back
Serambi KAMPUS http://zkarnain.tripod.com/
Internet Based Life-long Learning Environment
for Maintaining Professional Vitality

Webmaster

R. Iskandar Zulkarnain
Chief Executive Editor

Informasi

PadepokanVirtual

URL

http://w3.to/padepokan
http://welcome.to/madura
http://travel.to/kampus

KOMPAS
OPINI - Senin, 04 September 00

Peringkat Perguruan Tinggi Kita
Oleh Ali Khomsan

MENARIK sekali mencermati tulisan Prof Otto Sumarwoto (Kompas, 31/7) tentang Potret Buruk Perguruan Tinggi Kita. Dikatakan, perguruan tinggi (PT) di Indonesia yang selama ini dikenal sebagai PT top, ternyata hanya jago kandang. Ketika disandingkan dengan PT di Asia, Australia, dan Selandia Baru peringkatnya di posisi buncit. Dari 77 universitas multidisiplin, UI di urutan 61, UGM 68, Undip 73, dan Unair 75. Untuk universitas Science and Technology ITB menduduki peringkat 21 dari 39 universitas.

Insan perguruan tinggi dan masyarakat perlu memahami, universitas yang baik menurut peringkat itu belum tentu menawarkan program studi yang semuanya masuk kategori berkualitas. Sementara itu universitas yang tidak masuk peringkat tidak berarti jelek. Beberapa universitas besar seperti IPB (untuk bidang pertanian) mungkin tidak memperoleh peringkat karena tidak pernah dikirimi kuesioner dari lembaga penyusun peringkat. Demikian pula untuk universitas swasta besar seperti Universitas Trisakti atau Universitas Parahyangan.

Di Amerika Serikat peringkat universitas disusun dalam buku Gourman's Report baik untuk tingkat sarjana maupun pascasarjana. Perbedaan mendasar antara peringkat universitas versi Asiaweek (edisi 30/6/00) dan Gourman's Report adalah, Gourman's Report menyusun daftar universitas berdasar program studi. Jadi kalau kita akan belajar Human Nutrition, misalnya, kita bisa menemukan lebih dari 10 universitas yang mempunyai skor berurutan, dari yang tinggi sampai rendah. Program studi yang tidak terdaftar dalam Gourman's Report penilaiannya diserahkan kepada masyarakat.

Informasi dalam Gourman's Report lebih bermanfaat untuk masyarakat yang akan memilih universitas dibanding peringkat PT versi Asiaweek. Pada kenyataannya tidak ada universitas yang baik dalam segala ilmu. Universitas Berkeley mungkin punya nilai baik untuk program studi ilmu ekonomi, bukan untuk program studi lainnya.

Oleh karena itu, insan PT tidak perlu terlalu risau dengan penilaian peringkat universitas seperti dimuat Asiaweek. Bahwa PT di Indonesia perlu berbenah diri, itu telah disadari pimpinan PT dan staf dosen. Berkali-kali saya mendengar, ilmuwan kita tidak profesional, publikasinya terbatas pada jurnal lokal, banyak dosen bersikap seperti pedagang asongan, mengajar ke sana-kemari dan lain-lain.

***

KETIKA kita bicara masalah profesionalisme, apakah kita menyadari, kebanyakan kita tidak memperoleh insentip secara profesional. Dosen yang membimbing skripsi mahasiswa mulai dari penyusunan proposal, seminar, sampai ujian skripsi yang memakan waktu 6-12 bulan hanya memperoleh honor
Rp 50.000. Bila dosen pembimbingnya dua orang, berarti masing-masing menerima Rp 25.000. Sementara dosen penguji skripsi cukup hanya memperoleh selembar kertas bukti, dia telah menguji mahasiswa A, bukti ini lalu dikumpulkan untuk naik pangkat.

Dosen yang melakukan penelitian setiap bulan memperoleh honor Rp 350.000 selama beberapa bulan, bahkan kadang ada yang honornya cuma Rp 100.000. Ini juga wujud insentip yang tidak profesional. Prof Mochtar Buchori dalam ceramahnya pernah mengatakan honor peneliti lebih rendah daripada honor kuda tunggangan di tempat-tempat rekreasi. Karena itu, kita tidak bisa menyalahkan begitu saja bahwa penelitian dosen kurang bermutu, hasil temuannya tidak pernah disitasi ilmuwan internasional, desain atau metodenya sangat lemah dan sebagainya. Kita bisa melakukan penelitian dengan baik bila dana cukup dan gaji peneliti memadai. Bila dua syarat itu tidak terpenuhi, jangan heran bila ada dosen yang dalam setahun mengerjakan sembilan penelitian. Mutu penelitiannya wallahu a'lam.

Anggaran pendidikan menjadi kunci sentral untuk membangun universitas yang bermutu. Bagi universitas negeri, ketergantungan terhadap anggaran belanja negara cukup besar, semua gaji dosen dan pegawai berasal dari negara. Dana-dana penelitian sebagian masih mengandalkan DIP dari Dikti. Upaya mengisi perpustakaan dengan buku dan jurnal ilmiah bermutu amat tergantung ada tidaknya anggaran dari pemerintah. Karena itu, kita semua berharap-harap cemas kapan realisasi anggaran pendidikan menjadi 25 persen dari APBN.

Dosen yang baik menurut Prof Otto Sumarwoto seharusnya selalu meluangkan waktu untuk membaca literatur baru, mempersiapkan kuliah dengan baik, dan berdiskusi mendalam tentang perkembangan ilmu dan risetnya. Dikatakan juga, dosen yang mempunyai jabatan full time di luar universitas, dan datang ke kampus hanya hari Sabtu sebenarnya menjadi kurang ideal bagi sosok dosen. Memang harusnya dibuat peraturan, dosen yang memilih jabatan full time di luar universitas, dipersilakan cuti di luar tanggungan negara. Dengan demikian gajinya tidak double dan sang dosen bisa lebih berkonsentrasi pada jabatannya. Konsekuensinya, dosen itu untuk sementara juga tidak akan naik pangkat karena kum sebagai dosen tidak terpenuhi. Jabatan-jabatan di luar universitas memang memerlukan orang-orang pandai. Karena itu, universitas sebenarnya rugi bila dosen-dosennya menjadi pejabat karena berarti kehilangan dosen yang berkualitas.

Untuk saat ini kita tidak bisa menuntut agar PT di Indonesia seperti PT di luar negeri. Konon di Filipina yang kondisi sosial ekonominya mirip Indonesia, para ilmuwan dan dosennya tampak lebih profesional. University Of Philippines di Los Banos telah sejak lama menjadi universitas tujuan bagi dosen/peneliti Indonesia untuk melanjutkan studi lanjut program master atau doktor. Sebaliknya, saya tidak tahu adakah orang Filipina mau studi doktor di Indonesia. Kalaupun ada jumlahnya pasti bisa dihitung dengan jari tangan.

Kritik Prof Otto Sumarwoto bahwa sistem kum untuk kenaikan pangkat dosen bersifat disinsentip, perlu dikaji lebih lanjut. Sebagai dosen, saya merasa selama 16 tahun menggeluti profesi ini tidak menemui hambatan berarti dalam kenaikan pangkat. Bagi dosen yang kurang apik menyimpan arsip bukti kum, periode kenaikan pangkat bisa menimbulkan stres. Bila bukti kum tercecer dan berserakan, kita biasanya menjadi malas mengurus pangkat. Akhirnya peluang naik pangkat setiap dua tahun tidak dapat dimanfaatkan secara baik. Dosen yang harusnya pensiun sampai usia 65 tahun dapat mengalami pensiun dini (55 tahun), bila golongan pangkatnya hanya mencapai III/d. Ini terjadi karena dosen kurang getol mengurus kenaikan pangkat.

***

PERAN Dikti dalam meningkatkan kualitas pendidikan tinggi selama ini sudah dijalankan secara memadai. Tiga tahun lalu Dikti melakukan akreditasi program studi level sarjana. Hasilnya telah diumumkan dengan kategori A, B, dan C, sehingga dapat dijadikan acuan calon mahasiswa ketika memilih program studi. Jadi inilah Gourman's Report versi Indonesia.

Tahun 2000 ini Dikti kembali melakukan akreditasi khusus untuk level pascasarjana. Hasilnya akan segera diketahui. Program studi pascasarjana nantinya akan dikelompokkan menjadi unggul, belajar, dan tertinggal.

Selain itu tiap tiga tahun Dikti melakukan akreditasi jurnal ilmiah. Jurnal-jurnal yang telah terakreditasi merupakan media bagi dosen/peneliti untuk mempublikasikan hasil penelitiannya. Kita tidak boleh apriori, jurnal lokal selalu jelek dan yang internasional pasti baik. Jurnal internasional pun ada yang prestigious dan ada pula yang kelas biasa-biasa. Dalam hal ini saya tidak sependapat dengan Prof Otto Sumarwoto. Marilah mulai sekarang kita menghargai publikasi dosen meski tidak dimuat di jurnal internasional. Jurnal lokal yang terakreditasi oleh Dikti sudah mengindikasikan, jurnal itu bukan kelas kacang goreng.

Menarik kalau kita memperhatikan sistem rekrutmen staf pengajar. Staf pengajar yang baik akan menentukan mutu perguruan tinggi. Di luar negeri konon lowongan dosen diiklankan sehingga universitas mempunyai kesempatan memilih yang terbaik. Di Indonesia ada ketentuan tak tertulis, calon dosen disyaratkan mempunyai Indeks Prestasi (IP) >2,75. Dosen dengan IP tinggi berpeluang besar untuk studi lanjut ke program doktor. Namun, kenyataannya PT tidak cukup leluasa menerima dosen karena terkait dengan pengangkatan pegawai negeri. Banyak lulusan PT dengan indeks prestasi baik kurang tertarik menjadi dosen karena membayangkan harus menunggu SK pengangkatan pegawai negeri yang relatif lama. Kondisi ini perlu mendapat perhatian. Insan PT harus mengantisipasi agar profesi dosen dapat menarik orang-orang pintar. Kalau tidak, profesi ini akan senasib dengan jabatan guru yang kini kurang diminati orang.

Ali Khomsan, dosen Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga Fakultas Pertanian IPB.

Berita opini lainnya:

atas