back
Serambi MADURA http://zkarnain.tripod.com/
Internet Based Life-long Learning Environment
for Maintaining Professional Vitality

DAERAH
Senin, 18 September 00
SURYA


Said Aqiel: Caretaker-kan Bupati Sampang!

Pamekasan: Kasus pemilihan bupati (Pilbup) Sampang yang menimbulkan polemik, kemudian muncul pengerahan massa, hingga terjadi penyegelan kantor dan pembakaran gedung DPRD, mendapat sorotan wakil Rois Aam PBNU, Prof Dr KH Said Aqiel Siradj MA.

Ia menilai, kejadian di Sampang merupakan tragedi kemanusiaan, karena sesama warga NU saling berbenturan. Karena itu, ia berharap mudah-mudahan dalam waktu dekat persoalan Sampang yang masih berlarut-larut itu cepat selesai dan situasinya membaik.

"Untuk mencari jalan keluar dan menuntaskan persoalan Sampang, beberapa waktu lalu kami dan beberapa pihak telah melakukan dialog dengan Wakapolri," ujar Prof Said Aqiel Siradj, seusai memberikan sambutan dalam Tabligh Akbar Madura Peduli Bangsa, di lapangan Pembantu Gubernur Wilayah VI Pamekasan, Minggu (17/9).

Hadir dalam acara itu, Bupati Pamekasan Drs H Dwiatmo Hadiyanto, sejumlah pengurus PWNU Jatim, Koordinator NU Wilayan Madura, KH Hamid Mannan BA dan pengurus PCNU se Madura.

Kepada Surya, KH Aqiel Siradj mengatakan, untuk menuntaskan kasus Sampang, hukum harus ditegakkan dulu, kemudian dilakukan rekonsiliasi. Tetapi bila masih belum selesai dan tak ada titik temunya, jabatan Bupati Sampang sebaiknya di-caretaker-kan.

"Kalau salah satunya kita bela mati-matian, maka hanya akan memperuncing persoalan. Karena kami sarankan, jika terpaksa caretaker-kan saja jabatan Bupati Sampang. Ini merupakan pertimbangan terbaik untuk meredakan persoalan di Sampang," tandasnya.

Menyayangkan

Sementara itu, Ketua Ikatan Keluarga Madura (Ikamra) Pusat, H Ali Badri Zaini menambahkan, ia menyayangkan kasus Sampang hingga melibatkan massa. "Jadi masyarakat Madura jangan mau diadu domba, hanya karena persoalan pilihan lurah atau pilihan bupati," kata H Ali Badri.

Menurutnya, masyarakat Madura tak mudah terprovokasi, malah memberikan banyak kontribusi pada pembangunan. Salah satu contoh ketika Madura gelap gulita akibat listrik padam, dan kasus Sambas yang dianggap musibah, masyarakat Madura tidak dendam.

Disinggung kebiasan masyarakat Madura membawa senjata tajam sehingga identik dengan clurit, Ali Badri menjelaskan, itu merupakan bagian dari budaya kebiasan masyarakat Madura, kalau keluar rumah membawa senjata tajam, terutama di malam hari.

"Masyarakat Madura tidak identik dengan premanisme. Kebiasan itu untuk berjaga-jaga dari gangguan pihak luar atau binatang buas, sehingga harus waspada. Namun itu bukan untuk mencelakakan orang lain, apalagi sesama warga Madura sendiri," tandasnya. (sin)