back
Serambi MADURA http://zkarnain.tripod.com/
Internet Based Life-long e-Learning Environment
for Maintaining Professional Vitality

Radar Madura
Jumat, 06/10/2000
Jawa Pos


Tengkulak dan Petani Tembakau Terus Menjerit
Sedangkan Para Pemilik Gudang Menimbun Dengan Harga Murah

PAMEKASAN - Dimasa masa akhir musim panen tembakau ternyata penderitaan masyarakat makin memuncak. Bukan hanya kalangan petani yang rugi karena tembakaunya dibeli murah, namun kalangan bandul atau tengkulak juga mengalami nasib serupa. Siapa yang bikin ulah sehingga mereka menderita ?

Beberapa kalangan tengkulak menduga semrautnya harga tembakau ini akibat ulah pengusaha besar atau kalangan pemilik gudang. Kalangan tengkulak atau bandul yang tergabung dalam Perkumpulan Pengusaha tembakau Djawa (PPD) menuturkan, selain harga tembakau saat ini sangat murah, mereka mengaku kekurangan modal. Karena banyak tembakau mereka yang telah terjual ke gudang namun belum dibayar. "Kalau uang kami belum dibayar oleh mereka, maka apa yang akan kami jadikan modal kerja mas, " tutur Fery aliar Bukarah Ketua PPD.

Dia menegaskan pada musim penen tembakau tahun ini nasip tengkulak dan bandul lebih parah dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Dikatakan hal itu terjadi karena kalangan pengusaha besar sekarang ini kurang memperhatikan nasib pegusaha kecil. "Caranya dengan menggembor gemborkan kita tidak boleh mendatangkan tembakau Jawa, padahal pengusa besar yang punya jaringan dengan perusahaan rokok banyak mendatangkan sendiri," ungkap Fery.

Ia menyayangkan sikap Asosiasi Pengusaha Tembakau Madura (APTM) yang dinilainya tidak banyak berguna dalam menangani tata niaga tembakau diu Madura. "Dengan adanya APTM seharusnya kami kalangan pedagang kecil ini ditata sedimikian rupa agar kami bisa bertahan. Yang terjadi sekarang ini pedagang kecil malah makin terperosok. Karena kami ini tidak punya kemampuan modal besar dan hubungan langsung dengan perusahaan rokok, " tandasnya.

Dia juga membantah jika ada persepsi bahwa penyebab anjloknya harga tembakau disebabkan oleh masuknya tembakau Jawa ke Madura. Menurut dia issu tentang masuknya tembakau Jawa ke Madura hanya dibesar besarkan oleh pedagang besar atau pemilik gudang untuk bisa membeli tembakau dari tengkulak atau bandul dengan harga murah. Padahal mereka sendiri, lanjut Fery juga mendatangkan tembakau jawa.

"Perlu diketahui bahwa jumlah tembakau Jawa yang didatangkan ke Madura tahun ini lebih sedikit dibandingkan dengan tahun lalu. Tapi mengapa harga tahun lalu lebih baik dari tahun ini. Yaitu dipolitisir oleh agar kami ini tidak berdaya sehingga mereka bisa seenaknya membeli tembakau kami dengan harga murah. Kami tidak berdaya sekarang ini, " jelas Fery.

Sementara itu Muhsin Hamid, seorang tengkulak lainnya mengatakan belakangan ini ada upaya pemilik gudang untuk menimbun tembakau sebanyak banyaknya. Tujuannya untuk dijual pada saat awal tahun 2001 nanti.

"Sekarang ini mas harga tembakau rata-rata Rp 6 ribu bahkan ada yang Rp 4 ribu. Sekarang para pemilik gudang itu membeli lagi untuk dijual tahun 2001 nanti kepada perusahaan rokok. Bagi mereka yang punya modal enak, kami yang tidak punya akhirnya kelabakan apalagi banyak uang kami yang masih ada di mereka. Jadi kami praktis tidak bisa bergerak, " ungkap Muhsin.

Kepada pemerintah Fery maupun Muhsin meminta agar bijaksana dan cermat melihat permasalahan tata niaga tembakau. "Kami minta tolong bagiamaa caranya agar tata niaga ini benar benar stabil seperti tahun tahun sebelumnya. Kami ingin juga mendapat keuntungan seperti pedagang besar itu. Terus terang kami rugi terus hanya kami tidak bisa berbuat banyak, " keluh Muhsin. (dwi)