back
Serambi MADURA http://zkarnain.tripod.com/
Internet Based Life-long e-Learning Environment
for Maintaining Professional Vitality

JAWA TIMUR
Selasa, 24 Oktober 2000
Surabaya Post


Sahnaz Haque soal Pemberantasan Narkoba
Jangan Hanya Omong Saja

Bangkalan - Surabaya Post

Sahnaz Haque mengingatkan segenap elemen masyarakat jangan hanya bisa berbicara berantas narkoba, baik di seminar maupun membentangkan spanduk di pinggir-pinggir jalan.
"Jangan hanya bisa ngomong berantas narkoba, free sex, tetapi tidak pernah berbuat sesuatu. Yang penting itu semua lapisan masyarakat mulai dari tokoh, birokrat, proaktif melakukan tindakan yang bisa mencegah menjalarnya penyebaran narkoba di sekitar kita," ingat aktivis Granat (Gerakan Anti Narkotika), dalam sarasehan seks dan narkoba, dalam peringatan harlah NU ke-74, di Pendapa Kabupaten, Minggu (22/10) siang.
"Ternyata hanya beberapa orang dari sekian banyak yang tahu tentang narkoba. Kalau tidak tahu barangnya, bagaimana untuk memberantasnya, bisa dibohongi para pengedar," katanya geleng-geleng kepala.
Walau sekarang jargon-jargon untuk memerangi narkoba sudah banyak dilakukan, baik dalam seminar maupun pertemuan, namun pecandunya semakin bertambah. Kini penyebaran narkoba sudah beralih ke Indonesia. Malaysia sudah bisa ditanggulangi, karena negaranya lebih kecil, sedang Indonesia dipastikan lebih sulit dengan luas negaranya yang lebih besar.
Dia mengatakan, ada 3,4 juta orang menjadi pecandu narkoba, 60% memakai jarum suntik. Dari jumlah itu 30% terkena HIV positif. "Ini yang tercatat, mungkin jumlahnya lebih besar dari data yang saya peroleh. Tidak terdeteksinya pengguna narkoba, karena mereka menganggap aib, padahal ini musibah. Sehingga mereka sulit disembuhkan, akhirnya tewas," jelas artis keturunan Madura dari ibunya ini.
Patut diingat, kata adik kandung Marissa Haque, pemakai narkotik 99% melakukan hubungan seks bebas. Yang lebih kasihan, bila ada yang hamil hingga melahirkan bayi dengan selamat.
"Bayi tidak berdosa ini ikut kecanduan narkoba. Sehingga susu si bayi kadang diberi narkotik, karena ikut ketagihan akibat ulah orangtuanya. Yang lebih memprihatinkan lagi, bayi ini cacat misalnya tulang kepalanya tidak ada," kata artis yang mendambakan pria yang bisa membimbing, baik dunia dan akhirat dengan tidak mempedulikan rasnya.
Yang penting, lanjut Sahnaz, pemberantasan narkoba dimulai dari keluarga. Bagi ibu-ibu agar memperhatikan anak-anaknya. Bila sering meminta uang jajan lebih banyak atau menjual barang di rumah dan sudah pemurung, perlu diawasi.
Dicontohnya di Jakarta, ada anak SD yang pecandu narkoba. Bukan kehendak dia, tetapi perbuatan sindikat barang terlarang ini. Awalnya, anak diberi permen yang mengandung narkotik. Setelah ketagihan, harus membelinya dengan harga cukup mahal.
"Orangtua jangan hanya bilang, 'jangan dekat dengan narkoba'. Tetapi awasi anak dan diberi pengertian barang perusak generasi mendatang ini," ujar artis yang senang dikatakan aktivis kemanusiaan dibanding pakar seks dan narkoba ini. (kas)