back
Serambi MADURA http://zkarnain.tripod.com/
Internet Based Virtual Life-long Learning Environment
for Maintaining Professional Vitality

SENI HIBURAN
Selasa, 04 Juli 00
Surabaya Post


Zawawi Imron: Perlu Perawatan Nurani dalam Berkesenian

Malang - Surabaya Post
Penyair Madura berjuluk "Si Celurit Emas" kembali hadir di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Penyair asal Madura itu menjadi salah satu pembicara dalam "Sarasehan Kebudayaan Islam" yang juga dihadiri Ketua MPR M. Amien Rais PhD, sastrawan Taufiq Ismail, serta pengamat sastra Abdulhadi W.M.
Menurut Zawawi, perawatan nurani sangat diperlukan dalam kehidupan berkesenian. Berkesenian tidak bisa disekat-sekat berbagai hal yang bersifat formalistik.
Karya seni yang digarap dengan hati nurani akan memiliki napas keabadian. "Biasanya, ketika kita menjadi modern, hal-hal yang berbau tradisional terus dihabisi. Seharusnya kita selektif mana yang perlu dibuang dan yang tidak," tuturnya, Minggu (2/7).
Dia mencontohkan, puisi-puisi karya pujangga lama seperti Chairil Anwar, memiliki ciri-ciri keabadian. Begitu pula dengan lagu Ilir-ilir yang kini banyak diaransemen ulang, justru lebih banyak diingat orang daripada lagu Denpasar Moon yang dinyanyikan Maribeth, penyanyi asal Pilipina itu.
Dia mengkritik, banyak masyarakat yang silau akan sesuatu sehingga esensi dasarnya justru hilang. "Siapa pun yang menulis dengan fitrah, itu berarti (hidayah) dari Tuhan," ujar pencipta puisi Malam Lebaran itu.
Ibaratnya, bintang yang bentuk aslinya bulat sebagaimana bulan atau bumi, justru digambarkan bersegi lima. Itu menunjukkan, yang dilukis seseorang bukan bentuk asli, tapi wujudnya saat diliputi cahaya.
Zawawi menyatakan, dia tidak keberatan ada ikatan kebudayaan Muhammadiyah atau ikatan kebudayaan NU yang berdiri di masyarakat. Alasannya, kebudayaan atau kesenian merupakan bahasa nurani yang bisa dinikmati siapa pun.
"Saya ingin kesenian bisa menjadi rahmatan lil alamin. Senyum kepada sesama saja itu merupakan sodaqoh," tambahnya.
Menurut dia, dibutuhkan kecerdasan dalam mengerti suatu kebudayaan. Kesenian sekarang dia nilai terpinggirkan dan kalah dengan budaya dari Barat/asing. Padahal banyak hasil seni tradisional yang bagus.
Di akhir sesi, dia membawakan dua puisi tanpa teks. Masing-masing berjudul Hutang dan Sungai Kecil. Seperti puisi-puisi yang sering dia bawakan, kedua puisi itu juga bernuansa religius, di samping mengagungkan sungai ciptaan Allah. (dia)