back
Serambi KAMPUS http://zkarnain.tripod.com/
Internet Based Life-long e-Learning Environment
for Maintaining Professional Vitality

Webmaster

R. Iskandar Zulkarnain
Chief Executive Editor

Informasi

PadepokanVirtual

URL

http://w3.to/padepokan
http://welcome.to/madura
http://travel.to/kampus

Surabaya Post
Senin, 26 Juli 1999

Teknologi Pembelajaran Menyongsong Millennium Ketiga

Oleh Iskandar Wiryokusumo

Teknologi secara dramatik telah mengubah kehidupan manusia. Tata hidup keseharian, pengalaman, dan belajar dari pagi sampai jauh malam. Semuanya juga akan mengubah tata cara berpikir dan bertindak.
Dalam dunia kerja, manusia diajari oleh teknologi untuk memecahkan masalah-masalah kerja secara efisien dan efektif. Tidak heran kalau hal ini berpengaruh secara kuat terhadap pengelolaan serta organisasi perusahaan-perusahaan dan industri, agar tak tertinggal dalam persaingan global.
Teknologi, khususnya teknologi komunikasi, memberikan cara bagaimana mentransfer dan mentransformasikan informasi, pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman-pengalaman yang diperlukan oleh manusia dengan cara-cara yang unik. Dengan demikian manusia dapat menangkap keseluruhan kebutuhan pengetahuan dan informasi itu tanpa terikat pada dimensi ruang, waktu, dan derajat. Hampir semua manusia di bumi dapat mengakses kebutuhan tersebut dengan kualitas dan kuantitas yang sama.
Saat ini manusia ikut menikmati teknologi yang mampu mengintegrasikan televisi, telekomunikasi, serta komputer, dengan teknik digital, dan kompresi yang mantap. Sebagai contoh, transmisi superkonduktor dapat mengangkat sejuta unit informasi dalam waktu satu detik. Hanya dalam beberapa menit saja seluruh isi perpustakaan yang besar dapat didistribusikan ke pihak-pihak yang memerlukan secara menyeluruh ke segala penjuru.
Dunia pembelajaran yang sebenarnya masih terikat dengan prinsip-prinsip komunikasi karena pembelajaran pada dasarnya merupakan interaksi antara dua pihak atau lebih, ikut terpengaruh juga. Tekanan teknologi sangat kuat, terutama dalam proses pembelajaran.
Para pakar teori pembelajaran, seperti Gagne, RM (1985), Marrill (1983), Nelson (1989), Reigeluth (1983), dan Richey (1992) yakin adanya keterikatan yang ketat antara teori belajar, teori pembelajaran, prinsip-prinsip teknologi, dan dunia kerja sebagai satu kesatuan. Artinya, perkembangan teknologi mempengaruhi atau setidak-tidaknya ada hubungan timbal balik dengan teori belajar modern, teori-teori pembelajaran (sampai pada implementasinya), dan dunia kerja yang akan dimasuki oleh para lulusannya.
Salah satu aspek yang jelas dan tampak dalam dunia pembelajaran adalah dipergunakannya prinsip-prinsip teknologi dalam merekayasa suatu program pembelajaran. Kegiatan ini merupakan suatu langkah yang harus dilakukan oleh setiap pengajar/pelatih dalam proses pembelajaran/pelatihan.
Istilah rekayasa atau desain sebenarnya diambil dari lingkungan teknologi. Maka tidak heran bila dalam proses mendesain terkait nuansa teknologis. Rekayasa atau desain adalah suatu kegiatan untuk mengantisipasi keadaan yang akan datang dengan menghitung atau menganalisis secara cermat kemungkinan dan mengarahkan pada suatu tujuan yang dikehendaki. Karenanya dalam mendesain suatu objek diperlukan pertimbangan secara komprehensif, sistematik, sistemik, empirik, dan akurat. Untuk itu dibutuhkan data yang dapat dipercaya dan baru.
Prinsip-prinsip itu dipergunakan untuk meminimalkan hasil rekayasa yang menyimpang dari kenyataan pada saat diimplementasikan. Seorang desainer yang bagus adalah yang dapat mendesain suatu program (objek) yang nanti implementasinya menjadi tepat atau persis atau hanya menyimpang sedikit.
Maka seorang desainer -- apakah dia seorang guru/pelatih/pihak lain yang ahli merancang program -- haruslah memiliki pengetahuan-pengetahuan yang relevan. Misalnya prinsip-prinsip mendesain pesan, prinsip-prinsip teori sistem, teori-teori belajar, pengetahuan tentang media pembelajaran, dan teori komunikasi. Pengetahuan-pengetahuan itu terhimpun dalam apa yang disebut sebagai dasar-dasar dalam teknologi pembelajaran (instructional technology).
Langkah-langkah yang harus dilalui dalam mendesain pembelajaran harus rasional, empirik, serta atas dasar teori tertentu, seperti halnya suatu proses mendesain suatu objek tertentu dalam lingkup teknologi.
Langkah pertama untuk mendesain suatu pembelajaran/objek adalah mempertanyakan mengapa pelajaran ini harus diberikan kepada siswanya, dan bagian manakah yang benar-benar harus dikuasai oleh siswanya. Pertanyaan awal seperti ini sangatlah penting, harus dilakukan kuisioner kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Tidak mungkin suatu proses pembelajaran berhasil apabila tak diketahui masalah apa yang dihadapi oleh para siswanya dengan pemecahan melalui pembelajaran. Pada dasarnya pembelajaran/pelatihan akan berhasil dan mengena apabila apa yang disampaikan memang dibutuhkan siswanya.
Namun tak semua hal yang diperlukan oleh para siswanya harus melalui pembelajaran/pelatihan. Ada yang cukup melihat suatu demonstrasi pendek atau meninjau ke tempat-tempat tertentu dan lain-lain.
Dari titik tolak yang dihadapi oleh siswa, suatu perencanaan didesain secara tuntas. Jadi tidak atas dasar intuitif atau asumsi-asumsi non-operasional seperti pernah dilakukan sebelumnya. Dengan demikian proses ini benar-benar merupakan proses ilmiah yang dipengaruhi prinsip teknologis.

Sistem Penyajian

Di dalam suatu desain pembelajaran sudah dirumuskan juga bagaimana cara-cara penyajian isi pembelajarannya. Banyak faktor yang harus dipertimbangkan dalam menentukan pilihan terhadap sistem penyajian. Pertimbangan utamanya adalah sifat/ciri dari isi/bahan yang akan disajikan.
Banyak cara yang ditawarkan oleh teknologi. Mulai dari cara penyajian individual sampai kelompok massal, tatap muka sampai ke pembelajaran jarak jauh.
Banyak negara yang memanfaatkan teknologi secara maksimal untuk mentransfer dan mentransformasikan pengetahuan kepada masyarakat. Bahkan banyak pihak yang percaya bahwa fungsi perpustakaan atau pusat-pusat informasi akan berkurang karena setiap orang mampu mengakses informasi langsung dengan internet, WWW, E-Mail, LAN/WAN, atau media publikasi elektronika lainnya.
Belum lagi adanya "tele" yang berupa teleconferencing, yakni suatu kegiatan interaksi publik dengan mempergunakan sarana elektronik, bahkan melalui satelit, digital (satellite conferencing, digital video conferencing) sehingga dapat mencapai sasaran partisipan di tempat yang tersebar.
Dan kelak yang namanya "tele-training atau tele-instructing" bisa jadi akan lebih populer. Ini berarti setiap orang akan belajar di mana saja, kapan saja, dan bagi siapa saja.
Tantangan-tantangan itu jelas akan mempengaruhi profesi guru/pelatih di tingkat mana saja. Seorang guru/pengajar/pelatih akan "tersingkir" dari profesinya kalau tidak mengenal atau ikut memanfaatkan prinsip teknologi yang telah jauh berkembang dan memanfaatkan juga produk-produk yang dapat diintegrasikan dalam rancangan pembelajaran. Kesemuanya itu bukan karena demi teknologi atau agar dikatakan maju dan modern, tetapi karena tuntutan efisiensi dalam proses pembelajaran.
Sebagaimana teknologi yang lain yang bertujuan memecahkan problem-problem kehidupan manusia, teknologi pembelajaran mempunyai misi pemecahan problem pembelajaran manusia untuk kesejahteraan hidup manusia. Seorang guru/pelatih setiap saat menghadapi problem-problem (mikro) dalam melaksanakan tugas profesinya. Termasuk para pengelola dalam bidang pembelajaran/pelatih secara makro, selalu ada masalah yang timbul, misalnya keterbatasan tenaga pengajar, dana, tersebarnya siswa, sulitnya menarik/memberi motivasi minat belajar, perbedaan-perbedaan individual, dan lain-lain. Semuanya dapat dibantu dan diatasi dengan memanfaatkan teknologi. Karena teknologi pembelajaran adalah suatu proses yang terpadu antara alat, manusia, ide, dan pengelolaan sistem teknologi untuk memecahkan problem belajar.
Banyak bidang lain yang dapat dibantu. Di samping desain di berbagai pembelajaran, juga pengelolaan-pengelolaan (seperti pengelolaan sumber daya pembelajaran, pengelolaan informasi pembelajaran), serta evaluasi pembelajaran, dalam arti memberi evaluasi terhadap program pembelajaran.
Jadi penguasaan tidak sebatas pada produk-produk teknologi. Yang penting bagi guru adalah menguasai prinsip-prinsip teknologi dengan mengintegrasikan semua komponen untuk mendukung penyelesaian masalah-masalah belajar, terutama untuk menyongsong milenium ketiga.

Penulis ialah Ketua Program S2 Teknologi Pembelajaran UNIPA Surabaya.

atas