back
Serambi KAMPUS http://zkarnain.tripod.com/
Internet Based Virtual Life-long Learning Environment
for Maintaining Professional Vitality


MELATIH DIRI BERSIKAP KREATIF

Tell a child what to think
And you make him a slave to your knowledge
Teach him how to think
and you make all knowledge his slave

Henry A. Taitt, 1982

Andi Hakim Nasoetion

Panggilan hidup seorang ilmuwan ialah menemukan pengetahuan baru. Peristiwa itu adalah suatu proses berkreasi dan pengetahuan baru itu sendiri adalah suatu kreasi. Orang yang memiliki kemampuan mencipta demikianlah yang dikatakan memiliki sikap kreatif. Pengertian ini perlu dibatasi terlebih dauhulu karena akhir-akhir ini orang dapat salah sangka mengira orang kreatif itu adalah ia yang mengisap rokok kretek tertentu atau memilih menggunakan mobil merk tertentu.

Seorang pakar pertanian Jepang bernama Shoichi Nakata mempertelakan kehidupan itu sebagai berikut:

Kehidupan kanak-kanak adalah khayalan
Kehidupan remaja adalah mimpi
Kehidupan setengah baya adalah kenyataan
Kehidupan manula adalah kenangan

Itulah sebabnya Sir Peter Medawar mengatakan di dalam bukunya yang berjudul Nasehat untuk Ilmuwan Muda bahwa ilmuwan tidak pernah merasa dirinya menjadi tua, karena hidupnya selalu bertanya-tanya atas dasar khayalan dan mimpi untuk menemukan kenyataan. Dengan perkataan lain, begitu ia berhenti meneliti, ia menjadi tua.

Sebagai teladan dapat kita pilih ahli Fisiologi Tumbuhan Filipina bernama Dr. Barba pada tahun 1969 yang merasa aneh melihat di tanah airnya pada setiap musim, mangga berlimpah dan banyak yang busuk. Mangga itu sendiri sebenarnya berasal dari Jawa Timur dan dimasukkan ke Filipina dan disesuaikan dengan lingkungan hidup barunya pada tahun 1938. Demikianlah Dr. Barba bertanya-tanya kepada dirinya mengapa mangga itu berbunga hanya pada musim tertentu saja. Ia bertanya lagi apakah musim itu yang merangsang mangga tadi berbunga. Akhirnya ia mendapatkan jawabannya. Rangsangan berbunga itu ada hubungannya dengan tingkat kekeringan tanah dan terbentuknya zat tertentu di dalam pohon mangga. Setelah mendapatkan perkiraan mengenai jawabannya permasalahannya ini ia melakukan percobaan. Ia membuat alur-alur drainasi di sekitar pohon mangga dan pemyemprotnya dengan larutan kalium nitrat. Akhirnya ditemukannya kombinasi tingkat drainasi dan kadar larutan yang membuat mangga itu terangsang berbunga.

Akibat penemuan ini. Mangga di Filipina sekarang dapat diatur waktu berbunganya. Dengan mengatur agar mangga itu berbunga dua kali setahun pada waktu yang berbeda-beda untuk setiap propinsi, produksi mangga Filipina menjadi dapat dinikmati sepanjang tahun tanpa ada yang busuk percuma. Karena adanya persediaan mangga sepanjang tahun, Filipina dapat mengekspor mangga dan juga mengalengkan mangga. Dapat dibayangkan bagaimana mustahilnya mencoba mengekspor buah yang hanya tersedia selama sebulan dalam setahun, dan bagaimana mubazirnya mendirikan pabrik pengalengan buah yang ditutup untuk sementara selama sebelas bulan dalam setiap tahun.

Seorang mahasiswa Fakultas Kehutanan IPB mengamati bahwa semai mahoni di persemaian sering digerek penggerek pucuk. Tanaman seperti itu akan mati pucuknya dan membuat percabangan. Letak percabangan ini kemudian menentukan berapa panjang bagian batang yang lurus setelah bibit mahoni itu menjadi batang mahoni dewasa. Semakin panjang batang itu semakin banyak kayu bermutu tinggi yang dapat dibuat menjadi balok dan papan.

Mahasiswa itu juga mengamati bahwa di atas ketinggian dua meter pucuk mahoni tidak pernah lagi diganggu oleh serangga penggerak, karena batas ketinggian terbangnya tidak melebihi dua meter. Atas dasar kenyataan ini ia bertanya-tanya kepada dirinya, bagaimana cara melindungi pucuk mahoni dengan semprotan insektisida dalam waktu yang sesingkat-singkatnya saja.

Perasaan bertanya-tanyanya itu membuatnya mencoba mengingat-ingat kembali apa saja yang dapat mempercepat pertumbuhan batang suatu tumbuhan. Maka dicobanya menyemai bibit di pesemaian dalam barisan yang rapat agar semai mahoni itu saling bersaing mencari sinar matahari yang dipaksa menjadi faktor pertumbuhan minimum. Selain itu ia melakukan pemupukan berat dengan urea sehingga batang tumbuh dengan cepat. Perkiraannya itu rupanya adalah jawaban yang tepat atas pertanyaan yang tepat pula, yaitu bagaimana mempercepat pertumbuhan batang agar pucuk dapat melewati mintakad rawan sampai ketinggian dua meter. Pertanyaan itu memang pantas dikatakan tepat karena mencerminkan benar apa kiranya yang harus dilakukan agar permasalahannya dapat diselesaikan.

Andaikan permasalahan itu dihadapinya dengan pertanyaan insektisida apa yang harus dipakai, maka pertanyaan itu tidak tepat. Boleh dikatakan semua jenis insektisida dapat dipakai melindungi semaian dari penggerak pucuk. Semua orang yang melihat permasalahaan penggerak pucuk itu akan langsung tergerak mencari alat semprot dan insektisida. Akan tetapi mahasiswa itu tidak berhenti sampai di situ. Ia tahu insektisida itu harus dibeli dan dapat mencemari lingkungan. Karena itu yang tergerak di dalam benaknya adalah pertanyaan bagaimana membuat usaha perlindungan itu hanya perlu dilakukan dalam jangka waktu yang sependek-pendeknya. Pendekatan itu baru dan oleh karena itu ia telah menunjukkan kemampuan berkreasi.

Apa yang Menimbulkan Daya Kreasi Tinggi?

Pada suatu ketika seorang ilmuwan membeberkan hasil penelitiannya yang bertujuan menemukan apa pandangan orang mengenai orang lain dalam berbagai bidang pekerjaan. Salah satu pertanyaan dalam kuesionernya ialah apakah yang diperkirakan orang sebagai masalah yang paling berat dalam bidang kerja seorang gurubesar. Kebanyakan orang menjawab bahwa ketakutan terbesar seorang gurubesar ialah apabila ada pertanyaan orang kepadanya yang tidak dapat dijawab olehnya. Semua orang yang hadir pada pertemuan itu kebetulan adalah gurubesar.dan semua tertawa terbahak-bahak. Mengapa demikian? Karena jawaban itu bagi gurubesar mudah mendapatkannya. Asal saja sebelumnya sudah diketahui apa pertanyaannya.

Sesungguhnya ketakutan terbesar seorang ilmuwan ialah menghadapi kenyataan bahwa ia tidak dapat menemukan pertanyaan-pertanyaan yang tepat yang dapat dijadikannya pencetus pemikiran apa saja yang harus dilakukannya dalam penelitian-penelitiannya. Kalau saja Dr. Barba menerima begitu saja bahwa mangga itu memang sudah wataknya berbunga pada musim tertentu, ia tidak akan sampai bertanya-tanya apa saja yang dapat merangsang pembungaan. Tidak pula ia akan sampai pada usaha untuk mengatur masa berbunga dan berbuahnya sehingga mangga dapat dihasilkan sepanjang tahun di seluruh wilayah Filipina.

Karena itu persyaratan pertama agar seorang ilmuwan itu siap berkreasi ialah bahwa ia selalu mempertanyakan segala sesuatu yang dihadapinya. Erat hubungannya dengan perilaku mempertanyakan segala sesuatunya ini, seorang yang bersikap kreatif mau tak mau selalu berpikir melawan arus.

Orang yang berpikir melawan arus dengan demikian tidak senang menjawab pertanyaan hanya dengan menggunakan rumus-rumus saja.

Orang Kreatif Tidak Bekerja Hanya dengan Kunci Pas

Pada suatu lomba tangkas matematika, dewan jurinya yang terdiri atas empat orang telah memilih dari beratus peserta empat orang finalis. Masing-masing anggota juri diberi kesempatan berwawancara dengan keempat finalis itu untuk menyusun skor penilaian. Dari empat anggota dewan juri tersebut tiga orang telah memberikan peringkat pertama sampai dengan keempat kepada keempat finalis itu dengan cara yang sesuai. Hanya saja yang keempat memberi penilaian berbeda. Yang dinilai tiga juri lainnya sebagai peringkat pertama, kedua, dan ketiga dinilai oleh juri keempat sebagai mendapat peringkat kedua, ketiga, dan keempat. Justru yang dinilai oleh ketiga juri lainnya sebagai pemenang keempat dinilai oleh juri keempat sebagai yang terbaik.

Mula-mula juri keempat merasa resah atas hasil penilaiannya yang aneh itu karena pandangannya itu memencil dari tiga orang anggota juri lainnya. Kemudian ketahuanlah mengapa terjadi perbedaan penilaian seperti itu. Semua soal yang dengan cepat dapat terjawab oleh ketiga finalis lainnya, dijawab secara hati-hati dengan memperlihatkan proses penurunannya oleh finalis yang diunggulkan juri keempat. Akan tetapi ada satu dari beberapa pertanyaan yang diajukan juri keempat hanya dapat dijawab dengan baik oleh finalis unggulan juri keempat tadi. Soal yang tidak dapat dijawab oleh finalis lainnya itu kebetulan tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengingat dan kemudian menerapkan rumus-rumus yang sudah tersedia saja, melainkan harus diuraikan terlebih dahulu menjadi beberapa unsur permasalahan. Tampaklah bahwa kebiasaan unggulan juri keempat itu hanya tidak mentah-mentah mengandalkan pada penerapan rumus membuatnya mampu menjawab pertanyaan juri keempat dengan baik akan tetapi membuatnya kalah cepat menjawab pertanyaan-pertanyaan rutin yang diberikan oleh anggota juri lainnya, karena ia tidak suka bekerja seperti montir yang mencoba-coba membuka baut dengan kunci pas.

Beberapa waktu yang lalu finalis ini berkunjung ke kamar kerja juri keempat membawa oleh-oleh gambar-gambar perjalanan antariksa dari NASA. Ternyata selain telah berhasil lulus sebagai insinyur mesin ruang angkasa ia juga pernah bekerja di laboratorium propulsi jet di Pasadena sewaktu liburan musim panas untuk menambah pengalaman dan biaya hidup selama menjadi mahasiswa Institut Teknologi Kalifornia. Rupanya di Amerika Serikat ia diterima juga menjadi mahasiswa di MIT dan Caltech setelah lulus SMA di Jakarta. Yang dipilihnya kemudian ialah institut yang kedua itu.

Sangat melegakan bahwa ia mendapatkan relung belajarnya di Institut termasyhur itu. Andaikata ia harus mencari tempat di belajar di Indonesia belum tentu ia dapat lulus dari ujian Sipenmaru. Kalau sikapnya demikian seperti dikemukakan di atas, pasti ia tidak dakan mau berpikir seperti montir yang memegang kunci pas dan sebagai akibatnya juga ia akan kekurangan waktu menjawab semua butir ujian.

Sistem Ujian Penghambat Pemikiran Kreatif

Sesungguhnya sistem ujian kita kerap kali memaksa orang berpaling dari kemampuan mencipta ke kemampuan menjadi pelayan kunci pas. Seorang dosen matematika dari ITB mengeluh bahwa mahasiswa barunya banyak yang tidak tahu bagaimana mencari akar persamaan kuadrat. Keluhan itu sangat menarik karena berdasar suatu kajian simulasi seorang mahasiswa jurusan Statistika di IPB menemukan bahwa mereka yang diterima di ITB seratus persen terdiri atas pemuncak 5 % lulusan SMA dari seluruh Indonesia.

Ternyata penyakit yang menyebabkan mahasiswa baru ITB itu tidak dapat mencari akar persamaan kuadrat disebabkan kebiasaan menjawab adalah uji pilih berganda yang digunakan baik di ujian-ujian sekolah maupun di ujian saringan masuk ke perguruan tinggi. Sewaktu menjawab suatu pertanyaan mengenai penentuan akar-akar suatu persamaan kuadrat dengan sistem pilihan ganda yang pilihan jawabannya sudah disediakan. Untuk memburu waktu memang kita tidak perlu mengingat rumus akar persamaan kuadrat, apabila menguraikan persamaan kuadrat itu menjadi dua faktor, sisipkan saja pilihan jawaban-jawaban yang tersedia itu kedalam persamaan kuadrat itu dan mana pilihan yang membuat nilai fungsi menjadi nol adalah akar yang dicari. Maka orang yang memilih dengan tepat akan dianggap memahami bagaimana cara mencari akar persamaan kuadrat. Padahal ia hanya memiliki kemampuan mencoba-coba saja.

Justru karena ujian masuk perguruan tinggi menggunakan sistem uji pilih berganda, banyak guru keliru berpendapat bahwa ujian seperti itulah yang paling baik untuk mengukur kemampuan muridnya. Cara berpikir menggunakan rumus ini pula yang menyebabkan orang keliru menanggapi seruan meningkatkan minat remaja untuk meneliti. Yang dilakukan untuk menggalakkan remaja meneliti ialah menggadakan penataran protokol penelitian. Metode penelitian dapat dipelajari sambil menangani permasalahan apa yang akan diteliti. Akan tetapi yang menjadi masalah utama sebelum sebelum orang dapat bergerak mengadakan penelitihan bukanlan bagaimana mengadakan penelitihan, bukanlah bagaimana melaksanakan langkah-langkah penelitihan, melainkan apa permasalahan yang akan diteliti.

Langkah-Langkah Pembantu Penemuan Masalah

Agar menemukan masalah seorang peneliti harus memiliki perilaku mempertanyakan segala sesuatu yang menarik perhatiannya. Kebalikannya, agar selalu dapat mempertanyakan peneliti itu harus dapat menemukan masalah. Untuk itu ia harus mampu berpikir dan bernalar secara kreatif. Ia harus menciptakan pengetahuan baru dan bukanya menerima sesuatu sebagai pengetahuan. Ia pun harus bernalar bukan dengan mencoba-coba mengisi rumus-rumus melainkan dengan mengingat kembali semua rumus itu dan mencoba menggabungkannya untuk menjawab permasalahan yang timbul.

Langkah apa kiranya yang dapat dipakai sebagai pegangan agar seorang lebih mudah menemukan masalah untuk diteliti? Pertanyaan ini memang perlu dijawab, akan tetapi kalau langkah-langkahnya sudah dipertelakan, pertelaannya itu mau tak mau adalah suatu perumusan lagi, dan peneliti yang berpegang teguh pada perumusan untuk menemukan masalah sekali lagi tejebak ke jalan berpikir yang dikendalikan oleh rumus. Dengan selalu mengingat bahaya yang mungkin mengancam kebebasan untuk berpikir ini, berikut ini diberikan langkah-langkah yang mungkin dapat membantu kita menemukan masalah untuk dipakai sebagai sumber membuat pertanyaan-pertanyaan.

  1. Carilah keanehan-keanehan yang menyimpang dari keteraturan yang biasa diamati. Asril Astaman, seorang siswa SMA dari Bangkinang, misalnya, menemukan keanehan sewaktu bapaknya menebangi semak-semak disekitar kolam ikan. Tiba-tiba saja anak ikan gurami lenyap dari tepi kolam, dan akhirnya tahulah ia bahwa akar-akar semak-semak yang menjorok kedalam kolam menjadi tempat berlindung anak ikan gurami dari pemangsanya.
  2. Dengarlah keterangan orang mengenahi keanehan itu, bukan untuk langsung dianggap benar, melainkan untuk dipakai sebagai sumber bertanya-tanya. Tanpa mempunyai kesabaran mendengarkan keterangan mengapa sesuatu itu seperti itu, seorang peneliti dapat terjebak menghadapi malapetaka seperti seorang kontrolir muda Belanda disungai Dareh yang memerintahkan menegangkan kawat baja penambat rakit penyebrangan yang melintang diatas sungai Batang Hari. Sewaktu keesokan harinya kapal sungai melewati rentangan kawat baja itu, para kelasi sudah mendorong kawat keatas agar cerobong kapal sungai tidak tersangkut. Akan tetapi karena kabel baja sudah ditegangkan hal itu tidak dapat dilaksanakan dan kapal sungai terbalik. Diantara penumpang yang tenggelam adalah istri kontrolir yang baru saja dinikahinya.
  3. Kumpulkan data melalui pengamatan-pengamatan pendahuluan untuk membantu mempertajam pertanyaan-pertanyaan yang kemudian akan dipakai menyusun pendapat sementara mengenai permasalahan yang dihadapi itu. Jangan terburu-buru mencoba menulis usulan penelitihan sebelum mendapatkan garis besar gambaran permasalahan tepat.
  4. Uraikan permasalahan itu menjadi golongan-golongan permasalahan, sehinggan penanganan permasalahan dapat dilakukan bertahap.
  5. Tegarkan membuat hipotesis yang berani, melalui perumusan yang berani pula. Kalau perumusan itu salah, nanti akan diungkapkan juga oleh data yang telah dikumpulkan, kalau hipotesis yang disusun tidak "berani", mustahillah ada kesempatan menemukan pengetahuan baru yang orisional.
  6. Upayakan menemukan penjelasan yang wajar saja atas keanehan-keanehan yang ditemukan dan akan dijadikan pengetahuan baru. Orang yang bersikap kreatif tidak akan berhenti pada penjelasan bahwa data yang diperoleh tidak bertentangan dengan hipotesis atau bertentangan dengan hipotesis. Penjelasan itu harus didasarkan pada pengetahuan-pengetahuan, kaidah-kaidah, dan rumus-rumus yang sebelumnya sudah diterima kebenarannya.
  7. Tolaklah mengikuti kaidah-kaidah yang berlaku kalau terasa bahwa aturan-aturan itu mengekang kreasi. Biasanya, begitu suatu paradigma terasa menghambat kreasi maka hal itu pertanda bahwa paradigma itu sudah kuno. Biasanya yang berani membongkar paradigma adalah ilmuwan muda usia yang belum terikat pada kemampuan berpikir. Perilaku seperti itu mungkin sekali tidak disenangi oleh masyarakat, akan tetapi justru karena hal inilah kemampuan berkreasi seseorang dapat terhambat dan kemajuan ilmu pengetahuan terjerat. Karena itu masyarakat juga harus belajar memengang "pembangkangan" ilmuwan terhadap kaidah-kaidah yang dianggap tidak masuk akal, apabila memang benar diinginkan agar bangsa kita menjadi penguasa ilmu.
  8. Selalulah bertanya "Apa sebabnya" apabila menghadapi suatu pengetahuan lama. Kalau kebiasaan ini tidak dimiliki, tidak akan pernah dapat terciptakan pengetahuan baru.
  9. Mengkhayallah dengan bebas. Ingatlah bahwa suatu ciptaan adalah hasil suatu khayalan. Perjalanan ruang angkasa sudah diceritakan oleh Jules Verne dan Perang Bintang sudah dipraktekkan dalam pagelaran cerita-cerita pewayangan jauh sebelum Presiden Ronald Reagan berfikir kearah itu. Tanpa mengkhayal terlebih dahulu tidak mungkin menghasilkan suatu ciptaan. Mungkin juga hal inilah yang menjadi alasan mengapa orang Barat memerlukan penyajian dongeng-dongeng khayal kepada anak-anak mereka, agar daya khayal mereka terlatih, sayang sekali setelah mengkhayal, kita tidak banyak berusaha menjadikan khayalan itu menjadi kenyataan.
  10. Jangan takut berbuat kesalahan. Kesalahan adalah pengalaman yang menghindarkan pembuatan kesalahan yang sama dimasa depan. Kesalahan juga mempermudah pemahaman berbagai masalah yang sulit, karena membuka jalan tinjauan dari pandangan yang lain.

Ciri seorang ilmuwan ialah bahwa ia harus mampu menciptakan pengetahuan baru. Demikian pula seorang teknologiwan harus mampu menemukan pemanfaatan baru ilmu dan pengetahuan menjadi teknologi. Untuk itu ilmuawan dan teknologiawan harus memiliki daya cipta yang tinggi. Daya cipta yang tinggi hanya mungkin dimiliki seseorang apabila ia mempunyai sikap tidak mudah percaya akan hal-hal yang dianggap orang sudah benar dan wajar.

Oleh karena itu ia selalu harus memiliki kebiasaan bertanya-tanya. Akibatnya, pandangannya sering lain dari pandangan yang berlaku secara umum sehingga sering sekali ia harus memiliki keberanian untuk berpendapat yang melawan arus. Hal inilah yang sangat berat menekan perasaan seorang ilmuan sejati. Karena didalam masyarakat berlaku perilaku primodial yang digambarkan oleh pepatah dikalangan masyarakat etnik Tapanuli yang berbunyi :

Hata mamunjung, hata lalaen
Hata na torop, sabungan ni hata

Yang artinya kira-kira "pendapat tunggal adalah pendapat orang gila, pendapat orang banyak adalah pendapat yang terhormat".

Bukan saja adat-istiadat di Indonesia yang kadang-kadang tidak sejalan dengan perilaku yang harus dimiliki seseorang ilmuwan dan teknologiwan. Kalangan agamawan pun sering mengemukakan pandangan yang tidak menguntungkan bagi ilmuawan yang ingin mempertahankan pandangan yang diyakininya. Hal ini misalnya dapat dibaca dalam terjemahan karya Imam Ghazali oleh Abdullah bin Nuh berupa hadis: Orang-orang yang asalnya benar, tetapi kemudian sesat, itu dimulai karena suka berbanta-bantahan dan sebagian besar penghuni surga itu adalah orang-orang yang berfikiran sederhana saja. Kalau kedua hadis ini diterapkan secara luas kedalam upaya memburu pengetahuan baru, resikonya adalah bahwa orang tidak berani memiliki pikiran sendiri.

KEPUSTAKAAN

[1]Medawar, P.B. 1979. Advice to a Young Scientist. Harper Colophon Books, New York ( diterjemahkan menjadi Nasehat untuk Ilmuwan Muda oleh Andi Hakim Nasoetion, Yayasan Obor, Jakarta, 1991)
[2]Nuh, Abdullah bin. 1986. Menuju Mukmin Sejati. Tenaga Tani, Jakarta
[3]Schank, R. dan P. Childers. 1988. The Creative Attitude Learning to Ask and Answer the Right Questions. MacMillan, New York