back
Serambi KAMPUS http://zkarnain.tripod.com/
Internet Based Life-long Learning Environment
for Maintaining Professional Vitality

Webmaster

R. Iskandar Zulkarnain
Chief Executive Editor

Informasi

PadepokanVirtual

URL

http://w3.to/padepokan
http://welcome.to/madura
http://travel.to/kampus

Surabaya Post
OPINI - Minggu, 23 Juli 00

Belajar Tanpa Bersekolah
Oleh Beni Setia

SALAH satu tokoh yang meninggalkan kesan unik dari serial "Kiki dan Komplotannya" karangan Arswendo Atmowiloto yang pernah dimuat secara bersambung di majalah Hai, adalah Si Berantakan. Mungkin prototypenya adalah sosok Shagy dari cerita kartun TV Scooby Doo. Semacam tokoh antihero dengan konteks remaja, dan karenanya menyentuh pikiran-pikiran kontroversial remaja -- dibandingkan tokoh antihero lainnya, yang lebih bersikap tawakal dan tabah dalam serial Keluarga Cemara, yang dulu dimuat serial juga sebelum kini, dikenal sebagai sinetron membumi di RCTI.
Tapi episode yang paling menarik dari si Berantakan adalah fakta ketika ia tak lulus ujian sementara kawan-kawan se-SMA-nya lulus. Segala kawannya itu mengurusinya, tapi yang diurusi cuma senyum dan mengangkat bahu model Shagy di Scooby Doo. "Bagaimana bisa nggak lulus wong nggak ujian, kok," katanya (ini kutipan berdasarkan ingatan -- penulis). Tersebarlah desas-desus bahwa ia memang tak mau mengerjakan soal ujian dan dengan tak membuat jawaban apa yang bisa dinilai? "Apakah lulus ujian harus dengan ujian?" kata si Berantakan. Maksudnya, dengan selesai belajar, apakah harus dibuktikan formal telah selesai belajar dengan ujian dan ijazah?
Di sini ada dua hal yang kemudian berkelebat. Pertama, apakah sekolah merupakan satu-satunya tempat belajar dan menandakan seseorangan telah belajar? Sekaligus, kedua, saya ingat akan seorang Emha Ainun Najib. Ketika ia kuliah di FE UGM dan harus mengikuti ujian semester, di mana ia tak lagi tahu harus menjawab apa dan belajar apa lagi sehingga ia meninggalkan kertas kosong di meja dan pergi ke luar ruangan.
Kemudian ia belajar di Malioboro dengan pamong seorang Umbu Landu Paranggi, menggeluti kesusasteraan, kebudayaan, dan hasilnya kita tahu, ia kini jadi tokoh menonjol dengan ciri yang amat dominan -- seorang yang mampu menjadikan dirinya, seorang otodidak yang lintas disiplin ilmu. Di luar itu, kembali ke Arswendo. Di episode itu cerita ringan keceriaan remaja mendadak membentur tembok hal mendasar dan kebutuhan melakukan refleksi.
Mungkin karena saat itu Arswendo sedang belajar penulisan kreatif di Iowa University -- dan kemudian meluncur karya-karya bagus macam Dua Ibu, Canting, Opera Jakarta, dan beberapa skenario dan naskah drama. Dengan kata lain, benturan dengan dinding formal dan terbukanya masa depan ilmu pengetahuan karena kunci minat pribadi dan rasa ingin tahu yang amat pribadi dan karenanya bersifat amat inovatif menjadi permasalahan pendidikan formal dan informal, sekaligus menjadi alternatif mencerdaskan diri sendiri.
Momen paling eksistensial bagi R.A. Kartini adalah ketika ia dianggap sudah dewasa dan harus melepas dunia kanak-kanak, karenanya permainan harus distop dan ia harus masuk kaputren wanita dewasa yang hanya boleh mempelajari cara bagus menjadi wanita, istri, dan ibu.
Kata dan termin dipingit menggigitnya, dan karenanya ia minta pada ayahnya diizinkan keluar dan bersekolah. Si ayah menolak. Tapi dengan bijak ia memberinya kesempatan belajar -- dengan bacaan dan korespondensi dengan tokoh-tokoh pendidikan asing yang menyebabkan ia terlatih menulis dan berargumentasi -- dan bukan bersekolah.
Lalu, apa bedanya belajar dan bersekolah? Mungkin, belajar bermakna memusatkan pada objek yang disukai/diminati, karenanya akan cenderung menonjol di satu bidang saja. Sedang sekolah adalah memberikan segala macam bidang ilmu secara serentak dan karenanya bersifat umum -- malahan kurang mendasar. Belajar (sendiri) mungkin menyebabkan seseorang tiba pada penguasaan di tingkat ahli, sedang bersekolah hanya melahirkan generalis yang siap dispesialisasi dan karenanya harus ditatar amat mendasar.
Persis seperti yang diomongkan tokoh rekaan Arswendo dalam wujud alter-ego si Berantakan, dan mungkin juga yang diputuskan seorang Emha Ainun Najib. Mungkin karena menemukan alternatif itu, R.A. Kartini rela melepas beasiswa untuk belajar di Belanda untuk H Agus Salim, dan ia terus membaca dan menulis -- bahkan mendidik anak-anak kebanyakan yang secara kurtural hanya diandaikan menjadi hamba.
Konstelasi budaya dan intelektual macam itu -- kemauan belajar sendiri, kemauan memahami dan menguasai tanpa dilekati gelar dan ritual ujian dan ketulusan di PT, kebanggaan seorang yang self mademan well -- meski di tengah pencanangan masyarakat belajar dan belajar seumur hidup, tampaknya tak ada dan tak dimiliki. Bahkan lahir semacam mental menerabas; menggondol titel dan hidup dengan kemegahan titel tanpa mau merasakan tantangan dan kenikmatan belajar menjadi mode -- terbukti adanya program singkat untuk strata S2, bahkan penyetaraan ke strata S1 dengan program belajar jarak jauh dan cara belajar mirip UT tapi tanpa dengan pengecekan-pengecekan penguasaan langkah demi langkah dari ilmu yang dipelajari.
Pendek kata, banyak dari kita lebih rela membeli gelar daripada diberi kesempatan belajar dan memahami secara detil/mendasar secara sukar. Cirinya, barangkali, kemalasan membaca, tingkat kecepatan dan pemahamannya yang memprihatinkan dari kemampuan membaca, amat rendah minat baca/bacaan, sepi dan tersia-sianya perpustakaan, terlampau gemarnya info selebritis yang rumor dan sensasional ketimbang warta ilmu.
Lantas bagaimana kita bersikap dan hidup di zaman internet? Di mana informasi tersedia pasif dan harus secara aktif dicari dan diakses? Bagaimana kita mensejajarkan diri kalau segala menuntut belajar dan belajar -- mempelajari yang ingin diketahui dan memahaminya dengan membuka sumber ilmu secara kreatif -- dan melulu tergantung pada disiplin diri yang ketat?
Saya ingat si Berantakan. Saya ingat Arswendo, Emha, bahkan D. Zawawi Imron yang tak merogoh ijazah/gelar tapi bisa mencerdaskan dan mempakarkan dirinya. Kalau saja manusia macam mereka tak segelintir tapi mencapai seperempat dari total bangsa ini, mungkin keterpurukan akan cepat selesai.

*) Penulis adalah cerpenis dan budayawan, tinggal di Madiun.

atas