back
Serambi KAMPUS http://zkarnain.tripod.com/
Internet Based Life-long e-Learning Environment
for Maintaining Professional Vitality

Webmaster

R. Iskandar Zulkarnain
Chief Executive Editor

Informasi

PadepokanVirtual

URL

http://w3.to/padepokan
http://welcome.to/madura
http://travel.to/kampus

Jawa Pos
Metropolis - Minggu, 08/10/2000

Jeritan Istri-istri Bahar dari
Tempat Persembunyian

Bertahun-tahun Hidup dalam Ancaman

Nasib dua istri H Bahar -miliuner Madura yang kini ditahan Polda Jatim- sampai sekarang masih tidak menentu. Mereka hidup dari satu tempat ke tempat lain. Selain masih trauma, mereka juga takut akan dicari anak buah Bahar.

Dua istri Bahar itu kakak beradik Nur Qomariyah, 25, dan Wahyuningsih, 15. Kini, kedua istri Bahar itu beserta keluarganya yang lain disembunyikan petugas di tempat tertentu yang dijaga ketat. Ini lantaran perlakuan Bahar dan anak buahnya selama ini mereka nilai sudah keterlaluan dan mengancam jiwa.

Petugas penyidik dari Polda Jatim dan Polda Metro Jaya pun memeriksa kedua wanita itu di tempat yang terisolasi dari orang luar. Para saksi itu benar-benar dilindungi. Keamanan dan keberadaannya pun dijamin.

"Kami trauma dan takut. Bertahun-tahun kami hidup dalam ancaman. Kami khawatir nasib yang menimpa ayah saya akan menimpa keluarga kami yang lain," ungkap Nur Qomariah, anak pertama H Hasan yang dikawini Bahar di bawah ancaman.

Karena rasa takut tersebut, keluarga Hasan hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Mereka membawa serta 25 anggota keluarganya yang lain, termasuk ibu dan neneknya. Mereka juga tidak berani bekerja. Nasib mereka seperti pengungsi yang mengalami kesulitan hidup.

"Kami hidup seadanya atas sumbangan anggota keluarga. Kami ingin hidup kami aman seperti sebelum anak saya dikawin Bahar," ujar Rofiah, 42, ibu Nur Qomariah, di sela-sela pemeriksaan kemarin.

Sesuai permintaan keluarga Hasan, pemeriksaan itu tetap dilakukan di tempat rahasia seperti proses sebelumnya. Bedanya, kalau Jumat lalu pemeriksaan dilakukan malam hari sampai pagi, kemarin dilakukan di siang hari. Wartawan pun diberi kesempatan untuk mewawancarai keluarga Hasan.

Keluarga Hasan yang dimintai keterangan penyidik kemarin adalah Nur Qomariah; Wahyuningsih (keduanya anak Hasan yang dikawin Bahar); Nur Hasanah, 22, adik Nur Qorimah yang nyaris diperkosa Bahar; Rofiah, 42, ibu Nur Qomariah; Hj Nasuchah, 60, nenek Nur Qomariah; serta anggota keluarga Hasan yang lain: Hazali, Neneng, dan Nasiah. Mereka diperiksa lagi berkaitan dengan dugaan penyekapan dan penganiayaan terhadap Nasuchah yang dilakukan Bahar. "Saya diinjak-injak dan akan ditembak," ujar Nasuchah sambil menangis mengenang peristiwa yang dialaminya.

Setiap ditanya peristiwa yang dialaminya, Nasuchah terus menangis. Demikian juga Rofiah, istri Hasan. Ketiga putrinya yang disenangi Bahar juga berkaca-kaca dan sesekali meneteskan air mata.

Ketiga anak Hasan tersebut memang cantik. Meski mereka hidup tidak menentu, trauma, dan diliputi perasaan ketakutan, tidak berkurang kecantikannya. Dari penampilannya, tak tampak sedikit pun bahwa mereka orang Madura asli yang dilahirkan di Arosbaya. Bahasanya juga sudah berlogat Jakarta. Mereka memang sudah lama tinggal di ibu kota.

Mereka tidak tahu akan menetap di mana kelak. Bagi mereka, kembali ke Jakarta sungguh menakutkan. Sebab, di sana banyak anak buah Bahar yang mencari-cari keluarga Hasan. Di Madura, mereka juga takut. "Sebelumnya, kami memang pernah melakukan perdamaian atas prakarsa Gus Wahid (KH Abdul Wahid, ketua PW NU DKI, Red). Tetapi, setelah itu, bapak saya dibunuh," beber Rofiah, yang selama menjadi mertua Bahar tidak pernah diberi apa-apa.

Nur Qomariah mengaku tidak diberi apa-apa oleh Bahar. Dia memang sempat dibelikan rumah yang ditinggali bersama adiknya, Wahyuningsih, yang sama-sama dikawini Bahar. Namun, rumah itu tidak bisa diapa-apakan. Satu-satunya yang bisa dimanfaatkan adalah mobil Kijang Super G tahun 1995. Mobil itu sudah dijual untuk menopang hidup keluarga dalam persembunyian.

Selama menjadi istrinya, dia hanya diberi uang Rp 500 ribu setiap sepuluh hari. Itu pun harus dengan tanda tangan. Padahal, Bahar dikenal pengusaha yang kaya-raya. Hartanya berlimpah ruah. "Meski begitu, saya tidak pernah dikasih apa-apa,'' timpal Wahyuningsih, yang dikawin Bahar di sebuah kuburan tua.

Dikawin Paksa, Dicerai Siri

Hidup dengan orang kaya ternyata tidak selalu bahagia. Itulah yang dialami Nur Laila Qomariah dan Wahyuningsih. Dua kakak beradik itu dikawini H Bahar, miliarder dari Arosbaya, Bangkalan, yang kini ditahan di Polda Jatim. Tetapi, kenapa mereka mau dikawin?

Ancaman. Itulah jawaban yang selalu dikemukakan Nur Qomariah, lulusan sebuah perguruan tinggi di Jakarta. Sebelumnya, tidak terbayang di benaknya untuk mendampingi H Bakar. Sebab, Bahar sudah memiliki anak dan istri. Bahkan, istrinya sudah beberapa orang. Usia Bahar pun sudah berkepala lima. Sementara itu, Qomariah lagi ranum-ranumnya sebagai gadis yang cantik.

Kecantikan Qomariah itulah yang memang memikat Bahar untuk menjadikan istri, selain dia keturunan Arosbaya, daerah asal Bahar. ''Wanita yang dijadikan istri Bahar memang harus cantik dan dari Madura. Selain itu, dia harus gadis ting-ting,'' kata Qomariah, yang dibenarkan anggota keluarga lainnya.

Sepengetahuannya, Bahar sudah memiliki delapan istri, termasuk dia dan adiknya. Bahar mengaku hanya menikah lima kali. Itu pun dua di antara mereka sudah dicerai. Sebab, bagi Bahar, perkawinan harus dilaksanakan sesuai ajaran Islam. ''Itu kata dia. Dalam pengetahuan agama, dia itu seperti kiai. Tetapi, kenyataannya apa?'' kata Qomariah.

Qomariah menilai, Bahar adalah pembohong. Perkawinannya yang dikatakan direstui oleh keluarga sama sekali dianggap tidak benar. Ketika Bahar melamar Qomariah, tak ada satu anggota keluarga pun yang setuju, termasuk Qomariah. Tetapi, mereka tidak bisa menolak. Sebab, kalau tidak mau, keluarganya akan dihabisi.

Perkawinan itu akhirnya dilaksanakan dengan disaksikan keluarga yang lain. Prosesi perkawinannya biasa-biasa saja. Tidak ada pesta besar-besaran, meskipun pengantin laki-laki adalah pengusaha yang memiliki perusahaan pelayaran, pengerah jasa tenaga kerja, SPBU, dan sebagainya. ''Pesta apa? Orang kita kawin karena terpaksa, kok dipestakan,'' tutur Qomariah.

Perkawinan Bahar dengan Wahyuningsih, adik Qomariah, juga dilakukan dengan terpaksa. Menurut Rofiah, ibunya, Wahyuningsih yang waktu itu masih berumur 14 tahun dikawini juga dengan ancaman. ''Kami akhirnya memang datang dalam perkawinannya, tetapi setelah kami disekap,'' ujarnya.

Bagi Rofiah dan anggota keluarga yang lain, tidak mungkin Wahyuningsih dikawinkan dengan Bahar, sedangkan kakaknya sudah dikawini sebelumnya. Bahar mengaku mengawini Wahyuningsih setelah menceraikan Qomariah secara siri. Tetapi, dia tetap diperlakukan sebagai istri.

Qomariah akhirnya dengan terpaksa hidup serumah dengan Bahar dan dikaruniai seorang anak. Dia dibelikan rumah dan mobil. Tetapi, hidupnya tidak pernah tenang. Karena itu, suatu saat dia melarikan diri. Tetapi, Qomariah akhirnya harus kembali lantaran orang yang menolongnya sewaktu melarikan diri itu ditemukan terbunuh.

Sebenarnya banyak kesempatan untuk melarikan diri. Sebab, Bahar tidak selalu ada di sampingnya. Dia harus tidur bersama istri-istrinya yang lain di rumah yang berbeda atau di hotel. Bahar juga sibuk mengurusi bisnisnya. Tetapi, ancaman Bahar-lah yang menyebabkan dia tidak bisa berbuat apa-apa. Selain itu, Bahar memiliki kaki tangan yang sangat banyak.

Ketika dia bersembunyi di tempat keluarganya pun, ternyata diketahui Bahar. Persembunyian inilah yang kemudian melahirkan penyekapan dan penganiayaan terhadap neneknya, H Nasuchah. Nenek itu disekap sebagai jaminan selama Qomariah tidak kembali.

Keluarga Qomariah tahu bahwa neneknya ada di tangan Bahar setelah beberapa di antara mereka pernah dihubungi Bahar lewat orang-orangnya. Ketika itu, tutur dia, Bahar mengatakan bahwa Nasuchah dalam keadaan aman di tangannya. Dia akan diserahkan kembali kepada keluarganya apabila istrinya dikembalikan. Akhirnya Qomariah kembali lagi kepada Bahar.

Kekesalan keluarga Qomariah makin tak tertahankan lagi. Bersamaan dengan itu, ancaman pun terus meningkat, meskipun sudah ada usaha perdamaian. Puncaknya ketika salah seorang anggota keluarga Qomariah kawin di Arosbaya. Mereka pamit kepada H Bahar untuk menghadiri perkawinan itu. Ternyata justru ayahnya mati terbunuh.

Keluarga Qomariah menuduh H Bahar otak pembunuhan itu. Karena salah seorang yang diketahui oleh keluarga Qomariah adalah Ayub, orang kepercayaan Bahar. ''Ayub itu berkali-kali muncul dalam pertemuan perdamaian. Dialah yang ikut menusuk bapak. Saya melihat sendiri,'' kata Rofiah, ibu Qomariah.

Peristiwa pembunuhan itulah yang membulatkan tekad keluarga Qomariah untuk mengakhiri hubungannya dengan Bahar. Mereka pun hidup bersembunyi dari satu tempat ke tempat yang lain. (hq)

Wahyuningsih Dinikahi di Kuburan

Kalau Nur Laila Qomariah yang dikawini H Bahar sudah sengsara, adiknya, Wahyuningsih, lebih menderita lagi. Bahkan, mungkin, kisahnya lebih tragis. Dia dinikahi Bahar saat usianya masih 14 tahun. Ketika itu, dia masih kelas II SMP dan sama sekali belum memikirkan hidup berumah tangga. Tetapi, karena keluarganya diancam Bahar, perkawinan itu terpaksa dijalaninya.

Pernikahan Wahyuningsih dengan Bahar dilangsungkan setelah keluarganya disekap di sebuah rumah di Jakarta. Tentu saja, hal itu dilakukan setelah keluarga H Hasan (ayah Wahyuningsih), terutama Nur Qomariah yang telah dikawini Bahar sebelumnya, melakukan protes. "Dia (Bahar) kalau sudah punya keinginan, ya harus dituruti. Termasuk bila dia minta kawin," kata Nur Qomariah.

Ketika dikonfirmasi, Bahar mengaku menikahi Wahyuningsih karena dia mendapat bisikan dari "atas''. Ceritanya, suatu malam, ketika sedang wirid, terdengar suara yang amat jelas. Dia pun seolah-olah berhadapan dengan pemilik suara tersebut. Suara itu ternyata memerintahkan Bahar mengawini orang yang memiliki tahi lalat di telapak tangannya.

Dan, wanita yang punya tahi lalat di telapak tangannya itu ternyata Wahyuningsih. Karena itu, Bahar lantas meminangnya lewat istrinya, Nur Qomariah. Nur sempat mencak-mencak ketika Bahar mengungkapkan niatnya tersebut. Sebab, Wahyuningsih adik kandungnya. Dalam ajaran Islam, tidak diperbolehkan mengawini saudara kandung.

Keluarga Wahyuningsih juga menolak pinangan Bahar karena diyakini hanya akan memperpanjang penderitaan. Tetapi, lagi-lagi mereka tak kuasa menghadapinya. Sebab, kalau tidak mau, mereka akan disengsarakan oleh Bahar. "Kami pun lantas disekap dan dibawa ke tempat perkawinan yang sudah disiapkan oleh Bahar," ungkap Rofiah, ibu Wahyuningsih.

Kebingungan keluarga Hasan bertambah ketika mereka dibawa ke sebuah kuburan tua di kawasan Jakarta Utara. Kata Bahar, kuburan itu makam para habib. Beberapa orang pengikut Bahar ikut menyaksikan perkawinan paksa itu. Prosesi perkawinannya dipimpin seseorang yang kata Bahar adalah habib.

Bagi keluarga Wahyuningsih, perkawinan tersebut sangat sulit diterima. Alasan mendapat wangsit sama sekali dianggap tidak masuk akal. Bahar mengaku, bisikan untuk mengawini wanita yang memiliki tahi lalat di telapak tangan adalah rekayasa. "Sebelumnya dia sudah tahu bahwa adik saya punya tahi lalat di telapak tangan," ujar Nur Qomariah.

Wahyuningsih memang memiliki tahi talat di telapak tangan kanannya. Tahi lalat itu diketahui Bahar setelah beberapa kali dia diminta memijatnya. Ketika itu, Bahar sempat memperhatikan tangan Wahyuningsih. Bahkan memegang-megang tangan yang mulus itu.

Anak ketujuh dari delapan saudara tersebut mengaku sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa. Dia sudah tahu bahwa keluarganya pun sudah tidak bisa berkutik. Dia mengikuti saja apa yang dimaui kakak iparnya itu. "Setelah menikah, saya dibawa ke hotel," katanya polos.

Hubungan suami istri antara Bahar dan Wahyuningsih hampir selalu dilakukan di hotel. Hanya sesekali di kantornya. Bahar tidak mau meniduri Wahyuningsih yang ditempatkan serumah dengan kakaknya, Nur Qomariah. Entah apa alasannya. Wahyuningsih dan Nur Qomariah juga tidak tahu.

Selama Wahyuningsih mendampingi Bahar sekitar dua bulan, dia tidak menemukan kelainan seksual pada diri suaminya itu. Hubungan badannya biasa-biasa saja. "Kalau tidur, biasa-biasa saja. Dia tidak minta yang aneh-aneh. Kekuatannya juga biasa,'' aku Nur Qomariah. Karena itu, mereka heran jika lantas Bahar mengoleksi banyak istri dan harus cantik.

Bahwa nafsu seks Bahar tidak terlalu berlebihan juga dibuktikan oleh Nur Hasanah, adik Nur Qomariah yang nyaris diperkosa. Ketika itu, ceritanya, Hasanah baru pulang dari sekolah di sebuah SLTA Jakarta. Dia dijemput Bahar bersama sopirnya. Di tengah jalan, mobilnya dibelokkan. Katanya, Hasanah akan diajak makan.

Ternyata mobil itu tidak masuk ke restoran, tapi langsung ke hotel. Di kamar hotel itulah, Hasanah dirayu untuk menemaninya tidur. Karena Hasanah tidak mau, Bahar lantas memaksanya. "Berkali-kali saya ditarik-tarik dan sempat ditindihi. Namun, saya tetap bertahan. Akhirnya tidak jadi," aku gadis berparas manis tersebut. Ditolak seperti itu, Bahar ternyata tidak terlampau marah.

Yang dianggap aneh dalam hubungannya dengan masalah seksual adalah ketika Bahar meminta Nur Qomariah mau diajak tidur sekamar dengan Wahyuningsih. Tetapi, permintaan itu ditolak. Bahar pun tidak memaksanya. "Kayak binatang saja," tambah Nur Qomariah, yang sempat memiliki satu anak dengan Bahar.

Keanehan lain, ketika itu tiba-tiba Bahar mengutarakan isi hatinya kepada Nur Qomariah untuk mengawini anak yang masih berusia 2,5 tahun. "Lu mau nggak melamar anak berusia 2,5 tahun,'' kata Bahar seperti ditirukan Nur Qomariah. "Untuk apa," jawab Nur. "Ya, untuk dikawin." Keinginan itu akhirnya juga tidak terkabul.

Meski tidak ada keanehan, kedua istri Bahar tetap saja tidak mendapatkan kenikmatan dalam berhubungan suami istri. Bahkan dalam hidup berumah tangganya. Mereka terus dibayangi ketakutan dan keterpaksaan. Semua itu dijalani sampai bapaknya, Hasan, terbunuh dan mereka memutuskan melarikan diri. (hq)

atas