back
Serambi MADURA http://zkarnain.tripod.com/
Internet Based Life-long e-Learning Environment
for Maintaining Professional Vitality

Radar Madura
Selasa, 03 Oktober 00
Jawa Pos


LSM Di Madura Banyak Melenceng Jauh Dari Missinya

PAMEKASAN - Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Madura masih belum berjalan optimal sesuai dengan fungsi asalnya. Bahkan organisasi yang dikenal dengan NGO ( Non Goverment Organisation) ini sering tampil sebagai lembaga yang tak jauh berbeda dengan lembaga pemerintah yang bergerak dibidang pelaksana proyek. Akibatnya kehadiran LSM belum banyak berarti bagi pemberdayaan masyarakat Madura.

Hal itu diungkapkan Ir Hazin Mukti Direktur Pelaksana Lembaga Pusat Penelitian dan Pengembangan Madura (LP3M) Pamekasan, saat melakukan diskusi dengan crew Radar Madura di Rumah Makan Lesehan Tanian lanjang Jl. Sruni Pamekasan. Sabtu (30/9) kemarin. Diskusi ini digelar sebagai acara tambahan dalam rapat bulanan crew Radar Madura, yang secara kebetulan pada akhir September ini dilaksanakan di Pamekasan.

Menurut Hazin Mukti, selain banyak LSM yang melenceng dari jati dirinya di Madura masih belum banyak muncul LSM yang secara spesifik bergerak bidang tertentu sesuai dengan kebutuhan masyarakat Madura. Ia mencontohkan tentang persoalan pemberdayaan perempuan di Madura yang sangat mendesak untuk digarap. Namun kenyataannya tidak ada sama sekali LSM yang konsisten untuk masalah itu.

Akibatnya maka proyek pemberdayaan perempuan yang belakangan ini diluncurkan oleh pemerintah akhirnya ditangani oleh LSM yang tidak relevan. "Padahal dana untuk proyek pemberdayan perempuan itu besar. Sekarang ditangani oleh LSM yang dekat pemerintah. Inilah akibatnya," tutur Hazin.

Tentang LSM di Madura yang kini mulai merubah orientasi, Hazin Mukti menilai hal tersebut sebagai sebuah kemunafikan. "LSM di era reformasi ini khususnya di Madura, kerjanya hanya menunggu proyek dari pemerintah bahkan saling berebutan. Padahal essensi gerakan LSM itu seharusnya menjauh dari keterikatan dengan pemerintah. Tapi yang terjadi di Madura ya seperti ini, " tegasnya.

Terkait dengan masalah itulah, Hazin meninformasikan bahwa saat ini telah dibentuk semacam Asoiasi LSM di Jawa Timur, yang bertugas memotivasi dan mengarahkan agar LSM yang ada bisa berjalan optimal sesuai dengan visi dan orientasinya. Asosiasi itu juga yang akan menjadi fasilitator antara LSM dengan lembaga dana. Dia sendiri megaku menjadi anggota dalam Asosiasi itu yang mendapat tugas untuk mendata keberadaan LSMN LSM di Madura.

Terhadap lembaga pemerintah terkait, misalnya Bappeda. Hazin menilai saat ini banyak yang tidak kreatif untuk menyusun strategi guna menyauti banyaknyua dana program yang dikucurkan pemerintah pusat. "Menurut saya Bappeda itu bukan hany ''pelaksana'' proyek namun harus bisa menyusun rencana kegiatan yang konkrit melalui penelitian dan perencanaan yang matang. Jangan hanya menerima dana lalu ''dikerjakan'' bersama orang orang dekatnya, kemudian dilaporkan selesai. Bukan begitu," ungkapnya

Bappeda, lanjut Hazin harus menjadi tink tank di daerah untuk meneliti, potensi dan kekurangan daerah dari segala aspeknya. "Atinya jika nantinya ada dana dari pemerintah, maupun dari luar negeri yang biasanya juga lewat pemerintah maka instansi ini bisa kreatif. Dan tidak lupa juga harus melibatkan LSM yang profesional. Bukan hanya LSM milik orang dekat okum Bappeda sendiri, " katanya.

Menyinggung tentang kesiapan Madura dalam menghadapi otonomi daerah, Sia menilai banyak daerah tingkat II yang belum siap. Bukan hanya perangkat hukum dan perundangannya yang belum selesai dan belum difahami secara utuh. Namun juga banyak daerah tingkat II yang mengalami masalah internal, sehingga sulit menerapkan otonomi daerah. Sampang misalnya dinilai juga akan mengalami kendalam akibat persoalan [politik yang tak kunjung selesai.

Karena itu ia meminta agar Radar Madura slektif mencari tema aktual yang bisa dikedepakan untuk menggiring dan mempersiapkan Madura dalam menghadapi Otoni daerah ini. "Saya pikir informasi teoritis tentang otonomi daerah itu apa, bagaimana implementasinya, disini Radar Madura sangat dibutuhkan. Sebagai koran yang memiliki motto Mengawal Reformasi dan Otonomi Daerah, maka saya mengharap Radar Madura intensif mengangkat masalah ini, " katanya. (dwi)