back
Serambi MADURA http://zkarnain.tripod.com/
Internet Based Life-long Learning Environment
for Maintaining Professional Vitality

SENI HIBURAN
Senin, 14 Agustus 00
Surabaya Post


Madura Mendalami Kembali Budayanya
'Mantan Legah' Ekspresi Masyarakat

Bangkalan - Surabaya Post

Di antara berbagai seni budaya dari empat kabupaten Madura yang ditampilkan saat "Pekan Seni Budaya Madura", upacara Mantan Legah menjadi daya tarik utama.
Mantan Legah adalah salah satu jenis tata rias pengantin dari keraton Sumenep. Upacara pengantin ini dalam acara tersebut dipakai sebagai upacara pembukaan pekan seni yang hadiri oleh Gubernur Imam Utomo.
Prosesi Mantan Legah menjadi semakin menarik karena seluruh undangan yang hadir seakan-akan terlibat.
"Legah", bahasa Madura berarti terbuka. Prosesi ini diperagakan sepasang muda-mudi yang mengenakan busana macam dodot Jawa dengan warna khas Madura, kombinasi kuning, merah, dan hitam.
Diawali datangnya pengantin pria yang ditandu empat pemuda sambil dipayungi, diiringi beberapa putri cantik yang memakai hiasan kepala mirip gaya busana pengantin Betawi yang dipengaruhi unsur ornamen Tiongkok. Iringan selanjutnya adalah wakil keluarga dan pengawal. Mereka ini memasuki halaman rumah pengantin wanita.
Di ambang pintu, pengantin pria diturunkan, dan berjalan berjongkok (sebagai tanda hormat) menuju pengantin perempuan yang sedang duduk di baki besar terbuat dari kuningan membelakangi pengunjung.
Pengantin laki memutar baki (tanda pengabdian wanita) ke empat penjuru angin, hingga menghadap pada dirinya. Lalu pengantin wanita dibimbing ke luar dari baki menuju pelaminan.
Begitu dua mempelai duduk di pelaminan dilakukan upacara ngocor yang dilakukan sesepuh. Pada kesempatan tersebut dilakukan oleh sesepuh Madura H Moh. Noer bersama istri, kemudian Gubernur Jatim Imam Utomo dan istri, serta Bupati se-Madura bersama istri.
Upacara ngocor berupa meneteskan bunga cempaka dan melati ke ubun-ubun kedua mempelai secara bergantian. Ini sebagai pertanda restu dari sesepuh.
Selanjutnya dilakukan kirab pengantin. Lalu pengantin duduk kembali di pelaminan dengan duduk bersimpuh.
Bagi pengunjung yang diundang, seperti lazimnya saat menghadiri upacara pengantin yaitu mengisi pundi-pundi yang disediakan keluarga pengantin wanita yang dalam bahasa Madura disebut Abubu.
Upacara pengantin seperti ini boleh dikata sudah cukup jarang dilakukan oleh pendukung budayanya, karena itu saat disuguhkan menjadi benar-benar menarik. Apalagi didukung dengan tata rias dan tata busana yang cukup apik. (kas)