back
Serambi MADURA http://zkarnain.tripod.com/
Internet Based Virtual Life-long Learning Environment
for Maintaining Professional Vitality

Kamis
20 Januari 2000
Radar Madura


Ancaman Pembunuhan Isu Santet Merebak
di Lima Kecamatan

PAMEKASAN - Ancaman pembunuhan oleh massa akibat isu santet terus merebak di Pamekaan. Setelah Senin kemarin lusa (Senin, 17/1, Red) ratusan warga ''mengejar'' tiga warga Desa Kadur, Kecamatan Kadur, Pamekasan, kini isu serupa juga merebak di wilayah kecamatan lainnya. Bahkan, sebagian tertuduh kemarin ada yang disumpah pocong di Masjid Madegan, Sampang.Seperti diberitakan, ancaman pembunuhan oleh massa mulai merebak di Pamekasan. Bahkan, beberapa hari itu calon korban ''pengadilan massa'' minta perlindungan di Makodim 0826 Pamekasan. Menurut Dandim 0826 Pamekasan, Letkol Aris Setiabudi, setidaknya rencana pembunuhan karena isu santet itu terjadi di empat Kecamatan yakni selain di Kecamatan Kadur, Kecamatan Pakong, Kecamatan Kota, dan Kecamatan Tlanakan.

Dari sejumlah tertuduh tukang santet itu salah satu di antaranya adalah Durat, warga Desa Laden, Kecamatan Kota Pamekasan. Dia adalah orang tua kandung Sersan Ali Muddin, salah seorang anggota Kodim 0826 Pamekasan

''Khusus tertuduh yang kebetulan orang tua anggota kami, saat ini telah disumpah di Masjid Madegan, Sampang. Memang ini agak aneh, karena yang menuduh bukan orang lain, tetapi akeluarga dekat tertuduh yakni menantu tertuduh atau istri dari anak buah saya itu,'' papar Aris Setiabudi.

''Saya berharap agar setelah selesai sumpah pocong ini masalahnya bisa selesai,'' tambah Dandim. Sebagaimana tertuduh lainnya, lanjut Dandim, orang tua Sersan Alimuddin ini juga sempat jadi incaran warga sekitar. Sementara itu, di Kecamatan Pakong ratusan warga mengincar nyawa enam warga yang juga diduga memiliki ilmu hitam. Di antara nama nama tertuduh itu antara lain, Mursit (55) asal Desa Bicorong, H. Faruk dari Desa Pakong, Musaffak asal Pakong, Bunawan asal Pakong, dan Asmuni asal Desa Benben. Dari sejumlah tertuduh itu yang paling ditakuti oleh masyarakat adalah Mursit.

''Untuk Mursit ini, konon masyarakat tidak akan memberi ampun lagi. Mereka mengatakan daripada banyak korban lain yang meninggal akibat disantet Mursit, lebih baik dia saja yang dibunuh. Bahkan, kepala desa setempat konon juga takut jika mengamankan tertuduh, malah di belakang hari juga kena santet. Ini memang repot ini,'' papar Dandim.

Sementara itu, tiga warga yang minta perlindungan ke Makodim 0826, masing masing Habih (70), Suminah (30) dan Musyawar (35), kini telah diserahkan ke Polres Pamekasan. Menurut Dandim, Suminah sempat stres karena ia meninggalkan anaknya yang masih balita (2,5) di rumahnya. Dandim berharap, dalam mengatasi masalah ini masyarakat tidak main hakim sendiri. (dwi)