back
Serambi KAMPUS http://zkarnain.tripod.com/
Internet Based Virtual Life-long Learning Environment
for Maintaining Professional Vitality

Milenium
Kamis, 30 Desember 1999
Media Indonesia


Dari Teknologi Kentongan Hingga Tenun Lurik

Oleh Prof Liek Wilardjo *)

ADA yang bilang teknologi adalah sains yang diterapkan untuk memajukan ekonomi melalui industri. Jadi, pada dasarnya teknologi adalah buah pikirannya (brainchild) sains. Ada pula yang mengatakan teknologi, baik yang memanfaatkan sains, maupun yang tidak, jelas bukan sains. Ia adalah cabang etika. Tujuannya menghadirkan kebaikan yang bertumpu pada pertimbangan yang sehat bagi masyarakat dan menyediakan sarana yang efisien untuk meraih kebaikan itu. Bukankah menghadirkan summum bonum ini tujuan etika?

Apa pun takrifnya, teras teknologi berupa kegiatan yang disebut perekayasaan yakni kegiatan untuk mempersembahkan perubahan terbaik. "Terbaik" ini idealnya menurut persepsi masyarakat tempat teknologi itu hendak dimanfaatkan untuk menyelesaikan masalah-masalah konkret aktual yang dihadapinya. Jadi, bukan menurut kekuatan ekonomi yang menaja litbangnya dan akan memasarkan hasilnya. Kualifikasi idealnya perlu digarisbawahi, sebab realitas (das sein) bisa jauh berbeda dari desiderata (das sollen). Walaupun ujung-ujungnya warga masyarakatlah yang harus memikul biaya litbang itu dan menanggung risiko kegagalan atau efek sampingnya yang merugikan, tangan-tangan tak tampaknya teknostruktur ala Galbraith jualah yang menyutradarai drama kelahiran teknologi baru. Hanya di negara-negara maju yang demokratis, warga masyarakat dapat menyudahi riwayat suatu teknologi atau bahkan mematikannya sebelum teknologi tertentu sempat beraksi. Rakyat Swedia menghapus PLTN (energi nuklir) di negerinya. Rakyat Amerika menolak pengoperasian SST (supersonic transport) yang sebenarnya mampu menyaingi concorde dan tupolev.

Upaya menghadirkan kebaikan ini terkendala. Kendalanya antara lain kurangnya dana, terbatasnya waktu, tak tersedianya pengetahuan keilmuan yang diperlukan, tantangan kelompok penekan yang menolak teknologi itu. Karena itu, setiap teknologi ada bagiannya yang dirancang dengan "meraba-raba di dalam gelap," dengan cara "ralat dan galat" (trials and error). Bahkan bila praktis tak ada kendala apa pun, teknologi dirancang-bangun dengan berpegang pada sejumlah kiat (lepif; rules of thumb). Kiat ialah pedoman praktis yang bila dicermati belum tentu benar secara keilmuan, misalnya, hanya merupakan hampiran kasar dari "rumus" yang benar. Himpunan kiat atau heuristic itu, yang dipakai dalam perancangan teknologi yang paling canggih di kelasnya dan paling maju di zamannya, disebut SOTA (state of the art).

Teknologi tradisional

Teknologi tradisional ialah teknologi yang dapat dibuat sendiri dan dipakai secara turun-temurun suatu masyarakat. Dari waktu ke waktu ada, tetapi tak banyak, inovasi yang dilakukan pada teknologi ini, baik dalam rancangannya, maupun bahan-bahannya. Di Indonesia, teknologi tradisional di bidang telekomunikasi ialah kentongan beserta perangkat lunaknya, yakni berbagai isyarat bunyinya dan maknanya masing-masing. Ada yang disebut titir (bertalu cepat dengan irama tetap), ada dara muluk (merpati membubung), ada yang memberi tengara datangnya banjir, tanda untuk mengejar maling, ada kebakaran, dsb. Bahkan ada yang dipakai gerakan KB untuk mengingatkan saat minun pil kontraseptif.

Di bidang pertanian dan perikanan secara tradisional kita telah memanfaatkan cangkul, ketam, sabit, bajak, bubu, jala, dsb., sedang untuk pertukangan ada dandang, linggis, tatah, pasak. Konstruksi atap rumah pun berbagai ragam, seperti limasan, joglo, bentuk atap rumah adat Minang, Toraja, dll. Ternyata aspek ventilasi dan penyamanan udara telah diperhitungkan dalam konstruksi ini, walau barang tentu hanya berdasarkan kiat-kiat yang para undagi sudah hafal sekali.

Teknologi persenjataan tradisional meliputi senjata tajam seperti badik, mandau, rencong, keris, patrem, tombak, panah, dan sejenisnya. Pamor keris-keris pusaka yang dianggap sakti, yang disebut tosan aji (tosan = besi; aji = raja/bernilai tinggi), merupakan lakur (alloy) logam-logam langka, seperti titanium. Ini diketahui dari hasil penelitian Harjono Arumbinang, APU di PPNY-BATAN beberapa tahun yang silam. Entahlah, apakah pandai-besi di zaman dulu sudah menguasai metalurgi amalgamasi. Konon pelakuran itu dilakukan empu keris itu dengan ilmu gaib, dengan memakai logam-logam yang terdapat dalam batu meteor(it). Secara tradisional kita juga sudah tahu bagaimana merawat senjata pusaka itu dan bagaimana mewaranginya (dengan arsen) sehingga goresannya bisa fatal.

Teknologi di Awal RI

Sejak kita merdeka, semua layanan masyarakat harus kita jalankan sendiri, termasuk yang bersangkutan dengan teknologi SS (staatspoorweg) menjadi DKA (Djawatan Kereta Api), ANIEM (Algemene Nederlands-Indische Electriciteit Maatschappij) menjadi PLN, sedang PTT (Post, Telegraaf en Telefoon) hanya diubah ejaannya. Pesawat teleponnya masih ada yang ontelan dan sambungannya harus diminta dari telefoniste atau telefoonjuffrouw (gadis penyambung telepon) di sentral. Gardu trafo di kota masih memakai peringatan lama : Levensgevaar!!! Di bawahnya ditulis dengan aksara Jawa : "Sing ngemok mati" ("yang menyentuh mati".)

Pabrik es di kota kami yang daur pendinginanya dijalankan dengan kincir beruji lima meter dibendung kanal Kedung Putri, beroperasi lagi. Di zaman Jepang, pabrik itu disulap menjadi pabrik lembaran karet. Juga ada pabrik kertas merang dan pabrik sabun cuci batangan yang sodanya dibuat dari jerami. Ada pula industri rumah tangga yang mesinnya dijalankan dengan tenaga elektrik, seperti pabrik limun milik Nyah Liem Mo Djien dan broodbakkerij (tukang roti) "Petrus". Pabrik tenun lurik milik Toko Lo masih padat-karya dan menggunakan ATBM. Kleermaker (tukang jahit) Babah Gan memakai mesin jahit merk "Singer", model genjotan kaki.

Kendaraan bikinan Jepang belum masuk ke Indonesia. Yang ada automobiel (mobil) dan vrachtauto (truk) Chevrolet, Studebaker, Pontiac, de Soto, Fargo dan sejenisnya. Motor besar sudah ada, seperti BSA, BMW, DKW dan Sunbeam serta Zundapp. Bahkan ada yang beroda tiga, dengan zijspan (kereta tempel-sisi). Sepeda merk simplex, Rayleigh , Batavus, Fongers dan Gazelle merupakan kendaraan pribadi yang terbilang mewah. Pengontelnya merasa gagah. Apalagi kalau lampunya merk Barco dan dinamonya Bosch! Untuk pengaspalan jalan dipakai stoomwals yang disebut "slender". Coldmix belum ada; aspalnya harus dipanaskan dengan kayu bakar.

Kita sudah mampu mengoperasikan teknologi asing itu. Juga mampu merawatnya, dan menangani sendiri reparasi kecil bila terjadi kerusakan. Tetapi melakukan inovasi terhadap teknologi imporan itu kita belum bisa; apalagi membuat rancangan sendiri!

TV masuk ke Indonesia awal tahun 60-an, setelah TV hitam-putih Rusia yang pendaran tabirnya kehijauan dipamerkan untuk pertama kalinya di Pekan Raya Dwiabad Yogyakarta. Selama empat dasawarsa sejak itu, kita melakukan alih-teknologi. Yang relatif berhasil adalah di bidang industri petrokimia, seperti kilang minyak dan pabrik pupuk buatan, dan di bidang konstruksi sipil, seperti pembangunan jembatan dan gedung bertingkat. Di bidang yang disebut terakhir ini bahkan ada inovasi yang terbilang mencuat, yakni fondasi cakar ayam Sedyatmo dan bahusasra Tjokorda.

Inovasi teknologi lainnya ialah perencanaan tenaga elektrik. Perangkat lunak yang dihasilkan Dr Zuhal agaknya cukup bagus, sehingga ia memperoleh gelar profesor dan programnya konon dipakai oleh ADB. Energy planning sangat sulit. Bahkan program bikinan negara-negara maju yang berkelas internasional pun, lazimnya proyeksinya meleset (ke atas) dari kebutuhan nyata.

Inovasi kecil-kecilan yang tak mendapat perhatian memadai juga terjadi. Laksma (Purn) dr Soedadi Effendi, SpOG, misalnya, merancang sendiri pelengkapan kamar bedah obstetri-ginekologi di Lanuma Iswahyudi, Madiun.

Alih-teknologi, inovasi teknologi, dan usaha ke arah perancangan teknologi bumiputra (indegenous) yang terencana dan dalam skala serta dengan modal besar dilancarkan oleh Habibie, terutama melalui pengembangan industri strategis seperti IPTN, Pindad, dan PT PAL. Hasilnya, misalnya, helikopter Jerman dan pesawat sayap-tertambat baling-baling (fixed-wing propeller airplane) CASA rakitan IPTN. Juga CN-235 yang konon dirancang sendiri oleh putra-putri Indonesia, walaupun masih bekerja sama dengan CASA. Lalu ada N-250. Katanya, sih, yang satu ini benar-benar hasil karya ahli-ahli teknik kedirgantaraan kita. Adapun jet DSTP yang sedianya akan dibidani Ilham Habibie, entah bagaimana nasibnya. Perusahaan yang membotohi rencana kelahiran "Sasi Kirana" (putra Gatotkaca) ini sudah gulung tikar.

PT PAL juga telah meluncurkan kapal-kapal yang dibangunnya di Surabaya. Tetapi untuk kapal penumpang dan kapal perang kita masih membeli dari luar negeri, termasuk kapal-kapal ex-Jerman Timur yang pembeliannya konon tidak "sreg" di hati Menkeu Mar`ie Mohammad dan Menhan Eddy Soedradjat. Pindad juga telah mampu memproduksi peluru dan beberapa jenis senjata api. Konvensional, tentu saja!

Seberapa berhasilnya alih dan pengembangan teknologi ini, Wallahu Allam Bissawab. Soalnya, belum ada evaluasi komprehensif yang terbuka bagi publik. IPTN sendiri baru-baru ini mengakui tak berharap memetik keuntungan sampai tahun 2003. Bisa memperoleh penghasilan untuk sekadar menutup biaya operasional sebesar Rp 400 miliar saja sudah baik. Tenaga-tenaga ahlinya sebagian dijadikan TKI di luar negeri. Dari sini dapat diduga bahwa IPTN masih jauh dari "kembali pokok", kalau modal yang ditanamkan dan biaya yang telah dikeluarkan sejak 1976 diperhitungkan. Tetapi entahlah, kalau kepakaran dan pengalaman yang diperoleh selama hampir seperempat abad ini diperhitungkan. Apalagi kalau pengertaajian (monetizing)-nya dengan "mark-up" segala!

Unjuk kerja Balai Yasa lumayan juga. Kereta yang telah dipermaknya cukup mantap dan nyaman bagi penumpang Argo Bromo, Argo Wilis dan Argo Lawu. Tetapi ya, masih jauh tertinggal oleh Shinkasen dan TGV (tres grande vitesse). Dan jangan memimpikan kereta lonjong mimis dengan levitasi magnetik dan propulsi jet rancangan Balai Yasa.

Teknologi reaktor kita boleh juga. Orang tahu, ada Kartini, PRAB, dan RSG Siwabessy. Tetapi tak banyak yang tahu bahwa dengan pengalaman menangani longgok bawah-genting (subcritical assembly) bikinan Rusia dan TRIAGA Mark bikinan Amerika, plus keahlian dalam perkanibalan, kita membangun sendiri Si Kartini.

Tahun baru biasanya merupakan saat untuk melakukan perenungan mawasdiri (refleksi introspektif) dan pencanangan "niat-ingsun" (resolusi). Apalagi awal tahun 2000 nanti, yang bukan saja fin de siecle (akhir abad), tetapi juga wasana sasrawarsa (akhir milenium).

Kita mengharapkan refleksi dan resolusi itu terutama dari Menristek kita yang baru. Bernyali terlalu ciut berarti pengecut. Sebaliknya, sok turah keberanian adalah gegabah. Semoga Menristek menolak kedua ekstrem ini, dan bersikap ugahari. Sudah waktunya kita bersikap dan bertindak secara "siuman" (sobre, nuchter) dan berhenti melompat-lompat ke teknologi tinggi di bidang yang ilmu dasarnya belum kita kuasai.

Jepang cepat bangkit kembali setelah ulah Tojo mengundang penghancuran negeri itu oleh MacArthur. Mengapa? Karena infrastruktur sainsnya telah terbangun kukuh. Mereka sudah berakit-rakit ke hulu, bukan hanya sejak restorasi Meiji, melainkan jauh sebelum itu. Sikap mental pantang patah dan budaya teknologi pendisiplinan tinggi sudah dipersiapkan sejak zaman shogunat Tokugawa, sehingga ketika Komodor Perry "membuka" Jepang (1853) di sana sudah ada kagaku ( ex-Cina), rangaku ( ex- Belanda) dan seigaku (ex-Barat). Pengetahuan dari Belanda itu, misalnya, sudah dialihkan oleh dan ke Jepang sejak sekitar tahun 1600.

Tentulah kita ingin menutup jurang ketertinggalan kita di bidang teknologi dari kelompok G-8 dengan lebih cepat. Tetapi jangan harap itu terlaksana, tanpa "niat ingsun" (berkebulatan tekad) membangun infrastruktur sains yang tangguh, sebagai landasan proses alih dan litbang teknologi terakselerasi.

*) Dosen Fakultas Teknik UKSW