back
Serambi MADURA http://zkarnain.tripod.com/
Internet Based Life-long Learning Environment
for Maintaining Professional Vitality

Nomor 22 tahun II
19-25 Juli 00
GAMMA


Hasan Dihabisi Di Madura

Pernah meminta perlindungan ke Polda Metro Jaya, Hasan akhirnya betul-betul terbunuh. Bekas menantunya disebut-sebut berada di balik petaka itu.

MAUT akhirnya merenggut nyawa Hasan secara mengenaskan, di sela-sela acara pernikahan keponakannya di Bangkalan, Madura, Ahad sore pekan lalu. Ia dihabisi enam lelaki. Peristiwa itu disaksikan sejumlah kerabat dan tetangganya yang ketakutan. Kawanan lelaki itu juga sempat membanting Nia, gadis kecil yang saat itu digendong Hasan.

Meski kawanan itu sudah pergi menggunakan mobil, warga masih saja gemetaran tanpa berani berbuat apa-apa. "Mayat Abah tergeletak begitu saja, ditutupi kain lap. Enggak ada yang mau ngasih kain sarung. Mereka takut sama orang-orangnya Bahar," tutur putri korban bernama Ningsih, dengan nada pilu, kepada Rita Hendriawaty dari Gamma .

Ningsih dan kerabat keluarga Hasan merasa yakin kalau para pelaku itu orang-orang suruhan Bahar. Bahar, lelaki asal Madura yang mengelola perusahaan pelayaran di Jakarta, adalah mantan suami Ningsih, 23 tahun, dan Nurkomariah, 25 tahun (kakak kandung Ningsih). Bahar memang pernah mengancam akan menghabisi Hasan dan keluarganya, yang menetap di Jakarta. Bahar menilai mertuanya itu turut campur memisahkan Ningsih dan Nurkomariah darinya.

Januari silam, Bahar menculik nenek Nurkomariah, dengan harapan kedua bekas istrinya itu melunak dan mau balik lagi kepadanya. Tapi, kedua bekas istrinya itu malah nekat melapor ke Polda Metro Jaya, sekaligus minta perlindungan. Bahar akhirnya menyerahkan diri ke Polda Metro Jaya (Gamma, 15 Februari 1999). Meski sempat ditahan dengan tuduhan penculikan serta pemilikan bahan peledak, entah bagaimana ceritanya, Bahar kemudian dilepas.

Untuk sementara, Hasan dan keluarganya merasa aman. Itu sebabnya mereka tanpa waswas berangkat ke Madura, Jumat pekan lalu, guna menghadiri pernikahan putri pasangan H. Suudi dan Hj. Amiyah, sepupu Hasan, di Desa Gebang, Bangkalan. Hasan berangkat bersama istri, Nurkomariah, Wahyuningsih, dan Nia, putri bungsu Hasan. Tak dinyana, petaka itu datang juga.

Menurut Wahyuningsih, mengutip kesaksian Nurkomariah yang mengetahui peristiwa tersebut, siang nahas itu seorang lelaki menghampiri Hasan yang tengah menghadiri acara pernikahan di rumah Suudi. "Ada titipan dari Bahar untuk Andi," kata lelaki tersebut. Andi, 3 tahun, adalah anak Bahar dengan Nurkomariah. Anak itu diasuh ibunya.

Sembari menggendong Nia, Hasan yang tak punya musuh ini tenang saja mengikuti si lelaki. Lelaki itu menyuruh Hasan menunggu di sebuah rumah, dengan alasan ia akan megambil barang titipan itu di mobil. Rumah berjarak 75 meter dari tempat pernikahan keponakannya itu dalam keadaan kosong karena penghuninya sedang pergi.

Tak lama kemudian, lelaki penjemput itu balik bersama lima temannya. Tanpa ba-bi-bu, kawanan lelaki itu langsung membacoki Hasan sampai tewas. Sebelumnya, mereka merebut dan membanting Nia.

Polisi yang mengusut kasus ini mengalami kesulitan karena saksi keluarga korban sudah kembali ke Jakarta. Sementara itu, "Warga setempat takut memberi keterangan," kata Kapolres Bangkalan, Superintendent Achmadi, kepada Nurul Amalia dari Gamma. Kabarnya, warga segan dengan sepak terjang Bahar yang kaya raya dan punya banyak anak buah itu.

Sementara itu, Bahar tenang-tenang saja di Jakarta. Kepada wartawan yang menemuinya, Bahar membantah tudingan itu. "Itu fitnah. Saya siap diperiksa," tegasnya. Betapa pun, nama Bahar sudah santer disebut-sebut di balik pembunuhan tersebut. Jika polisi serius, Bahar setidaknya sudah dimintai keterangan. Tapi, entah kenapa, sampai pekan lalu, hal itu belum dilakukan polisi.