back
Serambi MADURA http://zkarnain.tripod.com/
Internet Based Virtual Life-long Learning Environment
for Maintaining Professional Vitality

Selasa
8 Februari 2000
KOMPAS


Tawuran Antarkelompok Gara-gara Bertikai
Soal Telepon Genggam

Gara-gara bertikai soal telepon genggam, pekerja-pekerja bangunan asal Indonesia dari dua etnis berbeda pun tawuran di Cyber-jaya, selatan Kuala Lumpur. Kerusuhan kemudian merambat ke Putrajaya, kawasan gedung pusat pemerintahan Malaysia di Kuala Lumpur. Demikian diberitakan harian The Star, Senin (7/2).

Polisi Malaysia menahan tak kurang dari 136 orang Indonesia asal Madura dan Aceh, yang diduga menjadi biang terjadinya kerusuhan tawuran di dua lokasi. Mereka yang ditahan diketahui membawa berbagai alat kerusuhan, berupa parang, pisau, bom molotov, dan batu.

Menurut polisi Sepang, Mohammad Sukri Dahlan, satu orang cedera dalam insiden yang terjadi Minggu dini hari. Menurut Sukri Dahlan, tawuran bermula dari cekcok ketika tiga orang etnis Aceh berkunjung ke sebuah kedai minum di Cyberjaya -- lokasi proyek pusat multimedia Kuala Lumpur -- tempat banyak buruh asal Madura bekerja.

"Tiba-tiba, seorang asal Madura menuduh salah satu orang Aceh itu telah mencuri telepon selulernya. Dia (orang Aceh itu) mengaku mencuri dan pertengkaran pun tak terhindarkan," tutur Sukri Dahlan, seperti diberitakan The Star.

Minta bantuan

Seorang asal Aceh berhasil meloloskan diri dari perkelahian di Cyberjaya dan minta bantuan teman-temannya dari kelompok etnis Aceh yang tinggal tak jauh dari lokasi keributan. Bersenjatakan parang, batu, molotov, dan pisau, buruh-buruh Aceh itu pun balik menuntut balas. Mereka membakari tempat tinggal dan benda-benda milik orang Madura di Cyberjaya dan kemudian pergi juga ke lokasi hunian Madura lainnya di kawasan Putrajaya.

Tak kurang dari 30 anggota polisi Malaysia segera bergegas ke distrik Sepang, wilayah kerusuhan. Sekitar 136 orang pun akhirnya ditahan.

"Dalam tiga jam, anggota-anggota saya bisa menguasai keadaan," kata Sukri Dahlan, pimpinan polisi tersebut. Menurut Sukri Dahlan, mereka yang ditahan kesemuanya tak memiliki kelengkapan dokumen perjalanan yang masih berlaku.

Api dalam waktu sekitar 20 menit berhasil dipadamkan oleh pasukan pemadam kebakaran yang didatangkan dari pangkalan pemadam di Sepang dan Bangi.

"Hampir seluruh kongsi (tempat tinggal pekerja) hancur," kata Wan Mohd Noor Ibrahim, pimpinan pemadam kebakaran. Pasukan pemadam kebakaran itu juga bekerja sama dengan polisi untuk menyelidiki apakah para perusuh memang memakai bom molotov untuk membakar lokasi hunian buruh itu. Mereka juga mengidentifikasi pimpinan kelompok yang terlibat tawuran.

Kantor berita AFP memberitakan, kejadian pertikaian antarpekerja Indonesia di Malaysia, seringkali terjadi. (AFP/The Star/sha)