back
Serambi KAMPUS https://zkarnain.tripod.com/
Internet Based Life-long Learning Environment
for Maintaining Professional Vitality

Webmaster

Iskandar Zulkarnain
Chief Executive Editor

Informasi

PadepokanVirtual

URL

http://w3.to/padepokan
http://welcome.to/madura
http://travel.to/kampus

Surabaya Post
JAWA TIMUR - Minggu, 26 Maret 2000

Peneliti UMM: Cabe Jamu Pamekasan Diprioritaskan

Malang - Surabaya Post

Cabe jamu (piper retrofractum vahl.) merupakan produk unggulan Kab. Pamekasan. Tim peneliti dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) merekomendasikan cabe jamu itu sebagai komoditas prioritas untuk dikembangkan.
"Prospek pasarnya masih sangat terbuka dan harga begitu tinggi," ujar Dr Bambang Widagdo, ketua tim peneliti yang merupakan kerja sama antara Pemda Tk. I Jatim (Bappeda) dan UMM di ruang kerjanya, kemarin.
Dijelaskan, landasan kerja sama itu sebenarnya merupakan tindak lanjut dari Gerakan Kembali ke Desa (GKD) yang digagas mantan Gubernur Jatim, M. Basofi Soedirman. Gagasan itu ditangkap Bappeda Tk. I Jatim dan menggandeng 20 PTN/PTS se-Jatim.
Institut Pertanian Malang (IPM) mendapat jatah meneliti di Kab. Pasuruan, UMM khusus Pamekasan, Univ. Islam Malang (Unisma) di Lumajang, sedangkan Unibraw konsentrasi ke Malang dan Madiun. Misinya, mengangkat produk unggulan.
Khusus di Pamekasan, Lembaga Penelitian (LP) UMM menerjunkan 12 penelitinya selama enam bulan berlangsung tahun lalu. Hasilnya, ada lima produk unggulan yang layak dikembangkan, cabe jamu, batik, jeruk, siwalan, dan durian.
Rekomendasi LP UMM, cabe jamu. "Apalagi berdasarkan rakorbang sampai tingkat kecamatan di Pamekasan, cabe jamu dijadikan prioritas," ujar Bambang. Itu mengacu pada potensi dan peluang pasar.
Menurut Kadisbun Pamekasan, Ir Moh. Rasyid, luas areal cabe jamu di daerahnya mencapai 300 ha. Produktivitas rata-rata per ha mencapai 2 ribu/tahun. Dengan harga rata-rata setiap panen Rp 20 ribu/kg, uang yang beredar di petani Rp 12 miliar.
"Harganya yang sangat menarik inilah yang memicu gairah petani," ujarnya. Di daerahnya, masih ada 4 ribu ha untuk pengembangan. Sedangkan di wilayah Madura (Sumenep, Sampang, Bangkalan, dan Pamekasan), areal cabe jamu tercatat 8.996 ha.
Banyak keuntungan bisa dipetik dari tanaman asli Indonesia itu. Budi dayanya mudah, bisa dipanen saat usia tanaman 1-2 panen, serangan hama relatif rendah, tidak butuh lahan khusus dan harga tinggi.
Awalnya, cabe jamu ditanam sebagai tanaman pagar. Harganya waktu itu cuma Rp 2.000/kg (kering). Setelah diserap industri jamu, harganya melonjak. Saat ini, di pasaran lokal saja Rp 11 ribu-Rp 12 ribu/kg. Harganya melonjak lagi ketika diekspor.
"Karena gairah petani Pamekasan tinggi, maka dari dana penelitian sebesar Rp 75 juta, sebanyak Rp 10 juta kami jadikan dana stimulan untuk mereka," timpal Bambang. Apalagi masalah permodalan menjadi kendala utama petani. (tuf)

atas