menyerbu Mapolres. Mereka menuntut Asnawi yang diamankan di Mapolres dilepaskan untuk dihakimi warga.
Petugas Polres Pamekasan yang sudah bersiap dengan senjata di tangan mempertahankan warga yang meminta perlindungan hukum. Karena massa tetap memaksa, terpaksa petugas melepaskan tembakan peringatan ke udara.
Kejadian Minggu (11/6) siang, membuat suasana di sekitar Mapolres Pamekasan tegang. Melihat petugas melepaskan tembakan berkali-kali ke udara, massa lari semburat menyelamatkan diri. Bahkan di antara mereka terjatuh di jalan propinsi dan terperosok ke selokan.
Mereka bertambah bingung setelah kendaraan truk yang mereka tumpangi keburu kabur. Khawatir dikejar petugas, sebagian dari mereka bersembunyi di rumah sakit dan terminal yang jaraknya dekat dengan Mapolres.
Dari keterangan warga yang ikut berunjuk rasa ke Mapolres, rombongan warga datang ke kantor polisi, karena dicari di rumahnya tidak ada. Warga yang sudah marah, pada malam Minggu merusak rumah Asnawi.
"Karena Asnawi berada di kantor polisi, warga datang ke sini. Mereka minta agar korban dilepas untuk dipukuli beramai-ramai. Sebab bila dia yang diduga mempunyai ilmu santet ada di desa, warga masih khawatir," ujar petugas, menirukan pengakuan warga.
Dugaan Asnawi mempunyai ilmu santet, setelah tetangganya Ramli meninggal. Sebelum meninggal korban mengatakan pada keluarganya agar dimintakan air ke Asnawi yang pengusaha mebel di desanya.
Seminggu kemudian Ramli meninggal, sehingga keluarga dan kerabatnya marah dan hendak membunuh Asnawi. Padahal saat diperiksakan ke dokter setempat, korban menderita penyakit liver.
Sedang Monayah, anak Asnawi membantah orangtuanya mempunyai ilmu santet. "Tidak mungkin Bapak punya ilmu yang dituduhkan orang. Bapak orangnya baik dengan siapa pun, setiap hari kerjanya menyelesaikan pesanan mebel dari orang lain," kata anaknya saat menjenguk ayahnya yang meminta perlindungan di Mapolres.
Dia tidak bisa berbuat apa-apa, setelah warga memusuhi orangtuanya. Sementara rumah dan isinya sudah berantakan, dan warga masih juga menaruh dendam.
"Saya kasihan dengan kedua orangtua yang harus mengungsi akibat tudingan tukang santet. Mau bagaimana lagi, kami sekeluarga pasrahkan ujian ini pada Yang Maha Kuasa," keluhnya.
Saat ini Kapolres Pamekasan, Letkol Pol Ridho Waseso, sedang koordinasi dengan Muspika Tlanakan, tentang nasib Asnawi. "Kami koordinasi dengan Muspika setempat, untuk mengungsikan Asnawi. Sebab kalau tetap tinggal di sana, dikhawatirkan warga tetap tidak terima," kata Kapolres. (kas)