back
Serambi MADURA http://zkarnain.tripod.com/
Internet Based Life-long e-Learning Environment
for Maintaining Professional Vitality

JAWA TIMUR
Kamis, 16 November 2000
Surabaya Post


Menteri Agama Minta Maaf atas Ketakaburan Departemen Agama

Bangkalan - Surabaya Post

Menteri Agama RI KH Drs Tolchah Hasan mengatakan, seharusnya pemerintah meminta maaf pada masyarakat. Sebab selama ini pemerintah kerapkali merasa lebih besar perannya dalam mengembangkan pendidikan Agama Islam, namun kenyataannya tidak seperti itu.
"Ini bisa dilihat dari berapa madrasah yang dibangun pemerintah dibanding masyarakat. Data di Depag, 90% madrasah dibangun masyarakat, sedang yang 10% didirikan pemerintah. Namun hanya dengan membangun sebagian kecil itu, gayanya seperti menguasai dunia pendidikan di Indonesia," kata Menteri, saat kunjungan di Bangkalan, Selasa (14/11).
Di Bangkalan, Menteri Agama Tolchah Hasan meresmikan Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah di Ponpes Darul Mannan, Mong Mong, Desa Glagga, Kec. Arosbaya. Dilanjut, peletakan batu pertama pembangunan Madrasah Aliyah, di Ponpes Nurul Amanah, Desa Basanah, Kec. Tanah Merah. Ikut dalam rombongan Menag, Dirjen Binbag Islam Husni Rais.
Hadir pula KH Imam Buchori Cholil (Ketua PC NU Bangkalan), KH Drs Syafik Rofii (Ketua DPRD Bangkalan), KH Nuruddin A. Rachman (Wakil Ketua PW NU Jatim).
Dia menyadari Depag mempunyai utang banyak pada masyarakat. Andaikata tidak ada madrasah, pesantren, dan sekolah yang dibangun dengan swadaya masyarakat, departemen ini tidak bisa banyak berbuat apa.
"Dibantu sekian banyak oleh masyarakat, masih banyak mengalami hambatan. Ini secara jujur harus kita akui. Terimakasih sekali dan mohon maaf bila beberapa waktu lalu, Depag sok takabur menjadi penguasa agama di Indonesia," jelas dia.
"Sekarang kita sudah tobat. Jadi Depag tidak lagi pethitha-pethithi di situ. Kita akan menempatkan diri sebagai pelayan umat," tegas mantan rektor Unisma, Malang, ini, disambut tepuk tangan yang hadir.
Menag yang tahu persis jerohan pondok pesantren merasa bangga dengan ponpes yang didalamnya ada pendidikan tsanawiyah dan aliyah, juga ada umumnya. Makanya, dia membawa bawahannya dari Jakarta, untuk mengetahui secara persis kondisi di masyarakat. "Sebab kita ingin citra Islam di Indonesia benar-benar di dasari ilmu, bukan Islam pengakuan. Yaitu ramai-ramai mengaku Islam, tetapi ilmunya sangat minim," ujarnya. (kas)