back
Serambi KAMPUS http://zkarnain.tripod.com/
Internet Based Life-long e-Learning Environment
for Maintaining Professional Vitality

Webmaster

R. Iskandar Zulkarnain
Chief Executive Editor

Informasi

PadepokanVirtual

URL

http://w3.to/padepokan
http://welcome.to/madura
http://travel.to/kampus

Surabaya Post
SURABAYA - Minggu, 08 Oktober 2000

Balada Tiga Bidadari Madura Korban Miliarder Jakarta
Nur Chomariah: Surat Nikah Saya
dengan Bh Aspal


AIR mata dan isak tangis, menjadi warna utama ketika wartawan yang sehari-hari meliput kegiatan di Polda Jatim bertemu dengan delapan saksi dua kasus yang melibatkan Bh, milyader Tanjung Priok Jakarta. Dua kasus ini meliputi penyekapan dan penganiayaan Hj Nasuha dan pembunuhan H Hasan.
Dari delapan saksi ini, ada tiga dara cantik. Mereka adalah Nur Chomariah (25), Nur Chasanah (22), dan Wahyuningsih (15). Ketiga anak almarhum H Hasan itu kini menuntut keadilan atas kematian ayahnya.
"Keluarga kami mengalami penindasan tiada tara. Karena itu kami meminta agar proses hukum terhadap Bh berlangsung fair. Hanya itu tuntutan saya," kata Nur Chomariah, alumus Universitas Borobudur Jakarta (bukan Atmajaya Jakarta. Red).
Nur Chomariah sendiri adalah salah satu istri Bh. Ibu satu anak yang punya tubuh nyaris sempurna dan kulit putih dengan bulu-bulu halus di tangan dan kakinya ini mengaku menikah demi menyelamatkan nyawa ayahnya.
Menurut dia, pada 1996 ia mengikuti ibunya menghadiri perkawinan di Jl. Mawar, Tanjung Priok. Kebetulan Ibunya, Ny Rofiah (45), kenal dengan istri yang punya hajat. Saat itu Nur Chomariah baru tahu yang sedang menikah adalah anak Bh, pengusaha pengerah tenaga kerja yang namanya kesohor di kawasan Tanjung Priok, Jakarta.
Kedatangan Nur Chomariah tampaknya membuat Bh kesengsem. Selang satu minggu, Bh menawari pekerjaan untuk Nur yang sudah hampir selesai kuliahnya. Karena zaman sedang sulit. Tawaran kerja itu diterima Nur Chomariah. Tetapi tidak sampai satu minggu, dia keluar dari perusahaan Bh.
"Saat itu, saya diharuskan mengikuti training. Tetapi yang saya heran, saya ditempatkan di ruang kerja Bh. Saya menangkap gelagat buruk, karena itu saya pilih keluar," katanya.
Namun usaha menghindari Bh dengan keluar dari tempat kerja tidak menghentikan minat Bh pada Nur yang waktu itu baru berusia 21 tahun. Setelah keluar dari pekerjaan, berkali-kali muncul telepon dari Bh, yang menyatakan niatnya menyunting Nur Chomariah. "Jika tidak nyawa ayah saya jadi taruhan," katanya.
Tidak puas hanya menelepon, Bh mendatangi tempat tinggal keluarga H Hasan. Saat itu H hasan sedang pergi berlayar. "Saat Bh meminang dan mengancam, kami hanya minta dia menunggu kedatangan ayahnya yang sedang berlayar. Dia bisa menerima, tetapi teror pada keluarga kami tetap berlangsung. Pokoknya, jika Nur menolak, ayahnya akan mati," kata Ny Rofiah, ibu Nur Chomariah, istri almarhum H Hasan, sambil bercucuran air mata.
Mendapat teror seperti itu, Nur melaporkannya pada polisi. "Tetapi laporan saya membentur tembok tebal. Tidak pernah mendapat tanggapan. Saya kian percaya, Bh benar-benar orang yang punya kekuasaan besar. Hukum tidak mampu menjangkauanya," kata Nur yang juga tidak mampu menahan tangis ketika melihat sang ibu meratap dalam kesedihan.
Tak ayal ketika ayahnya pulang berlayar dan memintanya menerima pinangan Bh, Nur tidak kuasa menolak. Ia sudah pasrah meski tidak pernah bermimpin menikah dengan orang yang lebih tua dari ayahnya sendiri.
"Saat itu, Ayah mengatakan, terserah pada saya bersedia atau tidak menerima pinangan Bh. Tetapi jika menolak, risikonya sangat besar bagi keselamatan ayah dan keluarga saya. Demi keluarga saya rela berkorban," kata Nur Chomariah.
Karena tidak dilandasi cinta, tidak ada pesta dalam perkawinan ini. Saat upacara ijab kabul, seluruh anggota keluarga besar H Hasan, tenggelam dalam lautan tangis.
Bahkan, malam pertama yang semestinya meninggalkan kenangan indah bagi pasangan temanten, dilalui Nur dengan derai air mata. "Saya hingga kini tetap tidak rela," katanya.
Sebagai istri nomor empat, Nur termasuk yang menjadi kesayangan Bh. Dalam seminggu, Bh selalu meluangkan waktu dua malam untuk Nur. Ia juga dibelikan rumah persis di belakang rumah orangtuanya, sehingga dua rumah itu bisa saling berhubungan.
Singkat cerita Nur hamil. Tetapi bukan kebahagiaan yang dia terima. Tepat saat usia kandungannya enam bulan, Bh mulai mengincar adiknya, Nur Chasanah.
Awalnya, Bh menjemput Nur Chasanah yang baru kelas dua di SMIP Kasih Ananda. Setelah itu, Bh kian berani. Saat menjemput Nur Chasanah, Bh membelokkan mobilnya ke sebuah hotel. Di hotel itu Bh mulai melancarkan rayuan. Namun dara yang baru bersia 18 tahun itu, meringkuk ketakutan.
"Saya hanya bisa menangis saat Bh mulai menarik-narik tubuh saya dan berusaha menindih. Saya menangis dan menangis dengan keras. Saya minta pulang. Mungkin karena tangisan saya cukup keras, akhirnya Bh mengizinkan saya pulang," kata Nur Chasanah sambil mengusap genangan air mata di sudut matanya yang tajam.
Karena takut percobaan perkosaan itu terulang, Nur Chasanah memutuskan berhenti sekolah. Kejadian ini membuat hati Nur Chomariah mendidih dalam amarah.
"Selama itu saya selalu diam tiap kali dicaci maki jika berbuat sesuatu yang menurut Bh salah, misalnya menerima telepon. Tetapi percobaan perkosaan, pada adik kandung saya tidak bisa saya terima. Itu bukan perilaku manusia," kata Nur Chomariah.
Karena merasa kecewa, Nur mulai merancang kemungkinan meminta cerai. Karena itu ia sempat mendatangi kantor KUA. Di tempat itu, Nur nyaris pingsan.
"Saya baru tahu, ternyata perkawinan saya dengan Bh tidak terdaftar di KUA. Buku nikah itu ternyata asli tetapi palsu. Kemungkinan, seluruh petugas dibayar Bh untuk membuat perkawinan sandiwara," ungkapnya dengan pilu.
Kejadian itu kian menyadarkan Nur Chomariah terhadap kekuasaan yang dimiliki Bh. Ia tahu benar risiko yang harus dihadapi keluarga besarnya jika menuntut cerai dari Bh. "Saya coba untuk terus bertahan," katanya. (Dwi Eko Lokononto)

Wahyuningsih: Saya Menikah di
Kuburan Klender

MENJADI istri milyader seperti Bh, ternyata tidak seindah bayangan orang. Setidaknya itulah yang dialami Nur Chomariah dan Wahyuningsih.
Bahkan, Nur Chomariah, selain harus menghadapi pengkhianatan suami yang mencoba memperkosa adik kandungnya, ia juga merasa terpenjara. Ia mengaku hidup seperti burung dalam sangkar emas, tanpa kebebasan, dan kepercayaan.
"Saya sama sekali tidak bisa keluar rumah. Menempuh ujian skripsi pun harus sembunyi-sembunyi," kata Nur Chomariah.
Nur mengaku segala kebutuhannya dicukupi. Dia juga dibelikan rumah dan mobil kijang. Tetapi soal keuangan ia sama sekali tidak mendapatkan kebebasan mengelola. "Orang membayangkan istri milyader bergelimang uang. Mereka tidak tahu, jatah saya Rp 500 ribu/10 hari. Itupun harus tanda tangan dan membuat catatan pengeluaran yang rinci. Padahal, untuk susu anak saya saja tidak cukup Rp 500 ribu," katanya.
Tetapi ketidakpercayaan dan pengkhianatan suami bukanlah faktor utama yang membuat Nur Chomariah dendam pada Bh. Faktor utamanya justu, pelecehan Bh pada ibunya, Ny Rofiah.
"Setiap kali merasa kesal, misalnya saat melihat ibu menerima telepon dari bapak yang sedang berlayar, Bh memaki-maki ibu dengan kata-kata kotor," katanya.
Toh badai kehidupan Nur Chomariah tidak berhenti di situ. Setelah gagal memperkosa Nur Chasanah, diam-diam Bh mengincar Wahyuningsih. Adik kandung Nur Chomariah, putri H Hasan yang nomor tujuh, yang baru berusia 14 tahun.
Bahar kesengsem pada Wahyuningsing setelah meminta pijit padanya. Dengan alasan pijitannya enak. Setelah itu Bh mulai melancarkan rayuan mautnya. Kepada Wahyuningsing dan Nur Chomariah, ia mengatakan, mendapat petunjuk dari Allah untuk menikahi Wahyuningsih.
Gagasan itu tentu saja ditolak oleh Nur Chomariah dan seluruh keluarga H Hasan. Tetapi sang milyader pantang ditolak, ia tetap mendesak menikahi Wahyuningsih. Niat Bh membuat H Hasan marah. Namun ia tahu persis kalau tidak mungkin melawan kehendak Bh. Apalagi Bh telah mengancam akan menghabisi H Hasan jika menolak pinangannya. Karena sudah tidak tahan ulah menantunya, H Hasan pada Oktober 1999 lari dari rumah.

Melarikan Diri

Begitu tahu H Hasan lari, giliran Bh yang kalap. Caci maki dan ancaman menjadi santapan sehari-hari Ny Rofiah dan Nur Chomariah.
Untuk memuluskan rencanannya menikahi wahyuningsih, Bh menyekap, Nur Chomariah, Nur Chasanah, dan Wahyuningsih di kantornya. Dalam penyekapan selama satu pekan itu, Wahyuningsih diancam akan dipotong pergelangan tangannya jika menolak dikawini.
"Tanggal 14 November 1999 kami dikumpulkan. Lantas dibawa ke makam Klender. Di tempat itulah saya dinikahi Bh, tanpa penghulu atau petugas KUA, yang ada hanya anak buah Bh dan beberapa habib," kata Wahyuningsih sambil mengusap air mata.
Meski telah berhasil mempersunting Wahyuningsih, bukan berarti keluarga Nur Chomariah bisa tenteram. Bh tetap murka karena sang mertua tidak juga pulang dan menyetujui perkawinan itu.
"Tekanan yang kami terima tambah besar. Hidup seperti di neraka. Kami tidak tahu harus meminta tolong pada siapa, sementara ayah kami mengungsi," kata Nur Chomariah.
Karena tidak tahan tekanan, 10 Januari 2000, masih dalam suasana Idul Fitri mereka melakukan "pemberontakan". Pemberontakan diawali oleh Nur Chasanah yang memisahkan diri saat sedang liburan di Ancol bersama keluarga besar Bh.
Karena Bh kian berang, akhirnya Nur Chomariah memutuskan untuk beramai-ramai meninggalkan rumah mengikuyti jejak sang ayah. Yang tinggal di rumah keluarga H Hasan tinggal Hj Nasuha --ibu kandung Ny Rofiah.
Penderitaan keluarga besar H Hasan belum juga usai. Hj Nasuha, ibu H Hasan yang telah berusia sekitar 67 tahun dijemput Mat Safei. Ia diajak ke Madura untuk mencari kiai agar mereka yang lari bisa pulang kembali.
"Tidak tahunya di sana saya disiksa. Tiga hari tidak diberi makan. Saat jatuh, kepala saya diinjak-injak," kata Hj Nasuha.
Saat dianiaya di rumah Bh yang ada di Arobaya, Bangkalan, mata kaki Hj Nasuka dipukuli dengan pistol hingga retak. Saat mengerang kesakitan, bukan pertolongan yang diterima, tetapi justru injakan pada kakinya dan sabetan celurit.
"Saya sempat berupaya lari, tetapi ketahuan dan dibanting-banting," katanya sambil menahan tangis.
Kejadian itulah yang membuat H Hasan sampai di ujung kesabarannya. Ia melaporkan teror Bh pada Polda Metro Jaya. Yang dilaporkan meliputi percobaan perkosaan terhadap Nur Chasanah, memaksa kawin waninta di bawah umur, dan penyiksaan pada Hajjah Nasuha.
Dalam perkembangannya, kasus ini berhasil didamaikan Gus Wahid, kerabat Presiden Abdurrahman Wahid. Syarat perdamaian, Bh memberi ganti rugi Rp 300 juta dan tidak lagi meneror keluarga H Hasan.
Setelah perdamaian itu, Bh sempat mengundang keluarga H Hasan agar bisa rujuk kembali dengan dua istrinya. Namun permintaan itu ditolak.
"Sekitar enam kali, ayah menghadiri pertemuan dengan Bh. Dalam pertemuan itu hadir kaki tangan Bh, termasuk yang kemudian menusuk ayah saya hingga tewas saat pulang kampung di Bangkalan," kata Nur Chomariah.
Kini keluarga besar almarhum H Hasan, jumlahnya 25 orang, hidup dalam ketakutan. Mereka hidup berpindah-pindah untuk menghindari kejaran kaki tangan Bh.
"Jika saja kami mengetahui akhir ceritanya seperti ini, kami tidak mau berdamai. Karena itu, kami menuntut tanggung jawab Gus Wahid. Sekarang Gus Wahid tidak mau menerima telepon keluarga kami," kata Nur Chomariah.
Jelas tidak mudah bagi Ny Rofiah untuk menghidupi 25 anggota keluarganya yang kini hidup dalam pengungsian dan tanpa pekerjaan. Yang kini mereka harapkan, Bh bisa dijatuhi hukuman setimpal agar kehidupan mereka bisa normal lagi. (Dwi Eko Lokononto)

Nur Chomariah: Andi Bilang Syukurin Bh Ditahan

APA yang ada dalam pikiran seseorang jika 20 tahun tidak pulang kampung? Yang ada di benak tentu bukan sekadar bayangan indah masa kecil di desa. Lebih dari itu, juga rasa rindu untuk pulang.
Itulah yang dialami H Hasan. Karena itu tidak aneh, saat menerima undangan dari adiknya untuk menghadiri pesta perkawinan kerabat di Kec. Arosbaya, H Hasan tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.
Acara pulang kampung itu dia jadikan ajang reuni sekaligus memperkenalkan delapan anaknya pada kampung halaman bapaknya. Agar lebih afdol, H Hasan meminta izin Bh agar Andi --cucu buah perkawinan antara Bh dan Nur Chomariah-- ikut serta.
"Saat pamit, ayah sudah meminta agar kepulangannya ke kampung halaman tidak diganggu," kata Nur Chomariah.
Karena sudah pamit baik-baik, H Hasan tidak menaruh curiga saat Tamin datang, mengabarkan ada titipan dari Bh untuk Andi. Titipan itu, kata Tamin, akan diberikan utusan Bh di sebelah rumah tempat pesta perkawinan berlangsung.
Setiba di tempat yang ditentukan, H Hasan bersama kerabatnya bertemu dengan Ayub, kaki tangan Bh. Karena kenal, H Hasan sama sekali tidak menaruh curiga, saat Ayub mengatakan akan mengambil titipan dari dalam mobil.
Saat menanti itulah, muncul dua mobil. Ayub bersama lima pria lainnya langsung turun dengan senjata terhunus. Tanpa sempat melawan, pisau penghabisan yang di bawa Ayub menembus perut H Hasan. Tiga tusukan itu langsung membuat H Hasan tersungkur.
"Ayah tewas ditusuk di depan cucunya sendiri. Benar-benar biadab. Sekarang, meski Andi baru berusia 3,5 tahun, dia sangat benci pada ayahnya. Saat mendengar Bh ditahan, Andi bilang syukurin Bh ditahan," kata Nur Chomariah.
Kematian kepala keluarga ini tidak hanya memunculkan dendam, tetapi juga menyisakan penyesalan panjang.
"Jika saja kami menolak berdamai dengan Bh, ayah mungkin belum meninggal. Kami benar-benar menyesal," kata Nur Chomariah.
Menyusul penculikan, penyekapan, dan penyiksaan terhadap Hj Nasuha, H Hasan yang sedang dalam pengungsian tidak lagi punya rasa takut terhadap Bh. H Hasan memutuskan mengibarkan bendera perang melawan Bh dengan melapor kejahatan Bh ke Polda Metro Jaya.
Yang dilaporkan, bukan hanya kasus penculikan dan penganiayaan, tetapi juga percobaan perkosaan terhadap Nur Chasanah dan perkawinan di bawah umur yang menimpa Wahyuningsih.

Gus Wahid

Laporan itu langsung ditindaklanjuti Polda Metro. Bh saat itu langsung ditahan Ditserse Polda Metro yang saat dipimpin Kolonel Alex Bambang Riatmojo.
Belitan masalah yang dihadapi Bh ini, memunculkan beberapa tokoh yang berupaya menangguhkan penahanan Bh. Namun upaya penangguhan penahanan ini ditolak Alex Bambang Riatmojo.
Penolakan Alex itulah yang diduga telah menyebabkan Alex yang namanya sedang menanjak dipindah menjadi Kapolwil Bandung.
Selain ada yang meminta penangguhan penahanan Bh, ada juga tokoh yang muncul hendak menjadi juru damai. Salah satunya, Gus Wahid (Abdul Wahid Azis Bisri LC, adik Presiden Abdurrahman Wahid), Ketua PW NU DKI Jakarta.
"Karena menghormati dan ada jaminan dari Gus Wahid, ayah bersedia berdamai. Syarat utamanya, keluarga kami tidak lagi diteror," kata Nur Chomariah.
Selain berjanji tidak meneror, Bh juga dikenai kewajiban membayar ganti rugi Rp 300 juta. Namun ia baru memberikan Rp 100 juta.
Setelah perdamaian itu, pihak Polda Metro mengeluarkan SP3 kasus itu. Bh pun bebas kembali menghirup udara segar di luar penjara.
Namun kebebasan itu tampaknya tidak cukup. Bh tetap menginginkan rujuk dengan Nur Chomariah dan Wahyuningsih. Tetapi upaya ini ditolak.
"Kami tidak memiliki rasa cinta pada Bh. Untuk apa kawin dengan orang kaya jika hidup serasa di neraka," jelas Nur Chomariah.
Dalam usaha rujuk ini Bh sempat enam kali mengundang H Hasan untuk membicarakan pentingnya penyatuan keluarga yang sempat cerai berai. Namun karena sudah tidak lagi percaya mulut manis Bh, apalagi Nur Chomariah dan Wahyuningsih menolak rujuk, H Hasan tetap menampik niat Bh.
"Dalam enam kali pertemuan itu, kaki tangan Bh selalu hadir. Salah satu yang paling sering hadir Ayub, orang yang menusuk ayah saya. Ayub ini ke mana-mana selalu ikut Bh. Karena itu saya juga kenal," kata Nur Chomariah.
Keterlibatan Ayub dalam pembunuhan H Hasan itulah yang menyebabkan keluarga Nur Chomariah berkeyakinan ayah mereka tewas atas perintah Bh.
"Bh jelas otak di balik pembunuhan ayah saya. Karena itu kami meminta pada Gus Wahid ikut bertanggung jawab. Bagaimanapun juga kami mau berdamai karena menghormati dan ada jaminan dari Gus Wahid," kata Nur Chomariah.
Tuntutan pertanggungjawaban pada Gus Wahid, katanya, bukan hanya soal nasib 25 anggota keluarga yang kini terpaksa mengungsi dalam segala keterbatasan. Tetapi juga dukungan riil dari Gus Wahid agar Bh bisa diadili sesuai perbuatannya.
"Kami tahu, banyak orang sekarang ini yang ingin membebaskan Bh, atau paling tidak menangguhkan penahanannya. Usaha seperti itu harus dicegah. Keluarga kami bisa habis jika Bh penahanannya ditangguhkan, apalagi jika sampai lepas," kata Nur Chomariah.
Yang jadi soal, kata Nur Chomariah, sejak ayahnya tewas ditusuk Ayub, pihaknya tidak pernah bisa lagi menghubungi Gus Wahid.
"Setiap saya telepon selalu diterima orang lain. Meski sudah dititipi pesan, tidak pernah ada balasan. Kami menunggu pertanggungjawaban moral Gus Wahid," kata ibu satu anak ini.
Lepas dari ada-tidaknya dukungan dari Gus Wahid, kini keluarga almarhum H Hasan menuntut keadilan atas rangkaian teror hingga pembunuhan yang menimpa ayah mereka.
"Harapan kami cuma satu, Bh jangan sampai lolos dari jerat hukum. Karena kalau itu yang terjadi orang yang akan jadi korban akan tambah banyak. Yang terancam bukan hanya keluarga kami, tetapi juga para perawan Madura lainnya. Dia harus dihentikan," katanya berapi-api.
Drama kehidupan tiga bidadari asal Madura tampaknya masih pajang. Kita tidak tahu bagaimana akhir dari kisah ini.
Yang pasti, sekalipun Bh divonis bersalah, tantangan kehidupan yang keras masih membentang jauh di hadapan keluarga besar almarhum H Hasan. Apalagi jika Bh dinyatakan tidak bersalah. (Dwi Eko Lokononto)

atas